51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

REKTOR UNAIR: “SAYA TAK MAU JADI ALUMNI, SAYA ISTIQOMAH JADI SANTRI

Spirit Belajar Sepanjang Hayat dari Haul Masyayikh PP Miftachus Sunnah

 

Berita UNAIR Pascasarjana, Selasa, 18 April 2025 “ ŽSurabaya, 17 Maret 2025 ” Suasana khidmat menyelimuti Pondok Pesantren Miftachus Sunnah saat ribuan santri, alumni, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam acara Haul Masyayikh & Halal Bi Halal Ikatan Alumni PP Islam Miftachus Sunnah. Acara yang digelar Kamis (17/3/2025) ini menjadi istimewa dengan kehadiran Prof. Dr. Moh. Nasih SE., MT., Ak.. Rektor 51¶¯Âþ (UNAIR) didampingi Prof. Dr. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum. Wakil Direktur 3 Sekolah Pascasarjana UNAIR.

 

“Di pesantren, tak ada istilah alumni. Saya tak mau jadi alumni, saya ingin istiqomah sebagai santri!” tegas Prof. Nasih. Dirinya bercerita tentang pengalamannya menimba ilmu di pesantren ini sejak 1985, saat masih menjadi mahasiswa UNAIR. KH. Miftachul Akhyar, yang juga Rais Aam PBNU disebutnya sebagai guru yang menginspirasi hidupnya dan wajah kampung Surabaya dari yang akrab dengan dunia gelap menjadi pusat peradaban Islami.

 

Dakwah Kampus & Transformasi Moral

 

Prof. Nasih mengisahkan bagaimana ajaran KH. Miftachul menginspirasinya membangun nilai “excellent with morality” di UNAIR. Hal ini dibuktikan dengan tahun ini kampusnya saat SPMB menerima 165 penghafal Al-Qur’an melalui jalur Golden Tiket, dengan insentif hafal 5 juz bebas spp 1 semester dan bebas SPP bagi yang hafal 30 juz.

 

Acara yang dihadiri ratusan alumni pesantren ini juga menjadi refleksi perjuangan KH. Miftachul Akhyar memberantas œMOLIMO” (maling, madhon, mendhem, madhat dsb) di era 80-an. “Dulu sekitar kampung ini mengerikan. Kini, jadi pusat peradaban Islam berkat keteladanan beliau,” kenang Prof. Nasih

 

Pesantren & Kampus: Sinergi Membangun Peradaban

Pidato Prof. Nasih menyiratkan pesan kuat: belajar agama tak boleh berhenti, sekalipun seseorang sudah menjadi rektor. “Saya hanya petugas para kyai. Tugas kami di UNAIR adalah melanjutkan dakwah mereka,”tandasnya.

 

Acara ditutup dengan doa bersama untuk para masyayikh dan komitmen memperkuat jejaring alumni pesantren di UNAIR. Sebuah pesan yang menggelora: “Pesantren bukan tempat lalu-lintas, tapi rumah seumur hidup. Santri tak pernah pensiun.”

Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =

AKSES CEPAT