Wali Kota Surabaya, Dr. Eri Cahyadi, S.T., M.T., memaparkan strategi transformasi birokrasi Surabaya di hadapan mahasiswa baru Sekolah Pascasarjana 51动漫 (UNAIR) pada kuliah perdana di Gedung ASEEC Tower, Kampus B UNAIR. Dalam sambutannya, Eri menegaskan bahwa perubahan birokrasi tidak hanya dimulai dari kepala, tetapi juga dari hati. Menurutnya, Aparatur Sipil Negara harus berani keluar dari zona nyaman dan hadir langsung di tengah masyarakat. Pemerintah, katanya, tidak perlu meminta pujian, tetapi biarkan masyarakat mengenang dari apa yang telah diperbuat.
Eri mengungkapkan tiga strategi utama dalam membangun birokrasi yang sehat dan berdampak. Pertama, memastikan setiap kebijakan dan langkah pemerintah selalu berpihak pada kepentingan publik. Pemimpin dan pejabat harus memahami kebutuhan warga secara langsung di lapangan. Kedua, meningkatkan kapabilitas pelaksanaan program agar memiliki hasil yang nyata. Ia mencontohkan pelatihan menjahit yang tidak hanya diukur dari jumlah peserta sebagai output, tetapi juga dari berapa banyak yang menjadi pengusaha sebagai outcome. Ketiga, mendapatkan dukungan dan legitimasi publik dengan melibatkan masyarakat dalam program pemerintah, seperti pembentukan Kampung Pancasila yang memadukan penanganan kemiskinan, stunting, dan risiko sosial secara real-time.
Dalam mewujudkan visi tersebut, Eri bekerja sama dengan profesor UNAIR untuk melakukan uji kompetensi bagi calon pejabat hingga kepala dinas. Proses penilaian dilakukan secara transparan bahkan disiarkan langsung di YouTube. Ia juga menerapkan sistem evaluasi kinerja berbasis capaian output dan outcome, di mana tunjangan penghasilan ASN dapat dipotong jika target tidak tercapai. Pejabat yang tidak menunjukkan kinerja memadai bahkan bisa diturunkan jabatannya.
Hasil dari transformasi birokrasi ini mulai terlihat nyata. Angka kemiskinan di Surabaya berhasil turun dari 7 persen menjadi 3,96 persen. Tingkat pengangguran terbuka menurun dari 9,6 persen menjadi 4,9 persen. Nilai SAKIP Pemerintah Kota Surabaya pun meraih predikat A, melampaui pencapaian beberapa kementerian. Bagi Eri, capaian ini membuktikan bahwa birokrasi yang sehat adalah sebuah gaya hidup organisasi yang adaptif, berani keluar dari zona nyaman, dan berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
Kuliah perdana ini turut dihadiri oleh Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan S.E., M.Si., M.Fin., serta jajaran sivitas akademika SPS UNAIR. Kehadiran mahasiswa baru diharapkan menjadi awal dari peran aktif mereka dalam membawa perubahan positif di lingkungan kerja dan masyarakat, selaras dengan semangat transformasi birokrasi yang diusung Pemerintah Kota Surabaya.
Follow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




