Antibiotik adalah senyawa aktif yang dihasilkan oleh mikroba dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi penyebab penyakit (patogen). Banyak peneliti di dunia berupaya untuk mencari sumber antibiotik baru dengan cara mengeksplorasi agen penghasil antibiotik dari berbagai tempat. Antibiotik dapat diperoleh baik dengan cara disintesis dari bahan kimia maupun yang secara alami dihasilkan oleh mikroba. Organisme penghasil antibiotik dapat berupa jamur, bakteri dan Actinomycetes, namun sebagian besar antibiotik diisolasi dari beberapa spesies Actinomycetes. Actinomycetes merupakan bakteri berfilamen, dan yang sering dijumpai di alam adalah dari genus Streptomyces dan Actinomyces. Sebagian besar Actinomycetes menunjukkan sifat kaya akan metabolit sekunder yang secara biologis dapat digunakan sebagai agen antimikroba. Antibiotik yang dihasilkan oleh Actinomycetes mencapai 75% dari keseluruhan produk antibiotik yang telah dikenal (Nurkanto et al., 2008).
Penelitian eksplorasi Actinomycetes telah dilakukan di mangrove center Jenu Tuban. Hutan mangrove Tuban terletak di kawasan pantai Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Kawasan hutan mangrove merupakan kawasan dengan ekosistem yang unik dan khas dengan kekayaan alam yang di dalamnya terdapat potensi besar bagi kepentingan manusia. Hutan dengan ekosistem mangrove menempati habitat pasang surut di pantai-pantai terlindung di daerah tropis dan subtropis, sedangkan kondisi tanah dalam kawasan hutan mangrove bervariasi antara lumpur, lempung, gambut dan pasir. Dari sudut ekologis, hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat unik dan merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat potensial karena di kawasan hutan mangrove terpadu unsur fisik, biologis daratan dan lautan, sehingga menciptakan keterlibatan suatu ekosistem yang komplek antara ekosistem laut dan ekosistem daratan.
Fatimah dkk., (2020) telah berhasil mengisolasi dan menguji aktivitas 4 isolat Actinomycetes sebagai penghasil antimikroba yang diperoleh dari tanah mangrove Jenu Tuban. Keempat Actinomycetes tersebut memiliki kemampuan menghambat bakteri patogen Escherichia coli. Dua isolat, LIB.2 dan LIA4, teridentifikasi sebagai Streptomyces (Gambar 1A dan 1B) dan dua yang lainnya LIA9 dan LIA10 (Gambar 1C dan 1D) sebagai Nocardia. Keempat isolat secara mikroskopis ditampilkan pada Gambar 2 di bawah ini.
Isolat LIB2 merupakan isolat yang paling tinggi potensinya dalam menghambat pertumbuhan E.coli. LIB2 teridentifikasi sebagai Streptomyces griceus. Antibiotik yang dihasilkan oleh genus Streptomyces pada umumnya adalah streptomycin yang dihasilkan oleh S. griceus dapat menghambat sebagian besar bakteri Gram negatif. Spectinomycin yang diproduksi oleh genus Streptomyces spp. dapat menghambat bakteri Mycobacterium tuberculosis. Neomicin yang dihasilkan oleh S. fradiae dapat menghasilkan antibiotik dengan spektrum luas. Tetracycline dihasilkan oleh S. aurefaciens dapat menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif dengan spektrum luas seperti Ricketsias. Erhytromycin yang dihasilkan oleh S. erithreus dapat menghambat bakteri Gram negatif. Kloramfenikol yang dihasilkan oleh S. venezuelae dapat memiliki antibiotik dengan spektrum sempit, dan masih banyak lagi antibiotik yang dihasilkan oleh streptomyces. Lebih dari 60 jenis antibiotik dihasilkan dari genus Streptomyces (Nurkanto et al., 2008).
Streptomyces griceus LIB.2 memiliki aktivitas antimikroba, namun tidak sebanding dengan antibiotik yang beredar di pasaran, sehingga untuk dapat diaplikasikan maka diperlukan upaya untuk melakukan optimasi produksi serta pemurnian antibiotik yang dihasilkan.
Penulis: Dr. Fatimah, S.Si., M.Kes.
Link:https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-85132249988&doi=10.13057%2fbiodiv%2fd230622&partnerID=40&md5=3d1db0a1534d8c32c59de85c0f83436e





