Semua wanita berpotensi mengalami keputihan, tetapi remaja perempuan lebih beresiko terjadi keputihan. Perilaku menjaga kebersihan organ reproduksi pada perempuan khususnya remaja sebagai salah satu perilaku pencegahan terhadap keputihan masih menjadi masalah di berbagai negara. Banyak remaja yang belum mengetahui tentang perilaku pencegahan keputihan sehingga akan muncul dampak negatif . Keputihan keluar dari vagina diluar kebiasaan, baik berbau ataupun tidak, serta disertai rasa gatal. Keputihan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis).
Penting sekali bagi para remaja perempuan sejak dini merawat genetalia secara tepat untuk mengurangi resiko keputihan. Keputihan akan membawa dampak yang berbahaya bagi remaja nantinya yaitu penyakit infeksi saluran kencing, vaginitis, kemandulan, bahkan kanker serviks. Personal hygiene yang kurang pada area genetalia menyebabkan kuman, parasit, dan virus berkembang dengan pesat di daerah sekitar kemaluan wanita. Pengetahuan yang kurang berdampak pada kesadaran diri terhadap kesehatan reproduksi. Perilaku tidak sehat pada remaja dapat diakibatkan ketidakharmonisan hubungan orang tua, sikap orang tua yang menabukan pertanyaan remaja tentang fungsi dan proses reproduksi. Orang tua cenderung merasa risih dan tidak mampu memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi.. Remaja mulai obyektif dan sensitif dalam melihat dan menganalisa setiap persoalan yang dihadapi dan berani mengambil resiko serta langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah sendiri tanpa intervensi dari orang lain. Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru dalam memberikan pendidikan kesehatan tentang kesehatan reproduksi remaja dan fungsinya juga berpengaruh terhadap perilaku remaja dalam kesehatan reproduksinya. Setiap individu memiliki respon yang berbeda-beda terhadap stres, hal tersebut dapat dipengaruhi oleh kepribadian. Kepribadian meliputi berbagai corak perilaku manusia yang ada dalam dirinya untuk beraksi dan menyesuaikan diri terhadap rangsangan yang datang baik dari lingkungan maupun dari dirinya sendiri. Kepribadian seseorang akan tampak pada gambaran penyesuaian diri terhadap stres yang dialami.
Kurangnya pengetahun tentang vulva hygiene berpengaruh terhadap self efficacy pencegahan fluor albus. Vulva yang tidak terjaga kebersihannya akan menyebabkan vulva menjadi hangat dan lembab. Keadaan ini dapat disebabkan berbagai hal, seperti kebersihan yang kurang terjaga, celana dalam kotor, lembab, dan mungkin karena infeksi, kanker dan penyakit lain termasuk jamur. Faktor yang memicu seperti stres dan tubuh tidak fit. Keadaan seperti itu dapat mempengaruhi banyaknya sekresi pada vagina. Kebersihan di area vagina seringkali diabaikan padahal, jika berlarut-larut akan lebih rentan terinfeksi virus berbahaya.
METODE DAN HASIL
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel 168 remaja yang direkrut menggunakan snowball sampling. Kriteria yang ditetapkan untuk homogenitas sampel remaja berusia 17-21 tahun, telah mengalami menstruasi, dapat mengakses dan mengoperasikan google formulir. Variabel independent penelitian ini adalah tipe kepribadian dan dukungan sosial. Variabel dependen dalam penelitian adalah self efficacy pencegahan keputihan abnormal. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan informasi berupa poster tentang penelitian yang dilakukan di media social Instagram dan status whatsapp. Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial Spearmen Rho dengan 伪=0,05.
Self-efficacy pencegahan keputihan pada remaja putri didominasi kategori sedang. Ada sebagian yang kategori tinggi, meskipun ternyata ada remaja yang pada kategori rendah. Karakteristik latar belakang dan pengalaman yang bervariasi, berdampak pada self-efficacy. Sebagian besar remaja putri pada tahap perkembangan remaja akhir antara usia 17-19 tahun. Mayoritas remaja menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Self-efficacy merupakan persepsi diri yang dinamis, yang dapat berubah melalui pengalaman belajar tertentu dan dengan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Usia yang semakin matang dan pengalaman haid beberapa tahun yang telah dijalani, mendukung remaja putri yakin melakukan hal positif khususnya dalam pencegahan keputihan. Keyakinan self-efficacy ditempa dalam pengaturan tertentu, yang dianggap persepsi kontekstual yang terkait dengan bidang tertentu dari fungsi individu, seperti domain pemahaman emosional dan hubungan interpersonal. Karakteristik kepribadian remaja putri tidak berhubungan dengan self-efficacy pencegahan keputihan. Karakteristik kepribadian menggambarkan cara seseorang bertindak. Remaja putri dengan karakteristik kepribadian introvert dan ekstrovert memiliki perhatian sama terhadap Kesehatan.
Berbeda dari ciri-ciri kepribadian, keyakinan efikasi diri didefinisikan sebagai persepsi seseorang tentang kemampuannya untuk secara efektif menghadapi situasi yang menantang atau untuk mencapai tujuan dalam domain kehidupan tertentu. Self-efficacy dalam pembelajaran biasanya dikaitkan dengan prestasi akademik, keterampilan belajar, mandiri, motivasi, dan kemampuan memecahkan masalah. Meskipun responden dengan tipe kepribadian introvert lebih banyak, namun selisihnya tidak signifikan dengan yang ekstrovert. Type kepribadian dibawa sejak lahir dan dibentuk oleh lingkungannya. Remaja dengan karakteristik ekstrovert memiliki keterampilan sosial yang lebih besar, mengambil lebih banyak keuntungan dari peluang lingkungan, dan lebih mampu dalam mengejar potensi mereka. Mereka cenderung lebih optimis dan mampu memperoleh dukungan sosial. Kepribadian introvert memiliki kecenderungan untuk mengamati dan merenungkan sebelum mengambil keputusan. Seorang introvert tidak mudah tidak membuat keputusan dengan tergesa-gesa. Remaja putri baik yang dengan internal dan eksternal locus control, tidak menunjukkan perbedaan keyakinan diri dalam pencegahan keputihan. Dukungan social yang didapatkan remaja putri berhubungan dengan self-efficacy pencegahan keputihan. Arah hubungan positif dengan kekuatan sedang berarti semakin baik dukungan social pada remaja putri, maka self-efficacy dalam pencegahan keputrihan akan semakin meningkat. Keyakinan diri memainkan peran penting dalam pengembangan diri seseorang dan adaptasi terhadap perubahan dengan mempengaruhi seberapa baik memotivasi diri sendiri, bertahan ketika menghadapi kesulitan, kualitas emosional, usaha yang investasikan dalam berbagai kegiatan, dan pilihan yang dibuat pada fase kehidupan. Konseptualisasi kognisi kemanjuran pribadi sebagai inti dari agensi manusia. Dukungan social yang tinggi, akan lebih memotivasi remaja gigih dan menginvestasikan lebih banyak energi dalam merawat kesehatan khususnya dalam pencegahan keputihan patologis.
Penulis : Ni Ketut Alit Armini
Informasi detail dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





