51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Biofeedback Haptik dalam Meningkatkan Ergonomi dan Mencegah Gangguan Muskuloskeletal

Ilustrasi Biofeedback (Foto: Pusat NeuroWellness)
Ilustrasi Biofeedback (Foto: Pusat NeuroWellness)

Mengukur postur kerja pekerja di berbagai lingkungan kerja sangat penting untuk mengevaluasi dan mencegah masalah kelebihan beban biomekanik di tempat kerja. Ergonomi dalam hal ini mencoba mengatasi masalah bagaimana menurunkan risiko WRMSD (Work-related musculoskeletal disorders) atau Gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan dengan mengambil tindakan pencegahan yang tepat. Gangguan muskuloskeletal mencakup berbagai cedera atau kelainan yang memengaruhi otot, saraf, tendon, sendi, tulang rawan, dan cakram tulang belakang.

Di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit Musculoskeletal Disorders (MSDs) yang pernah didiagnosis oleh tenaga kesehatan yaitu 11,9% dan berdasarkan diagnosis atau gejala yaitu 24,7% (DOL, 2015). Pada tahun 2015, Health and Safety Authority (HSA) menyebutkan bahwa angka Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang terjadi pada tahun 2012 menumpa 27,1 dari 1000 pekerja. Berdasarkan jumlah kasus yang tercatat, diketahui bahwa sekitar 32% nya adalah kasus cedera muskuloskeletal akibat aktivitas kerja seperti mengangkat beban (43%).

Untuk memprediksi risiko ergonomis, beberapa metode pendekatan telah diteliti oleh banyak peneliti, salah satunya adalah biofeedback heptik. Teknik ini adalah penggunakan sensasi sentuhan (haptic) untuk memberikan umpan balik (feedback) secara waktu nyata kepada pengguna tentang kondisi fisiologis mereka. Strategi biofeedback haptik dalam penelitian berfokus pada cara mentransmisikan isyarat haptik, termasuk informasi yang dikirimkan, intensitas yang dikaitkan dengan kesalahan postur, dan kapan biofeedback diaktifkan.

Dalam penelitian biofeedback haptik, teknologi seperti Microsoft Kinect dan unit pengukuran inersia (Inertial Measurement Units / IMU) digunakan untuk merekam pergerakan tubuh pengguna. IMU adalah perangkat elektronik yangmengukur dan melaporkan kecepatan, orientasi, dan gaya gravitasidari suatu benda. Perangkat ini biasanya terdiri dari kombinasi sensor akselerometer (pengukur percepatan linier), Giroskop ( pengukur rotasi terhadap tiga sumbu), dan Magnetometer (pengukur medan magnet bumi).

Semua penelitian biofeedback haptik yang menggunakan IMU (Unit Pengukuran Inersia) memanfaatkan akselerometer 3 sumbu dan giroskop 3 sumbu, atau kombinasinya dengan magnetometer 3 sumbu. Jumlah dan lokasi sensor bervariasi. Beberapa penelitian menggunakan sistem komersial seperti Xsens MVN Awinda, yang memiliki 17 sensor nirkabel dan disematkan dalam setelan jas. IMU juga diintegrasikan ke dalam alat pelindung diri (APD) seperti pakaian pintar untuk berbagai keperluan, seperti menyematkan sensor, aktuator, dan perangkat keras lainnya.

Informasi pergerakan tubuh yang ditangkap IMU kemudian digunakan untuk memberikan umpan balik sentuhan kepada pengguna, seperti getaran, yang membantu mereka menyadari postur tubuh mereka saat itu. Umpan balik ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran postur tubuh dan mendorong pengguna untuk memperbaiki postur mereka, sehingga mengurangi risiko WRMSD.

Apakah Biofeedback Terbukti Efektif dalam Koreksi Postur?

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa biofeedback adalah alat yang menjanjikan untuk intervensi ergonomis, dalam pelatihan teknik kerja, dan dalam desain kerja dan tempat kerja, meningkatkan kesadaran akan situasi kerja yang berisiko, sekaligus mengurangi kebutuhan akan pelatih terampil dan ahli ergonomi.

Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh pekerja selama menjalankan tugas merupakan sumber nyata dari biofeedback intrinsik dalam mengubah teknik kerja dan desain tempat kerja, biofeedback haptik dapat menjadi saluran masukan yang lebih kuat, terutama bagi individu yang merasa tidak atau tidak merasa nyaman. ketidaknyamanan yang lemah.

Meskipun satu penelitian menunjukkan bahwa biofeedback haptik dapat membantu memperbaiki postur tubuh dalam jangka pendek, efek positif ini tampaknya tidak bertahan lama. Peserta yang memperbaiki postur tubuh mereka selama satu jam dengan biofeedback kembali ke postur tubuh awal mereka saat biofeedback dihentikan, yang mungkin menunjukkan bahwa pelatihan biofeedback harus berlangsung lebih lama. Namun, biofeedback jangka panjang dapat meningkatkan risiko pengguna mengabaikan sistem biofeedback intrinsik tubuh, sehingga menimbulkan ketergantungan ekstrinsik

Selain itu, biofeedback vibrotaktil dapat menyebabkan adaptasi saluran reseptif, yang mengakibatkan penurunan sensitivitas sentuhan setelah penerapan stimulus, bahkan setelah stimulus dihentikan. Situasi tidak diinginkan lainnya yang mungkin timbul adalah risiko memburuknya ergonomi beberapa bagian tubuh sekaligus memperbaikinya pada bagian tubuh target, meskipun hal ini dapat diatasi dengan memantau segmen tubuh lainnya.

Kesimpulan

Menarik untuk dicatat bahwa terdapat bukti yang menunjukkan bahwa biofeedback haptik efektif dalam membantu mengoreksi postur tubuh. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa efeknya mungkin tidak berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dan ada beberapa risiko terkait penggunaan berlebihan.

Walaupun demikian, biofeedback haptik berpotensi menjadi alat yang efektif untuk membantu pekerja menjaga postur tubuh yang baik dan mencegah gangguan muskuloskeletal terkait pekerjaan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami batasan dan risikonya dengan lebih baik.

Penulis: Sheilla Ramadhania Aulia Putri

AKSES CEPAT