Berita UNAIR Pascasarjana, Selasa, 15 April 2025 “ Žâ¶ÄŽŽâ¶ÄŽDalam pidato yang mengesankan di forum pengelolaan bencana baru-baru ini, Dr. Khamarrul Azahari Razak, Direktur Disaster Preparedness and Prevention Center (DPPC) di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), menekankan pentingnya strategi pengurangan risiko bencana yang adil dan berkelanjutan. Mengambil inspirasi dari kemajuan Indonesia dalam ketahanan, khususnya pasca-tsunami Aceh, Dr.Khamarrul memaparkan visi kolaborasi untuk memperkuat tata kelola bencana dan ketahanan komunitas pada acara Guest Lecture di Sekolah Pasca Sarjana 51¶¯Âþ, Senin, 14 April 2025.
Pendekatan Indonesia terhadap ketahanan berkelanjutan, yang ditekankan dalam kerangka pengelolaan risiko bencana 2015-2045, telah menjadi acuan global. Dr. Khamarrul menyatakan, œKita harus belajar dari pengalaman Indonesia di Aceh, bagaimana kerangka regulasi, struktur kelembagaan, dan mekanisme pendanaan cepat telah menetapkan norma baru untuk pengelolaan bencana. Ia memuji tinjauan tengah periode Indonesia tentang sistem peringatan dini, yang mengintegrasikan pengelolaan data multi-pihak, sebagai model untuk kerja sama regional.
Proyek penelitian bersama antara UTM dan Unair sedang menyelidiki kapasitas regional dan kebutuhan tata kelola adaptif untuk memperkuat ketahanan kelembagaan. Proyek ini juga mengeksplorasi pendekatan berpikir sistem untuk pembangunan komunitas yang adil dan bertujuan mengembangkan rekomendasi pengurangan risiko bencana yang dapat ditindaklanjuti. œKolaborasi ini adalah langkah menuju solusi transdisipliner, kata Dr. Khamarrul, menekankan kemitraan dengan akademisi, masyarakat sipil, dan sektor swasta.
Malaysia, yang berada di peringkat 12 dunia untuk paparan bencana, menghadapi tantangan besar dengan 13,4% wilayahnya rawan banjir dan 32% populasinya rentan. Urbanisasi cepat, perubahan penggunaan lahan, dan krisis iklim memperburuk risiko ini, menyebabkan kerugian ekonomi dan tekanan pada sumber daya. Untuk mengatasinya, UTM sedang mengembangkan penilaian dampak risiko bencana dan mengeksplorasi pendekatan risiko sistemik untuk memitigasi ancaman di masa depan.
Dr. Khamarrul menegaskan pentingnya tata kelola risiko yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dan lintas sektoral, di samping penilaian risiko yang kuat menggunakan data dan kriteria yang beragam. Ia juga menyoroti komunikasi risiko melalui berbagai platform dan sumber, serta kebutuhan akan investasi risiko multidimensional. œBencana meningkat setiap tahun, tetapi dengan pengelolaan dan strategi yang lebih baik, kita dapat memitigasi dampaknya, ujarnya.
Forum ini juga menyoroti kolaborasi Malaysia dengan Sri Lanka dan Inggris untuk meningkatkan komunikasi risiko, aspek penting yang sering diabaikan dalam pengelolaan bencana. Dr. Khamarrul menyampaikan antusiasmenya untuk belajar dari keahlian lokal Surabaya, seraya berkata, œKami sangat senang mengeksplorasi kemitraan di sini dan mengidentifikasi peluang untuk pertumbuhan bersama.
Karena bencana secara tidak proporsional memengaruhi daerah terpencil, Dr. Khamarrul menyerukan dukungan lokal untuk memperkuat tata kelola wilayah rentan. Rekomendasi utamanya, pendekatan transdisipliner, bertujuan mengubah risiko menjadi ketahanan dengan menyatukan berbagai pemangku kepentingan. Visi ini sejalan dengan tujuan pengelolaan bencana ASEAN 2025, menempatkan Malaysia dan Indonesia sebagai pemimpin dalam membangun masa depan yang tangguh.
Žâ¶ÄŽFollow Sosial Media Sekolah Pascasarjana Unair =




