Malaria adalah salah satu penyakit menular yang paling mematikan dengan kasus global yang mencakup berbagai kelompok usia. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2020, malaria merupakan penyakit endemis di >50 negara, termasuk Indonesia. Malaria disebabkan oleh parasit protozoa, Plasmodium, yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. P. falciparum adalah parasit yang bertanggung jawab atas kasus-kasus malaria utama di seluruh dunia, terutama di Afrika sub-Sahara dan Asia. P. falciparum adalah protozoa uniseluler yang termasuk dalam famili Plasmodiae dan filum Apicomplexa. Di antara ribuan jenis yang telah diidentifikasi, P. falciparum 3D7 (Pf3D7) dianggap sebagai jenis yang paling mematikan. Penanganan malaria ditantang dengan adanya resistensi obat antimalaria, seperti klorokuin, artemisinin, dan sulfadoksin-pirimetamin, yang telah dilaporkan di negara-negara maju.
Untuk mengatasi tantangan ini, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengeksplorasi fitokimia yang memiliki aktivitas biologis dan kemiripan dengan obat. Artemisinin dan kina adalah contoh dari penemuan tersebut. Tumbuhan manggis (Garcinia atroviridis Griff. ex. T. Anders) secara khusus telah dilaporkan penggunaannya dalam etnomedisin di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa ekstrak G. atroviridis memiliki aktivitas antioksidan, antimikroba, dan antikanker. Ekstrak daun G. atroviridis telah dilaporkan bertindak sebagai penghambat yang efektif terhadap parasitemia Plasmodium berghei pada model tikus. Namun, belum ada penelitian lebih lanjut yang dilakukan untuk menyelidiki potensi fitokimia dari G. atroviridis sebagai agen antimalaria dengan menggunakan pendekatan in vivo, in vitro, atau bahkan in silico.
In silico dianggap sebagai metode pilihan dalam proses penemuan obat karena efisiensinya dalam hal biaya ekonomi dan konsumsi waktu. Selain itu, penambatan molekuler memberikan wawasan tentang prediksi orientasi dan posisi kandidat obat sebagai substrat potensial untuk molekul target. Protein target termasuk PfapPOL (ID PDB: 7SXQ), Pf piruvat kinase kompleks (ID PDB: 7Z4M), Pf aktin 1 filamen (ID PDB: 6TU4), Pf aspartat transkabamoylase (ID PDB: 7ZCZ), PfERS (ID PDB: 7WAJ), Pfcyt c2 DSD (ID PDB: 7TXE), dan PfPMX (ID PDB: 7RY7). Semua protein yang disebutkan di atas adalah reseptor Pf3D7 yang dapat melemahkan tubuh P. falciparum 3D7. Protein-protein ini merupakan reseptor penting dalam strain Pf3D7 yang menentukan kelangsungan hidup dan virulensi organisme dan berfungsi sebagai studi pendahuluan untuk menyelidiki potensi senyawa berbasis G. atroviridis sebagai kandidat obat antimalaria.
Hasil penelitian Aini et al. (2024) menunjukkan bahwa Quercetin memiliki afinitas pengikatan yang tinggi dengan apicoplast DNA polimerase (-8,3 kkal / mol), glutamyl-tRNA sintetase (-7,5 kkal / mol), dan plasmepsin X (-7,8 kkal / mol). Kaempferol memiliki afinitas pengikatan yang tinggi untuk dimer yang ditukar dengan domain sitokrom c2 (-8,4 kkal / mol). Hal ini memperkuat bukti bahwa G. atroviridis memiliki potensi antimalaria berdasarkan percobaan penambatan molekuler senyawa fitokimia terhadap beberapa protein Pf3D7 (apPOL, ERS, PMX, dan cyt c2 DSD). Quercetin memiliki afinitas pengikatan terkuat untuk apPOL, ERS, dan PMX. Kaempferol adalah penghambat paling efektif untuk cyt c2 DSD. Afinitas pengikatan menunjukkan kemampuan obat untuk berikatan dengan reseptor. Semakin kecil afinitas pengikatan, semakin tinggi afinitas kompleks. Analisis in vivo dan in vitro lebih lanjut diperlukan untuk menunjukkan kemanjuran G. atroviridis sebagai agen antimalaria.
Selain itu, senyawa fitokimia dari G. atroviridis telah disetujui secara komputasi untuk potensi antimalaria. Quercetin memiliki berbagai target terhadap protein di berbagai organel, seperti apicoplast (apPOS), sitoplasma (ERS), dan vakuola (PMX). Kaempferol telah terbukti mencegah aktivitas cyt c2 DSD dari Pf3D7. Baik quercetin dan kaempferol adalah aglikon turunan tanaman (flavonol) dari glikosida flavonoid yang disintesis oleh enzim yang berbeda. Quercetin dan kaempferol juga menunjukkan fungsi spektrum yang luas, seperti antioksidan, antimikroba, antitumor, perlindungan kardiovaskular, dan aktivitas anti-inflamasi. Penilaian farmakokinetik dan toksikologi quercetic dan kaempferol telah dikategorikan aman dalam beberapa jumlah dosis. Eksplorasi lebih lanjut harus dilakukan mengenai potensi senyawa-senyawa ini untuk memperkaya basis data fungsi obat fitokimia dan bioinformatik.
Keterbatasan dari penelitian in silico ini adalah bahwa data yang dihasilkan bersifat prediktif terhadap sifat-sifat zat obat terhadap reseptor uji. Penelitian lebih lanjut secara in vivo dan in vitro dengan menggunakan hewan coba dan kultur sel diperlukan untuk memvalidasi data in silico yang diperoleh dalam penelitian ini. Dengan cara ini, kelengkapan data untuk pengembangan kandidat antimalaria dapat dicapai.
Sumber:
Penulis: Hery Purnobasuki
Baca juga: Kulit Manggis Dapat Melindungi Sel Spermatogenik Mencit yang Dipapar Asap Rokok





