Akuakultur merupakan aktivitas budidaya ikan yang erat kaitannya dengan pengelolaan kehidupan ikan untuk mencapai tujuan tertentu, salah satunya menjaga kondisi kesehatan ikan agar tetap optimal. Salah satu tantangan utama dalam budidaya adalah meningkatnya kadar amonia di perairan, yang umumnya berasal dari sisa metabolisme ikan, pakan yang tidak termakan, serta bahan organik yang tidak terurai secara sempurna. Kadar amonia yang tinggi dapat menimbulkan stres oksidatif, kerusakan organ, bahkan berujung pada kematian ikan. Paparan amonia memicu terbentuknya spesies oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species/ROS), atau yang dikenal sebagai radikal bebas. Akumulasi ROS dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan, serta berdampak serius pada organ vital seperti insang, ginjal, dan hati. Insang dapat mengalami degenerasi dan perdarahan, sedangkan hati menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti piknosis, pembesaran inti sel, serta vakuolisasi.
Upaya penanggulangan terhadap dampak buruk amonia umumnya dilakukan melalui pengelolaan kualitas air. Namun demikian, pendekatan alternatif melalui pemberian fitobiotik mulai banyak dikaji sebagai solusi alami yang efektif dalam meningkatkan ketahanan ikan terhadap stres, khususnya stres oksidatif. Salah satu fitobiotik yang memiliki potensi besar adalah daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas). Daun ini mengandung senyawa fenolik seperti flavonoid dan antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Senyawa tersebut berperan penting dalam melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas, meningkatkan sistem imun, serta mendukung kelangsungan hidup ikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun ubi jalar ungu dapat memperbaiki profil hematologi ikan nila serta menurunkan tingkat stres oksidatif pada ikan lele. Penelitian terbaru menunjukan pengaruh suplementasi ekstrak daun ubi jalar selama 40 hari terhadap histopatologi organ ginjal, hati, dan insang pada ikan dewa (Neolissochilus soroides) yang dipaparkan dengan NH鈧凜l sebagai sumber amonia. Hasilnya menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak secara signifikan meningkatkan jumlah sel normal pada organ hati dan ginjal dibandingkan dengan kelompok kontrol. Suplementasi dengan dosis 5% dan 7,5% juga terbukti secara signifikan mengurangi kerusakan sel, termasuk nekrosis, yang disebabkan oleh paparan amonia.
Kandungan flavonoid dan antosianin dalam daun ubi jalar berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam mengurangi stres oksidatif. Flavonoid sebagai antioksidan non-enzimatik dapat menyerap ROS, mengaktifkan enzim antioksidan, serta menghambat aktivitas oksidase. Di sisi lain, antosianin turut berperan dalam meningkatkan jumlah sel monosit yang berfungsi membersihkan debris akibat nekrosis jaringan dan peradangan. Dengan meningkatnya aktivitas monosit, proses regenerasi jaringan menjadi lebih cepat sehingga mempercepat pembentukan sel-sel baru yang sehat untuk menggantikan sel-sel yang rusak. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun ubi jalar ungu mampu meningkatkan jumlah sel normal pada organ hati dan ginjal, serta secara signifikan mengurangi kerusakan sel akibat paparan stres amonia dari NH鈧凜l. Dengan demikian, suplementasi ekstrak daun ubi jalar ungu memberikan efek protektif terhadap kerusakan organ pada ikan dewa (Neolissochilus soroides) yang terpapar amonia. Pemberian ekstrak ini berkontribusi dalam mempertahankan integritas sel dan menekan tingkat kerusakan jaringan, sehingga berpotensi menjadi strategi alami dalam menjaga kesehatan ikan di lingkungan budidaya yang rentan terhadap akumulasi amonia.
Oleh: Suciyono, S.St.Pi., MP.
Sumber: Suciyono, S., Budi, D. S., Kenconojati, H., Sari, A. A., Anggreani, S. F., Lamadi, A., … & Imlani, A. H. (2025). Effect of Purple Sweet Potato Leaf Extract Supplementation on the Histopathology of Gills, Liver, and Kidneys in Neolissochilus soroides Exposed to Ammonia as a Stressor. Egyptian Journal of Aquatic Biology and Fisheries, 29(2), 953-965.
Link:





