Helicobacter pylori (H. pylori), merupakan bakteri yang hidup di perut dan menginfeksi lebih dari separuh populasi dunia. Infeksi H. pylori dikaitkan dengan berbagai penyakit, termasuk gastritis kronis, tukak lambung, limfoma jaringan limfoid terkait mukosa lambung, dan kanker lambung. Insiden infeksi H. pylori dilaporkan banyak tejadi di negara berkembang dan kejadiannya bervariasi tergantung wilayah geografisnya. Keragaman tersebut menimbulkan pertanyaan apakah inang, agen, dan faktor lingkungan tertentu meningkatkan risiko infeksi.
Indonesia adalah negara berkembang di Asia Tenggara, dengan ribuan pulau yang dilengkapi dengan keragaman etnis yang substansial. Oleh karena itu, sulit untuk menentukan prevalensi yang akurat di dalamnya. Studi melaporkan bahwa Indonesia memiliki prevalensi infeksi H. pylori yang rendah. Namun, terdapat perbedaan besar dalam jumlah infeksi H. pylori antara wilayah dan etnis. Sebagai contoh, prevalensi di Jayapura, Pulau Papua dan Medan, Pulau Sumatera secara signifikan lebih tinggi daripada di kota-kota di Pulau Jawa.
Penelitian menyertakan sampel endoskopi terbaru yang diambil dari Agustus 2016 hingga Maret 2017. Sampel diambil di empat kota dengan total 193 sampel: 50 subjek dari Kolaka dan 56 subjek dari Palu, 43 subjek dari Merauke, dan 44 subjek dari Ternate. Infeksi H. pylori didiagnosis berdasarkan kombinasi empat tes: tes urease, histologi, imunohistokimia, dan kultur bakteri. Pasien dianggap positif H. pylori jika setidaknya satu tes menunjukkan hasil positif dan negatif ketika semua tes menunjukkan hasil negatif.
Penelitian ini menemukan bahwa tinggal di wilayah Timur Indonesia meningkatkan risiko infeksi H. pylori sedangkan, wilayah Barat memiliki prevalensi H. pylori yang rendah. Tidak ada subyek positif H. pylori etnis Aceh dan Sunda, sedangkan Timor, Papua, dan Bugis merupakan etnis yang mendominasi prevalensi tertinggi di Indonesia. Suku Papua, merupakan salah satu suku dengan prevalensi tinggi. Di sisi lain, orang Bugis yang tinggal di wilayah Timur menunjukkan peningkatan risiko infeksi. Sehingga dapat dikatakan bahwa faktor dapat berkontribusi pada fenomena ini yakni inang, virulensi agen, dan faktor lingkungan. Varian genetik inang diduga bertanggung jawab atas kerentanan antar etnis terhadap infeksi H. pylori.
Konsumsi alkohol merupakan faktor risiko infeksi H. pylori, terutama di wilayah Barat. Namun, menurut Riset Kesehatan Dasar Indonesia (Riskesdas) tahun 2018, wilayah Timur umumnya memiliki konsumsi alkohol yang lebih tinggi, mulai dari yang terendah 4,1% di Sulawesi Barat hingga tertinggi 16,0% di Sulawesi Selatan. Minuman beralkohol dapat mempengaruhi sekresi asam lambung dan dapat mengganggu fisiologi mukosa lambung. Fenomena ini berkontribusi pada proses kerusakan mukosa lambung. Alkohol juga mengganggu aktivitas otot di sekitar lambung, yang mengakibatkan pengosongan lambung tertunda. Namun, hubungan konkret antara konsumsi alkohol dan infeksi H. pylori masih belum jelas karena perbedaan hasil penelitian.
Pada penelitian ini tidak ditemukan hubungan antara merokok dan infeksi H. pylori. Penelitian lain telah menemukan bahwa nikotin meningkatkan sekresi asam dan pepsin, sehingga membuat H. pylori lebih sulit berkembang di perut. Namun, pada orang yang sudah terinfeksi H. pylori, merokok ditemukan meningkatkan risiko terkena kanker lambung. Zat dalam rokok mengandung senyawa karsinogenik yang dapat merusak mukosa lambung melalui stres oksidatif dan memungkinkan peradangan kronis. Akhirnya, lesi prekursor kanker lambung, seperti gastritis atrofi, metaplasia usus atau displasia, akan terbentuk.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa infeksi H. pylori lebih sering terjadi pada orang tua >45 tahun, sementara yang lain menyebutkan bahwa infeksi lebih sering terjadi pada usia yang lebih muda. Infeksi H. pylori terjadi pada masa kanak-kanak melalui rute orang ke orang atau fecal-oral. Oleh karena itu, kondisi kehidupan dengan tingkat kebersihan dan sanitasi sangat berkorelasi dengan infeksi. Kondisi kehidupan yang padat, pendapatan rendah, dan kebersihan yang buruk merupakan faktor risiko kanker lambung. Sumber air minum juga telah dibahas sebagai sumber penularan. Prevalensi terlihat lebih tinggi pada individu yang menggunakan sumber air yang tidak terlindungi. Meskipun, dalam penelitian kami, tidak ada korelasi antara sumber air dan infeksi H. pylori. Pendapatan yang lebih rendah merupakan faktor risiko infeksi independen di wilayah Timur, sedangkan H. pylori sangat terkait dengan pendapatan yang lebih rendah. Namun, karakteristik gaya hidup mungkin menjadi indikator status sosial ekonomi yang lebih baik. Meskipun cara penularan yang tepat masih belum diketahui, karakteristik individu dan keluarga harus dinilai untuk menentukan risiko tertular infeksi.
Penulis: Prof. Ratha-Korn Vilaichone, MD., Ph.D., FACG.AGAF.
Artikel dapat diakses pada:





