Momentum peringatan Isra™ Mi™raj yang jatuh pada 16 Januari tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan tahunan. Di balik perjalanan spiritual Rasulullah Muhammad SAW, tersimpan nilai-nilai kepemimpinan yang relevan untuk menjawab krisis integritas dan tata kelola publik di era modern.
Gagasan tersebut menjadi benang merah dalam program Ranah Publik yang disiarkan Suara Muslim Radio Network, Senin (19/1/2026). Diskusi menghadirkan Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana 51¶¯Âþ (UNAIR), dengan topik Meneladani Kepemimpinan Rasulullah Muhammad SAW, dipandu oleh host Vivi Oktavia.
Pemimpin sebagai Pelayan Publik
Dalam pemaparannya, Prof. Suparto menegaskan bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW menempatkan pemimpin sebagai pelayan masyarakat, bukan sosok yang harus dilayani. Prinsip ini membalik piramida kekuasaan yang kerap disalahpahami dalam praktik politik dan birokrasi modern.
œPemimpin sejatinya adalah pelayan bagi rakyatnya. Rasulullah mengajarkan bahwa sayyidul qaumi khadimuhum, pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka. Orientasinya bukan dilayani, tetapi menyejahterakan yang dipimpin, ujar Prof. Suparto.
Nilai khadimul ummah inilah yang menurutnya mulai tergerus, ketika jabatan publik lebih dipersepsikan sebagai privilese dibanding amanah.
Integritas sebagai Fondasi Kepemimpinan
Prof. Suparto juga menekankan bahwa integritas merupakan modal utama seorang pemimpin. Jauh sebelum menerima wahyu, Rasulullah telah dikenal sebagai Al-Amin”pribadi yang terpercaya”yang mencerminkan kematangan karakter sebelum memegang otoritas publik.
œSifat amanah adalah fondasi. Tanpa kepercayaan publik, seorang pemimpin tidak memiliki legitimasi moral. Karakter personal harus selesai sebelum seseorang menduduki jabatan publik, tegasnya.
Pesan ini dinilai relevan dalam konteks tata kelola pemerintahan saat ini, ketika krisis kepercayaan publik sering kali bersumber dari lemahnya integritas personal para pemangku jabatan.
Inklusivitas dan Kecerdasan dalam Kebijakan
Diskusi juga menyoroti kecakapan Rasulullah dalam mengelola keberagaman melalui Piagam Madinah. Di tengah polarisasi sosial yang kerap terjadi, kepemimpinan yang inklusif menjadi kunci menjaga stabilitas dan persatuan.
œDalam Piagam Madinah, Rasulullah merangkul semua golongan. Kepemimpinan beliau membangun harmoni dalam keberagaman, bukan dengan cara memukul, tetapi merangkul, jelas Prof. Suparto.
Selain aspek moral, kepemimpinan juga menuntut kecerdasan (fathonah) dalam mengambil keputusan. Menurut Prof. Suparto, setiap kebijakan besar Rasulullah selalu dilandasi musyawarah dan dialog, bukan otoritarianisme.
œSeorang pemimpin harus cerdas membaca situasi dan mencari solusi kreatif di tengah krisis. Rasulullah selalu mengedepankan musyawarah sebelum mengambil keputusan besar, tambahnya.
Kepemimpinan Langit untuk Tata Kelola Bumi
Diskusi di Suara Muslim Radio Network ini menjadi refleksi bahwa peringatan Isra™ Mi™raj seharusnya dimaknai lebih luas sebagai inspirasi kepemimpinan. Kepemimpinan yang berorientasi pada nilai-nilai langit, namun tetap membumi dalam praktik tata kelola publik.
Nilai pelayanan, integritas, inklusivitas, dan kecerdasan strategis yang dicontohkan Rasulullah SAW dinilai tetap relevan untuk menjawab tantangan kepemimpinan dan kemanusiaan di era kontemporer.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




