Berita UNAIR Pascasarjana, Sabtu, 12 Oktober 2024 “ Surabaya “ 51¶¯Âþ kembali menggelar acara bertajuk Strategic Leadership pada Sabtu, 12 Oktober 2024, yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom. Acara ini menghadirkan Prof. Miftahussurur, dr., M.Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D., seorang pakar di bidang gastroenterologi dan mikrobiota dari Fakultas Kedokteran 51¶¯Âþ. Dalam kesempatan ini, Prof. Miftah mengangkat tema “Digital Leadership and Internationalization of Higher Education”, membahas pentingnya kepemimpinan digital dan strategi internasionalisasi pendidikan tinggi untuk meningkatkan daya saing universitas di tengah dinamika global.
Acara ini dibuka dengan sambutan dari Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D., yang menekankan pentingnya momen ini mengingat kesibukan beliau, terutama karena banyak agenda di luar negeri. Prof. Badri juga menyoroti visi Indonesia Emas 2045 sebagaimana tercantum dalam UU No. 59 Tahun 2024, yang mengusung visi “Nusantara Bersatu, Berdaulat, Maju, Kuat, dan Berkelanjutan.” Dalam visi tersebut, terdapat 17 arah pembangunan yang memerlukan transformasi di bidang sosial, ekonomi, dan tata kelola. Pemaparan ini menjelaskan bahwa transformasi digital bukan hanya menjadi bagian penting dari sektor pendidikan tinggi, tetapi juga sejalan dengan tujuan pembangunan nasional nomor 6, yaitu transformasi digital sebagai bagian dari transformasi ekonomi Indonesia.
Dalam pemaparannya, Prof. Miftah mengutip Upper Echelon Theory yang dikemukakan oleh Hambrick dan Mason (1984). Teori ini menyatakan bahwa keputusan pemimpin dipengaruhi oleh tiga faktor utama: pengalaman, nilai (value), dan kepribadian (personality). Ketiga faktor tersebut sangat menentukan kinerja organisasi. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin dalam era digital tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga harus mempertimbangkan tata nilai serta data-data yang ada.
Prof. Miftah menjelaskan bahwa digital leadership dapat dipahami sebagai kombinasi dari transformasi kepemimpinan dan teknologi digital.Salah satu wujud nyata dalam menghadapi globalisasi adalah melalui program internasionalisasi pendidikan. Maka, internasionalisasi harus dilakukan secara strategis dan terkoordinasi untuk memastikan bahwa kebijakan, program, dan inisiatif suatu institusi selaras dengan visi global. Dengan demikian, institusi dapat memperkuat posisinya di kancah global sekaligus menjalin hubungan internasional yang lebih luas. Program internasionalisasi ini akan mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu bekerja dalam tim yang beragam dan lintas budaya.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Prof, Miftah menegaskan bahwa institusi perlu membangun lingkungan akademik yang kuat dan berorientasi pada globalisasi. Konsep ini dikenal dengan istilah “Internationalization of Higher Education” yang berpedoman pada ACE Model for Comprehensive Education. Model ini menekankan pentingnya keselarasan dan kesiapan institusi pendidikan untuk menghadapi tantangan global secara komprehensif dan berkelanjutan.
Prof. Miftah menyoroti bahwa salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah mencapai alignment atau keselarasan dalam organisasi. Namun, ia menambahkan bahwa 51¶¯Âþ sudah menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi tantangan tersebut dan bergerak maju dalam mewujudkan kepemimpinan digital.
Untuk mencapai kepemimpinan digital yang efektif, Prof. Miftah menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang saling terhubung, yang harus bersifat fleksibel, dinamis, dan multidisiplin. Selain itu, pemimpin juga harus mampu menjadi akselerator inovasi dan memahami berbagai model bisnis yang ada.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan digital bukan sekadar penggunaan alat digital, tetapi juga mencakup kemampuan untuk menganalisis data, mengambil keputusan kreatif, mendorong inovasi, dan membangun komunikasi yang efektif. Ia menekankan bahwa kepemimpinan digital mampu meningkatkan kreativitas individu dan performa karyawan, yang pada akhirnya berdampak pada kinerja organisasi secara keseluruhan.
Dalam paparannya, Prof. Miftah menyarankan agar Indonesia belajar dari keberhasilan negara tetangga, Singapura, dalam mencapai kepemimpinan digital. Ia menjelaskan bahwa Singapura menerapkan tiga pilar utama dalam digital leadership: menentukan arah dan visi organisasi (set direction), mencapai keselarasan dan sinergi di dalam organisasi (create alignment), dan menentukan serta menjaga skala komitmen dari seluruh pihak terkait (scale commitment).
Menurut Prof. Miftah, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah menciptakan keselarasan (alignment) di dalam organisasi. Namun, ia menambahkan bahwa 51¶¯Âþ telah berhasil menunjukkan kemajuan signifikan dalam hal ini, menjadi contoh nyata bagi transformasi digital di sektor pendidikan tinggi.
Ia menyebutkan bahwa kepemimpinan digital lebih komprehensif daripada leadership transformation karena melibatkan teknologi sebagai alat untuk mengidentifikasi peluang dan mencapai tujuan organisasi.
Ia juga berbagi pengalamannya bekerja dengan Prof. Badri Munir Sukoco dalam publikasi ilmiah di 51¶¯Âþ. Menurut Prof. Miftah, langkah paling penting untuk menjadi “agent of change” adalah memastikan bahwa program-program rutin dapat dijalankan secara otomatis. “Jika pemimpin gagal mentransformasikan program tersebut, maka akan sulit untuk menjadi agen perubahan,” ujarnya.
Prof. Miftah juga menekankan bahwa pemimpin transformasional harus mampu mengambil risiko dan tidak sekadar menjadi “safety player” yang hanya mengikuti prosedur standar. Ia mencontohkan langkah agresif dan lincah (agile) yang diambil oleh Rektor 51¶¯Âþ saat pandemi COVID-19, yang lebih memilih strategi “serangan” daripada hanya bertahan.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




