Berita UNAIR Pascasarjana, Rabu 05 Maret 2023 – Banyaknya pedagang makanan pada awal Ramadhan di sejumlah titik di Kota Surabaya menjadi sinyal positif bagi ekonomi mikro. Mulai menggeliatnya aktivitas ekonomi yang dimainkan oleh warga kota ini terjadi antara lain, karena pembatasan kegiatan akibat pandemi telah ditiadakan. Momen ini pun dijadikan kesempatan warga untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik bagi perekonomian keluarga.听
Setelah sempat vakum selama kurang lebih 2 tahun akibat pandemic covid-19, bazaar-bazaar ramadhan kembali meramaikan sudut-sudut kota, hal ini dapat kita lihat di mulai dari kawasan pasar karangmenjangan, kawasan Masjid Al Akbar Surabaya, kawasan KODAM V Brawijaya, Kawasan Tunjungan Romansa, serta kawasan Tepi Jembata Suramadu, dimana sejumlah pedagang memenuhi lapak-lapaknya dengan beragam sajian hidangan yang menggugah selera untuk berbuka puasa.
Tak berhenti di perdagangan makanan dan minuman, industri busana muslim pun turut kecipratan rejeki, dilansir dari Metro TV News.com Ramadhan kali ini membawa berkah, hal ini disampaikan oleh pelaku UMKM busana muslim di jalan Sindujoyo, Gresik Kota, Kabupaten Gresik, dimana para pelaku industri kebanjiran permintaan baju muslim hingga 50 kodi per bulan dan permintaan hadir 2 pekan sebelum ramadhan datang.

Muhammad Jefri, pengrajin busana muslim mengatakan, kondisi Ramadhan 2023 sangat berbanding terbalik dengan suasana pada tahun-tahun sebelumnya. Sebab, pada saat pandemic covid 19 melanda dunia, usaha baju muslimnya sempat berhenti beroperasi. Pada Ramadhan kali ini omzet penjualannya meningkat dua kali lipat, biasanya dalam sebulan terjual hanya 10-20 kodi akan tetapi di bulan puasa ini meningkat 30 sampai 50 kodi.
Prof. Badri Munir Sukoco, Direktur Sekolah Pascasarjana UNAIR, mengulas dari sisi ekonomi saat menjadi narasumber di program Ranah Publik ( ), dirinya mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan yang memiliki potensi ekonomi bergerak dengan luar biasa, bahkan dirinya pernah berdiskusi dengan salah satu pemilik media terbesar di Indonesia yang mengatakan bahwa para produsen belanja iklan saat ramadhan bisa mencapai 40%, dari sisi ini berarti Ramadhan adalah momentum dimana ekonomi sangat bergairah.
Sebagai ilustrasi, disampaikan oleh Prof. Badri, Momen saat mudik Idul Fitri dimana dalam waktu 1-2 hari orang akan melakukan spending 500 ribu, bila dengan jumlah 50 ribu orang maka satu momentum keagamaan ini sudah mampu menyumbang 2,5 miliar, bayangkan bila Pemerintah baik pusat maupun daerah mampu mengorkestrasi acara atau kegiatan yang memberi dampak kunjungan ke daerah tersebut, anggaplah dalam Idul Fitri para pemudik/wisatawan bisa bertahan di daerah tersebut 3-4 hari, atau Pemda, Pemkab dan Pemkot setempat bekerjasama dengan seluruh elemen baik ponpes, atau pengelola wisata religi untuk menata agenda-agenda wisata yang menyedot kunjungan wisatawan, maka bisa kita kalkulasi aka nada tambahan 3,7 triliun GDP daerah tersebut.
Catatan bersama, bagaimana menjaga keberlanjutan gairah ekonomi yang terjadi ini, 淛angan sampai gairah yang terbangun ini hanya bertahan 6 minggu (saat Ramadhan dan Idul Fitri), setelah itu melandai lagi di bulan-bulan berikutnya ungkap guru besar termuda UNAIR ini. Bukankah kita (Indonesia) adalah Negara dengan penduduk mayoritas agama Islam, maka potensi yang ada harus bisa digali dan didayagunakan untuk kesejahteraan bersama dan yang utama adalah menyiapkan diri untuk menyambut ambisi kolektif bangsa, Indonesia Maju 2045听
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =
听




