Dampak pencemaran lingkungan perairan akibat pestisida telah menjadi perhatian utama dalam dunia perikanan budidaya. Salah satu zat kimia yang sering digunakan dalam pertanian dan dapat mencemari perairan adalah pestisida berbahan aktif methomyl. Pestisida ini dikenal sebagai zat yang berspektrum luas dalam mengendalikan hama, namun sayangnya juga telah dibuktikan mampu menimbulkan kerusakan pada DNA organisme non-target, termasuk ikan air tawar seperti ikan nila. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Brawijaya, 51动漫, Universiti Malaya, dan Universitas Diponegoro berhasil mengungkap potensi alami dari rumput laut merah (Gracilaria sp.) sebagai agen pelindung dari kerusakan genetik akibat pestisida tersebut.
Dalam studi ini, ikan nila telah digunakan sebagai hewan uji untuk mengetahui dampak dari paparan pestisida methomyl dan perlindungan yang dapat diberikan oleh ekstrak Gracilaria sp.. Sebelumnya, ikan-ikan tersebut dipaparkan selama 96 jam dalam akuarium yang telah ditambahkan pestisida, dan kemudian dipindahkan ke akuarium yang mengandung larutan ekstrak rumput laut merah dalam berbagai konsentrasi.
Ekstrak rumput laut telah dihasilkan melalui proses perendaman, pengeringan, dan ekstraksi menggunakan etanol. Setelah itu, senyawa aktifnya dianalisis menggunakan metode kromatografi gas搒pektrometri massa (GC-MS), yang merupakan teknik canggih untuk mengetahui kandungan kimia suatu bahan. Dalam ekstrak tersebut, telah diidentifikasi sejumlah senyawa bioaktif seperti heptadekana, neofitadina, asam heksadekanoat, asam oleat, dan asam adipat. Seluruh senyawa ini diketahui memiliki aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi yang kuat.
Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa berbagai senyawa penting seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, tanin, steroid, kumarin, dan fitosteroid telah terkandung dalam ekstrak tersebut. Senyawa-senyawa ini telah dikenal dalam dunia farmakologi sebagai bahan aktif yang berperan dalam mencegah kerusakan sel, melawan infeksi, bahkan menghambat pertumbuhan sel kanker. Keberadaan senyawa flavonoid secara khusus telah diketahui berperan besar dalam meningkatkan aktivitas antioksidan dan memicu kematian sel yang rusak atau berpotensi kanker melalui mekanisme apoptosis.
Aktivitas antioksidan ekstrak Gracilaria sp. telah diuji menggunakan metode DPPH dan terbukti bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin besar kemampuannya dalam menetralkan radikal bebas. Nilai IC鈧呪個 yang diperoleh dari ekstrak rumput laut merah menunjukkan bahwa potensi antioksidannya tergolong sangat kuat. Aktivitas ini berperan penting dalam menangkal stres oksidatif yang menjadi salah satu pemicu utama kerusakan DNA pada organisme akuatik akibat kontaminan kimia seperti methomyl.
Pada tahap pengujian genotoksisitas, pengamatan dilakukan terhadap pembentukan mikronukleus dalam eritrosit atau sel darah merah ikan nila. Mikronukleus merupakan indikator adanya kerusakan kromosom yang umumnya terjadi akibat paparan zat mutagenik seperti pestisida. Dalam penelitian ini, peningkatan frekuensi mikronukleus telah diamati secara signifikan pada ikan yang hanya dipaparkan pestisida tanpa perlakuan lanjutan. Namun, setelah ikan tersebut dipindahkan ke media yang mengandung ekstrak Gracilaria sp., jumlah mikronukleus dalam sel darah merah mengalami penurunan drastis secara bertahap sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak.
Dengan demikian, ekstrak rumput laut merah terbukti memiliki aktivitas antigenotoksik, yaitu kemampuan untuk mencegah atau memperbaiki kerusakan genetik. Hal ini disebabkan oleh kemampuan senyawa-senyawa bioaktif dalam rumput laut, khususnya flavonoid, dalam mendukung proses regenerasi sel darah, melindungi struktur membran sel, dan merangsang pembentukan eritrosit baru di sumsum tulang.
Temuan ini tidak hanya memperkuat bukti mengenai manfaat konsumsi rumput laut bagi kesehatan, tetapi juga membuka peluang besar dalam penerapan ekstrak rumput laut sebagai suplemen alami dalam sistem budidaya perikanan. Dengan pemanfaatan Gracilaria sp., kerugian akibat paparan pestisida dalam kegiatan budidaya dapat diminimalkan, dan kesehatan ikan peliharaan dapat lebih terjaga secara alami tanpa ketergantungan pada bahan kimia sintetis.
Penelitian ini telah memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pendekatan ramah lingkungan dalam menghadapi tantangan pencemaran perairan. Dengan pendekatan ini, rumput laut merah dapat diposisikan sebagai agen biopelindung alami dalam sistem akuakultur berkelanjutan yang semakin diperlukan di masa depan.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.





