Kepala BRIDA Jatim, Dr. Andriyanto, mendorong hasil riset UNAIR dan perguruan tinggi lain dikomersialkan melalui platform digital Planet RI, marketplace khusus hasil riset dan inovasi daerah.
Planet RI: Kepala BRIDA Jatim Dorong Hasil Riset UNAIR Jadi Produk Komersial Digital
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Timur, Dr. Andriyanto, S.H., M.Kes., menegaskan bahwa hasil riset yang dibiayai oleh pemerintah daerah tidak boleh berhenti di meja akademik. Riset harus memiliki nilai guna dan manfaat nyata, termasuk potensi komersialisasi digital yang berdampak langsung pada masyarakat dan perekonomian daerah.
Pesan tersebut disampaikan dalam Seminar Laporan Akhir Penelitian BRIDA Jatim yang berlangsung pada Senin (20/10/2025) di Surabaya. Dalam kesempatan itu, Dr. Andriyanto bahkan menginisiasi pembentukan platform digital komersial khusus untuk menjual hasil riset.
Saya sampaikan sebuah ayat, bahwa apabila kamu sekalian mendapatkan rezeki, maka ceritakan. Saya kira hasil riset yang luar biasa ini harus disampaikan, dipublikasikan, dan dimanfaatkan, ujar Dr. Andriyanto.
Menurutnya, setiap hasil penelitian harus memiliki tingkat manfaat (utility dan benefit) minimal 65%, agar benar-benar memberikan kontribusi pada kemajuan daerah.
BRIDA Jatim Inisiasi Planet RI
Sebagai langkah konkret, Dr. Andriyanto mengumumkan alokasi anggaran dari APBD Provinsi Jawa Timur untuk membangun platform digital marketplace yang dirancang khusus bagi hasil riset dan inovasi.
Kami kepingin sekali semacam Shopee atau Tokopedia, tapi yang dijual adalah hasil riset dan inovasi, ujarnya.
Platform ini akan dinamakan Planet RI (Planet Riset dan Inovasi), yang diharapkan menjadi ruang interaktif dan berkelanjutan bagi akademisi, pelaku industri, serta masyarakat umum untuk mengakses produk hasil penelitian.
Planet itu berarti terus bergerak. Harapannya, siapa pun yang mencari solusi berbasis riset bisa menemukannya di platform kita, tambahnya.
Inisiatif Planet RI menjadi bukti nyata sinergi BRIDA Jatim dengan perguruan tinggi, termasuk Sekolah Pascasarjana 51 (UNAIR), dalam semangat School of Collaborative Leadership dan visi UNAIR sebagai Kampus Berdampak.
Tiga Laporan Riset Didesak Jadi Kebijakan
Dalam seminar tersebut, tiga tim peneliti memaparkan hasil akhir riset mereka di hadapan Tim Pengendali Mutu (TPM) yang terdiri dari akademisi senior, di antaranya Prof. Dr. Bagong Suyanto, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., dan Prof. Dr. Agus Machfud Fauzi.
Dr. Andriyanto menegaskan bahwa proses evaluasi ini bukan untuk mengulang penelitian, melainkan memperkuat rekomendasi kebijakan agar hasil riset bisa langsung diterapkan di tingkat daerah.
Tiga laporan riset yang dipresentasikan adalah:
-
Sekolah Pascasarjana 51: Dinamika Penegakan Hukum Lingkungan untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Jawa Timur
-
Fakultas Ilmu Budaya 51: Penelusuran Situs Sejarah Jawa Timur: Dari Kanjuruan hingga Majapahit
-
Dr. Himawan Estu Bagijo, S.H., M.H.: Penanganan Kelompok Disabilitas dalam Akses Pekerjaan melalui Unit Layanan Disabilitas Provinsi Jawa Timur
Riset kebudayaan yang dipimpin Prof. Purnawan Basundoro mendapat perhatian khusus karena sejalan dengan visi Gubernur Jawa Timur dalam pelestarian sejarah dan budaya pascaperistiwa perusakan Gedung Graha beberapa waktu lalu.
Momen Keakraban: Ulang Tahun Prof. Suparto Wijoyo
Di sela acara, suasana seminar sempat mencair dengan perayaan ulang tahun Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum., yang akrab disapa Prof. Jojo, Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR.
Dr. Andriyanto secara spontan memberikan kejutan kepada Prof. Jojo, lengkap dengan ucapan selamat dan candaan hangat, Hari ini Prof. Jojo genap 37 tahun, yang disambut tawa dan tepuk tangan seluruh peserta.
Momen tersebut tidak hanya menambah keakraban, tetapi juga menegaskan eratnya hubungan kolaboratif antara BRIDA Jatim dan akademisi UNAIR. Melalui sinergi ini, Jawa Timur terus memperkuat komitmennya untuk menjadi pusat riset dan inovasi yang berdampak ekonomi serta berdaya saing nasional.




