51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Ekstrak Alergen Udang sebagai Agen Imunoterapi Food Allergy

Foto by JYB MEDIA

Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang diakui sebagai beban kesehatan masyarakat, khususnya pada negara berkembang. Prevalensi secara global cukup tinggi dan meningkat tiap dekadenya. Hingga saat ini, khususnya di Indonesia, belum terdapat obat yang ditujukan mencegah terjadinya reaksi alergi makanan. Obat-obat yang digunakan umumnya bersifat simptomatis. Penggunaan obat yang bersifat simptomatis tersebut perlu diwaspadai efek sampingnya dan perlu penggunaan berulang mengikuti kejadian alergi. Untuk itu dibutuhkan strategi terapi alergi yang bersifat kausatif dan/atau memberikan efek proteksi/toleransi terhadap paparan alergen dalam jangka panjang.

Ekstrak allergen udang sebagai Allergen-specific immunotherapy (AIT) merupakan satu-satunya terapi yang memodifikasi penyakit alergi melalui induksi toleransi atau desensitisasi imun alergen-spesifik. Penggunaan imunoterapi berbasis alergen direkomendasikan kepada pasien alergi sebagai alternatif terapi alergi untuk pengobatan jangka panjang. Namun ekstrak alergen dari sumber yang sama tetapi diproduksi oleh produsen yang berbeda dapat memiliki kandungan dan potensi yang sangat berbeda juga. Oleh karena itu, pada penelitian ini mengevaluasi efektivitas ekstrak alergen udang (Shrimp Allergenic Extract / SAE) yang sedang dikembangkan di Indonesia pada model mencit gastrointestinal alergi. Pendekatan yang digunakan untuk mengamati efektivitas SAE meliputi gejala alergi sistemik, konsentrasi serum IgE dan IgG2a, rasio konsentrasi serum IgE/IgG2a, dan ekspresi mRNA IL-5 dan IL-10 pada ileum model mencit.

Hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian SAE mampu meningkatkan skor gejala alergi sistemik pada fase sensitisasi dan menurun pada fase imunoterapi. Temuan ini sejalan dengan konsentrasi serum IgE dan rasio konsentrasi serum IgE/IgG2a, yang menunjukkan terjadinya kenaikan pada kelompok kontrol negatif (kelompok yang disensitisasi SAE tanpa mendapatkan imunoterapi SAE) dan penurunan pada kelompok imunoterapi dosis tinggi dan sedang namun tidak pada kelompok imunoterapi dosis rendah. Selain itu peningkatan IgG2a juga hanya didapatkan pada kelompok imunoterapi dosis tinggi. Hal-hal tersebut mengindikasikan bahwa perubahan respon imun humoral akibat alergi udang dipengaruhi oleh dosis imunoterapi SAE, terutama dosis tinggi, dan cenderung bersifat dose-dependent.

Adapun pengamatan respon imun selular melalui pengukuran ekspresi mRNA IL-5 dan IL-10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi mRNA IL-5 didapatkan pada kelompok kontrol negatif dan penurunan ekspresinya didapatkan pada kelompok imunoterapi dosis tinggi, sedang, dan rendah. Sedangkan pada pengamatan ekspresi mRNA IL-10, peningkatan ekspresi mRNA IL-10 secara signifikan hanya didapatkan pada kelompok imunoterapi dosis tinggi. Hal-hal tersebut mengindikasikan bahwa perubahan respon imun selular akibat alergi udang dipengaruhi oleh dosis imunoterapi SAE, terutama dosis tinggi, dan cenderung bersifat dose-dependent.

Secara keseluruhan, pemberian ekstrak allergen SAE yang dikembangkan di Indonesia pada penelitian ini memiliki efektivitas yang baik sebagai agen diagnostik maupun imunoterapi. Efektivitas SAE sebagai agen diagnostik dapat dilihat dari peningkatan skor gejala alergi sistemik, konsentrasi serum IgE, rasio konsentrasi serum IgE/IgG2a, dan ekspresi mRNA IL-5 pada ileum dari kelompok mencit yang disensitisasi SAE tanpa mendapat imunoterapi. Sedangkan efektivitas SAE sebagai agen imunoterapi dapat dilihat dari penurunan skor gejala alergi sistemik, penurunan konsentrasi serum IgE, rasio konsentrasi serum IgE/IgG2a, dan ekspresi mRNA IL-5 pada ileum, serta peningkatan ekspresi mRNA IL-10 pada ileum.

Penulis: Junaidi Khotib

Laman:

Judul: Effectiveness of shrimp allergenic extract as an immunotherapy agent in mice  model in gastrointestinal allergy

AKSES CEPAT