Sekolah Pascasarjana (SPS) 51动漫 (UNAIR) terus memantapkan langkah dalam mengimplementasikan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai strategi inovatif pendidikan tinggi. Program ini dinilai menjadi terobosan penting untuk menjembatani profesional berpengalaman dan praktisi industri yang ingin melanjutkan studi tanpa harus mengulang mata kuliah yang telah dikuasai melalui pengalaman kerja.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi Penyusunan RPL Program Pascasarjana yang digelar di Gedung Putih SPS UNAIR, Selasa (16/12/2025). Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Direktur I SPS UNAIR, Prof. Dr. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., dengan menghadirkan narasumber utama pakar RPL nasional, Prof. Dr. I Made Narsa, S.E., M.Si., Ak., CA.
Misi Mengubah Mindset Pendidikan Tinggi
Dalam sambutannya, Prof. Jusuf Irianto menekankan bahwa implementasi RPL bukan sekadar penyesuaian administratif, melainkan bagian dari misi besar untuk mengubah paradigma pendidikan tinggi di Indonesia.
淚ni adalah kegiatan yang sangat mulia, sebuah terobosan dan inovasi dalam rangka merevolusi pendidikan kita, ujar Prof. Jusuf.
Ia menegaskan bahwa RPL menjadi instrumen strategis bagi Sekolah Pascasarjana untuk mengakui bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengalaman profesional, sertifikasi keahlian, pelatihan teknis, hingga prestasi kerja kini dapat diakui sebagai bagian dari capaian pembelajaran akademik dalam bentuk Satuan Kredit Semester (SKS).
Menurutnya, karakteristik mahasiswa Pascasarjana yang mayoritas telah bekerja menjadikan RPL sangat relevan untuk diterapkan secara optimal.
淢ahasiswa Sekolah Pascasarjana adalah mereka yang sudah bekerja, memiliki pengalaman, dan prestasi. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak boleh diabaikan, tegasnya.
RPL sebagai Keunggulan Kompetitif SPS UNAIR
Lebih lanjut, Prof. Jusuf Irianto menilai bahwa RPL memberikan manfaat strategis, baik bagi individu maupun institusi. Bagi profesional, RPL membuka jalur studi yang lebih efisien dan relevan, sehingga para manajer, eksekutif, dan praktisi dapat meningkatkan kualifikasi akademik tanpa mengorbankan waktu dan produktivitas kerja.
Sementara bagi institusi, RPL menjadi instrumen untuk menarik talenta terbaik dari dunia profesional ke lingkungan akademik Pascasarjana UNAIR. Kehadiran mahasiswa dengan pengalaman kerja yang kuat diyakini akan memperkaya diskursus ilmiah dan kualitas pembelajaran.
淚ni akan menjadi keunggulan Sekolah Pascasarjana untuk menarik para profesional yang sudah memiliki pengalaman yang sangat kaya, jelas Prof. Jusuf.
Menjaga Kualitas dan Integritas Implementasi RPL
Prof. Jusuf juga menegaskan bahwa tantangan utama implementasi RPL adalah menjaga konsistensi, kualitas, dan integritas proses pengakuan. Ia menekankan pentingnya standar penilaian yang objektif agar RPL tidak dipersepsikan sebagai jalur pintas dalam menempuh pendidikan tinggi.
Oleh karena itu, sosialisasi yang menghadirkan Prof. I Made Narsa sebagai narasumber dipandang krusial untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai mekanisme, tata cara, dan regulasi penyusunan RPL yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
淜ami berharap dengan sosialisasi ini, RPL dapat berjalan dengan baik, objektif, dan sesuai ketentuan yang berlaku, pungkasnya.
Langkah SPS UNAIR dalam menguatkan RPL menegaskan peran universitas sebagai jembatan antara dunia praktik dan dunia akademik. Melalui pengakuan atas pengalaman profesional sebagai sumber pembelajaran yang bernilai, UNAIR terus memperkuat posisinya sebagai kampus unggul dan berdampak dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




