Gastrointestinal endoscopy (GIE) merupakan prosedur diagnostik dan terapeutik yang penting dalam penanganan berbagai penyakit saluran cerna, hati, serta pankreatobilier. Lonjakan kasus Mpox yang disebabkan oleh monkeypox virus (MPXV), menimbulkan risiko penularan yang tinggi bagi tenaga kesehatan, terutama gastroenterolog yang melakukan endoskopi saluran cerna karena prosedur tersebut melibatkan kontak erat dengan mukosa dan menghasilkan aerosol. Peningkatan kasus secara global dan Indonesia, membuat diperlukannya pembaruan protokol dan pedoman keselamatan.
Berdasarkan latar belakang di atas, Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) menyusun rekomendasi praktik endoskopi gastrointestinal yang aman untuk melindungi tenaga kesehatan selama masa peningkatan kasus Mpox. Mpox dapat menular melalui paparan perkutan, mukosa, dan pernapasan. Selain itu, penularan tidak langsung dapat terjadi melalui benda yang terkontaminasi, seperti pakaian atau linen yang digunakan pasien, serta barang-barang yang digunakan bersama dalam rumah tangga. Meskipun belum ada laporan penularan melalui endoskopi, prosedur GIE tetap berisiko karena kontak dekat dengan lesi, droplet, dan alat medis yang dapat menjadi fomites. GIE termasuk prosedur yang berpotensi menghasilkan aerosol, peningkatan kewaspadaan dan penguatan protokol keselamatan sangat diperlukan selama lonjakan kasus Mpox.
Skrining menyeluruh penting untuk dilakukan sebelum prosedur dimulai, termasuk riwayat perjalanan 21 hari, riwayat kontak dengan kasus Mpox, dan evaluasi gejala. Selain ruam tipikal, gejala atipikal seperti ulkus mulut, proktitis, dan keterlibatan konjungtiva juga perlu diperhatikan. Pasien yang dicurigai harus diperiksa secara klinis dan dapat menjalani PCR bila diperlukan. Hal ini memastikan identifikasi dini pasien berisiko dan perlindungan optimal bagi tenaga kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa endoskopi transnasal dapat menurunkan produksi aerosol.
Pelatihan dan edukasi merupakan hal penting bagi tenaga kesehatan yang melakukan GIE, sehingga pengendalian dan pencegahan infeksi di unit endoskopi dapat diterapkan dengan baik. Langkah-langkah pengendalian lingkungan meliputi pemasangan HEPA filter di ruang endoskopi, menjaga ventilasi yang baik, mendisinfeksi seluruh permukaan dengan disinfektan yang disetujui rumah sakit, serta membatasi jumlah personel di ruang tindakan hanya pada staf esensial. Selama prosedur, seluruh permukaan yang bersentuhan dengan pasien harus didisinfeksi menggunakan disinfektan seperti pemutih atau produk berbasis hidrogen peroksida yang memiliki aktivitas antivirus. Perendaman endoskop dan instrumen yang dapat digunakan kembali dalam glutaraldehyde 0,02% selama 10 menit terbukti efektif menonaktifkan virus Mpox.
Linen kotor harus ditangani dengan hati-hati untuk menghindari penyebaran partikel infeksius, dan limbah medis tetap dapat dikelola sesuai protokol standar. Meskipun proses pembersihan endoskopi rutin efektif, risiko aerosol saat pembersihan tetap ada, sehingga langkah pengamanan ketat diperlukan untuk melindungi staf. Meister dan kolega merekomendasikan pembersihan basah pada ruangan untuk mencegah partikel virus kembali melayang, sehingga mengurangi risiko penularan melalui udara. Pembersihan menyeluruh pada ruangan dan peralatan dengan disinfektan berbasis alkohol atau aldehida setelah setiap prosedur diperlukan. Disinfeksi permukaan yang terkontaminasi Mpox dengan etanol 75% selama minimal 1 menit dapat menurunkan titer virus hingga 4,25 log10.
Memastikan keselamatan tenaga kesehatan (HCW) dan pasien selama prosedur GIE di tengah peningkatan kasus Mpox memerlukan pendekatan yang bersifat multifaset. Hal ini mencakup penilaian pra-endoskopi yang komprehensif, stratifikasi risiko, protokol pengendalian infeksi yang ketat, serta pemantauan setelah prosedur. Vaksinasi bagi tenaga kesehatan yang sering terpapar pada situasi berisiko tinggi sangat ditekankan. Surveilans dan pemantauan berkelanjutan terhadap tenaga kesehatan menjadi komponen kunci dalam meminimalkan risiko penularan.
Meskipun belum ada laporan kasus penularan Mpox secara langsung melalui endoskopi gastrointestinal, rekomendasi ini bertujuan mengurangi potensi risiko terkait prosedur tersebut dan menegaskan pentingnya kepatuhan ketat terhadap protokol pengendalian infeksi. Dengan mematuhi protokol ini dan menyesuaikannya dengan praktik saat ini, endoskopi gastrointestinal dapat dilakukan dengan aman selama peningkatan kasus Mpox, sehingga memastikan perlindungan bagi pasien maupun tenaga kesehatan.
Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D
Artikel lengkap dapat diakses pada:





