51动漫

51动漫 Official Website

Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UNAIR Gelar PKL Terintegrasi di Desa Buncitan Sidoarjo

Penyerahan cendera mata oleh dosen prodi Bahasa dan Sastra Indonesia kepada Kepala Desa Buncitan. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya kembali menggelar praktik kuliah lapangan atau PKL pada Sabtu (19/11/2022) di Desa Buncitan, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. 

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, PKL tahun ini dilaksanakan secara terintegrasi untuk empat mata kuliah yaitu Sosiolinguistik, Dialektologi, Semiotika, dan Sastra Pesisiran. 

Dalam sesi pembukaan, Tubiyono Drs MSi selaku perwakilan dosen menyampaikan bahwa prodi Bahasa dan Sastra Indonesia rutin melaksanakan PKL setiap tahunnya. Tahun ini, PKL Terintegrasi dilaksanakan di Desa Buncitan karena desa tersebut telah bekerja sama dengan prodi dalam program PHP2D tahun 2021. 

淧rodi Bahasa dan Sastra Indonesia memiliki desa binaan yaitu Desa Kemloko Blitar untuk kegiatan PKL seperti ini. Kita sudah lama bekerja sama dan sekarang sudah jadi desa wisata. Harapannya, setelah PKL ini, Desa Buncitan bisa menjadi mitra kerja sama sehingga nantinya bisa menjadi desa binaan kami, ucapnya.

Teliti Bahasa dan Budaya Masyarakat Buncitan

Kemudian, Tubiyono menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut, mahasiswa akan meneliti bagaimana penggunaan bahasa dan budaya yang ada di Desa Buncitan sesuai dengan mata kuliah yang mereka ampu. 

Pertama, untuk mata kuliah Sosiolinguistik, mahasiswa akan meneliti sikap dan variasi bahasa masyarakat Buncitan karena dominasi masyarakat di sana adalah pendatang dari luar sehingga sikap dan variasi bahasanya akan beragam.

Kedua, untuk mata kuliah Dialektologi sama halnya dengan Sosiolinguistik. Namun dalam hal ini, mahasiswa akan lebih fokus melakukan penelitian terkait ragam dialek atau logat masyarakat di sana.

Ketiga, untuk mata kuliah Semiotika, mahasiswa akan melakukan penelitian terkait makna dari beberapa kebudayaan yang ada di sana, seperti Candi Tawangalun dan wayang orang. Terakhir, untuk mata kuliah Sastra Pesisiran, mahasiswa akan lebih fokus meneliti bagaimana eksistensi tradisi atau life cycle masyarakat Buncitan karena secara geografis desa tersebut masuk ke dalam daerah pesisir. 

Lebih lanjut, Tubiyono berharap, hasil penelitian mahasiswa dapat menjadi bahan untuk menggali sekaligus mengembangkan potensi-potensi unggulan yang ada di desa tersebut, baik yang sudah ada atau yang belum terekspos sama sekali. Nantinya, potensi-potensi tersebut bisa berkembang lebih maju sehingga dapat menjadi daya pikat untuk masyarakat sekitar dan masyarakat luar. 

淗arapan kami mahasiswa bisa dapat hal positif. Kita belajar langsung bersama masyarakat. Kita tidak hanya belajar teoritis, tetapi juga praktis supaya nantinya mahasiswa punya pengalaman yang banyak. Sehingga ketika sudah lulus, mahasiswa tidak gagap tukasnya. (*)

Penulis: Rafli Noer Khairam

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT