Pencemaran lingkungan meningkat karena pertumbuhan urbanisasi dan berbagai industri dan telah menjadi masalah kesehatan global. Pertumbuhan populasi, urbanisasi, industrialisasi, dan kegiatan pertanian telah menyebabkan pembuangan berbagai polutan, termasuk unsur-unsur yang berpotensi beracun (Potentially Toxic Elements/PTEs), ke dalam ekosistem perairan. Dalam beberapa dekade terakhir, pencemaran pantai oleh PTEs telah menjadi isu global yang penting. Berbagai proses manusia, seperti konsumsi bahan bakar fosil, aktivitas pertanian dan industri, serta limbah dari tambang dan industri, merupakan sumber PTEs, yang secara signifikan meningkatkan konsentrasi PTEs di ekosistem perairan.
PTEs dibagi menjadi tiga kategori; kategori pertama: unsur-unsur penting seperti tembaga, besi, seng, kobalt, dan selenium, yang diperlukan untuk metabolisme tubuh manusia. Kategori kedua dari unsur-unsur yang mungkin esensial, seperti nikel, vanadium, dan boron, dan kategori ketiga dari unsur-unsur non-esensial, seperti kadmium, merkuri, arsenik, dan timbal, bersifat racun bahkan dalam konsentrasi rendah. Beberapa penelitian melaporkan kontaminasi PTEs pada sedimen pantai di pantai Bushehr, Malaysia, Mesir, Chili, dan Cina. Misalnya, dalam penelitian yang dilakukan di bidang penyelidikan konsentrasi PTE di sedimen pesisir Bushehr dan Asalouye, konsentrasi PTE arsenik, kromium, tembaga, dan timbal sama dengan (5,03 dan 3,70 mg/kg), ( 14,29 dan 16,13 mg/kg), (5,5 dan 19,04 mg/kg), dan (2,77 dan 3,39 mg/kg), masing-masing.
Kontaminasi sedimen laut dengan PTEs menyebabkan toksisitas sedimen bagi organisme air yang hidup di sedimen tersebut. Ini juga menyebabkan gangguan reproduksi, pertumbuhan berkurang dan pencegahan keanekaragaman spesies, dan akhirnya kematian. Jadi, PTEs langsung masuk ke dalam tubuh organisme akuatik dan dapat beredar melalui darah, terakumulasi di organ target dan mengganggu fungsi organ, dan muncul dalam bentuk racun bagi manusia yang mengkonsumsi makanan laut dan makhluk air lainnya. Paparan PTEs menyebabkan kanker, kerusakan ginjal dan hati, keterbelakangan mental, aborsi, dan kematian manusia. Selain itu, PTEs dapat menumpuk di jaringan lemak dan memengaruhi sistem kardiovaskular, pencernaan, dan saraf. Juga, beberapa PTEs dapat menyebabkan mutagen dan memiliki efek karsinogenik pada organisme hidup. Pencemaran sedimen laut dengan PTEs merupakan salah satu indikator kritis kualitas lingkungan pantai dan laut, yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengevaluasi risiko ekologis dan juga dapat dianggap sebagai indikator pemantauan dampak aktivitas manusia.
Penelitian ini dirancang untuk mengukur konsentrasi PTEs (Pb, Ni, Cd) di sedimen pesisir kota Bandar Abbas dan memperkirakan ekologis. Kota pesisir lebih terpengaruh oleh urbanisasi dan industrialisasi karena kondisi ekologi khusus. Banyak kota industri lebih suka dibangun di dekat pantai untuk memasok kebutuhan air mereka dan membuang limbah dengan lebih mudah. Selain pembuangan air limbah industri, sumber pencemaran sedimen lainnya termasuk pembuangan limbah perkotaan dan industri yang tidak bersih, aktivitas pertanian, penggunaan pestisida yang berlebihan, erosi tanah, dan pengendapan polutan atmosfer. Oleh karena itu, sumber buatan memainkan peran paling penting dalam pencemaran sedimen pesisir. Pantai Teluk Persia adalah salah satu pelabuhan terpenting di Iran yang terletak di kota industri Bandar Abbas. Namun, keberadaan industri tersebut merupakan ancaman besar bagi lingkungannya, termasuk sedimen pesisir, karena pelepasan polutannya ke lingkungan.
Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi Pb tertinggi pada sedimen pesisir berhubungan dengan pantai dengan aktivitas manusia yang tinggi, lalu lintas dermaga yang tinggi, dan dekat dengan pembangkit listrik. Selain itu, keberadaan Pb di sedimen pantai dapat disebabkan oleh tingginya lalu lintas kendaraan, truk, dan dermaga penumpang. Pb adalah senyawa yang ditambahkan pada bensin sebagai anti ketukan. Karena daya tahan dan sifat akumulatifnya yang tinggi, ia dapat tetap berada di lingkungan dan sedimen selama bertahun-tahun dan menjadi terkonsentrasi. Tanker minyak mentah juga merupakan sumber kontaminasi sedimen dengan Pb. Selain itu, beberapa penelitian melaporkan debit air limbah industri sebagai penyebab utama peningkatan Pb di sedimen pesisir. Kehadiran Ni di sedimen pesisir dikaitkan dengan kegiatan industri seperti pengerjaan logam, pelapisan logam, pembuatan baterai, pembangkit listrik, petrokimia, dan paduan nikel. Namun, tinjauan literatur menunjukkan bahwa tanah Bandar Abbas secara alami mengandung Ni dalam jumlah tinggi, sehingga sebagian nikel dalam sedimen dapat berasal dari alam. Di antara PTEs lain yang ditemukan di sedimen pantai Bandar Abbas adalah kadmium. Lalu lintas di kapal dan mesin kapal penumpang dan rekreasi adalah salah satu sumber pelepasan kadmium yang diketahui ke lingkungan.
Penulis: Trias Mahmudiono, S.KM., MPH(Nutr)., GCAS., Ph.D
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
Mahmudiono, Trias et al. 淧otentially toxic elements (PTEs) in coastal sediments of Bandar Abbas city, North of Persian Gulf: An ecological risk assessment. International journal of environmental health research, 1-15. 2 Feb. 2023, doi:10.1080/09603123.2023.2173154





