51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Potensi Flavonoid dalam Ekstrak Bunga Rosella sebagai Bahan Obat Antibakteri

Ilustrasi Bunga Rosella (foto: dok istimewa)

Meningkatnya resistensi bakteri terhadap antibiotika merupakan ancaman serius bagi kesehatan dunia karena resistensi berdampak pada bidang pengobatan, terutama mempersulit keberhasilan terapi klinik. Kasus resistensi bakteri yang banyak dijumpai saat ini dan menjadi endemik di rumah sakit seluruh dunia, termasuk Indonesia, disebabkan oleh bakteri patogen Staphylococcus aureus yang resisten terhadap methicillin (MRSA). Oleh karena itu  penemuan antibiotika baru yang dapat menghambat bakteri MRSA sangat penting dalam bidang pengembangan obat baru. Resistensi terhadap methicillin disebabkan oleh perubahan struktur kimia enzim yang berfungsi dalam sintesis dinding sel bakteri, yang disebut Penicillin-Binding Protein (PBP) menjadi PBP2a akibat mutase. Berbeda dengan PBP alami, PBP2a mutan tidak dapat diikat oleh methicillin sehingga sintesis dinding sel bakteri MRSA tetap berjalan normal dan bakteri terus tumbuh. Dewasa ini PBP2a dijadikan target utama dalam rancangan obat baru kelompok antibiotika β-laktam seperti penisilin, sefalosporin, dan karbapenem. 

Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan penelitian untuk menemukan metabolit asal tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri. Bunga tanaman rosella yang mempunyai nama latin Hibiscus sabdariffa L. dikenal mempunyai banyak khasiat farmakologi, salah satunya sebagai antibakteri. Ekstrak air kelopak bunga rosella mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan Klebsiella pneumoniae. Zat aktif dalam ekstrak bunga rosella yang menghambat pertumbuhan S. aureus adalah golongan flavonoid antara lain: kuersetin-3-glikosida dan kaempferol-3-glikosida, mirisetin, dan asam klorogenat

Penelitian lain membuktikan bahwa ekstrak bunga rosella mampu menghambat pertumbuhan bakteri resisten, yaitu MRSA, dalam kadar rendah 112-144 mikrogram/mL. Dengan demikian, perlu digali lebih lanjut senyawa apa dalam ekstrak air bunga rosella yang dapat membunuh bakteri MRSA. Struktur kimia flavonoid terdiri dari dua cincin benzena (A dan B) yang dihubungkan dengan cincin C; pada setiap cincin terdapat gugus hidroksi (OH) fenolik yang dianggap berperan menimbulkan aktivitas anti-MRSA. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa flavonoid, seperti kuersetin dan glikosidanya, asam protokatekuat, mirisetin, dan glikosida kaempferol dapat menghambat pertumbuhan strain MRSA. Untuk mengevaluasi senyawa apa dalam ekstrak bunga rosella yang berperan menghasilkan efek terhadap MRSA, dilakukan uji antibakteri secara in vitro pada inokulum sel bakteri MRSA, yang dilanjutkan dengan uji in silico untuk menentukan potensi penghambatan oleh dua belas (12) flavonoid dalam ekstrak terhadap targetnya, yaitu PBP2a dari S.aureus, menggunakan metode docking molekul dengan program komputer Autodock 4.2.6 dan program-program pendukung seperti ChemOffice 19.1, Discovery Studio Visualizer, dan IBM SPSS Statistics 24.

Hasil penelitian membuktikan ekstrak rosella memang menghambat MRSA dengan MIC 2,5%. Flavonoid yang menghasilkan afinitas pengikatan tinggi terhadap PBP2a adalah kaempferol-3-rutinosida, dengan parameter energi bebas pengikatan G= -7,33 kkal/mol. Afinitas ikatan ini mendekati kemampuan seftobiprol, suatu antibiotika β-laktam yang mampu menghambat PBP2a pada MRSA (G= -8,73 kkal/mol). Berdasarkan studi quantitative structure-activity relationship (QSAR), aspek struktur kimia yang memberikan andil pada pengikatan PBP2a oleh 12 flavonoid tersebut adalah ukuran molekul (CMR) dan energi molekul dalam geometri optimal (Etotal). Disimpulkan bahwa kaempferol-3-rutinosida adalah flavonoid utama dalam H. sabdariffa yang potensial sebagai penghambat PBP2a dan direkomendasikan untuk dikembangkan secara semisintetik dalam menghasilkan obat yang bermanfaat dalam penanggulangan infeksi bakteri yang resisten.

Penulis : Nuzul Wahyuning Diyah

Penelitian tentang potensi flavonoid dalam bunga rosella ini dimuat dalam Jurnal Science and Technology Indonesia, Technol Res. 2024; 9(2): 487“493. Tautan:

AKSES CEPAT