UNAIR NEWS Rektor 51动漫 (UNAIR) Prof Mohammad Nasih kembali mengukuhkan Guru Besar UNAIR pada Rabu (31/08/2022). Dalam sidang yang bertempat di Aula Garuda Mukti Kampus MERR (C) UNAIR tersebut, dikukuhkan 4 Guru Besar termasuk Prof Muhammad Miftahussurur dr SpPD-KGEH.
Dengan total 110 publikasi jurnal terindeks Scopus dan H-Index: 19, berhasil mengantarkan Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Digitalisasi dan Informasi UNAIR tersebut sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAIR ke-122. Dalam sesi orasi ilmiahnya, Prof Miftah mengangkat topik upaya diagnosis, eradikasi Helicobacter pylori dan skrining kanker lambung menggunakan pendekatan epidemiologi molekuler.
Perlu diketahui, epidemiologi molekuler merupakan cabang epidemiologi yang mempelajari kontribusi faktor risiko genetik dan lingkungan pada level molekuler dan biokimia, terhadap etiologi, distribusi, dan pengendalian penyakit dalam populasi.
Dalam pemaparannya, pria kelahiran Sidoarjo, 29 September 1979 tersebut mengungkapkan bahwa Helicobacter pylori merupakan agen penyebab penyakit gastritis, ulkus peptikum, limfoma lambung dan kanker lambung. Ia pun mengungkapkan bahwa meski prevalensi H. pylori di Indonesia termasuk rendah (<15%). Namun, setelah dipetakan lebih lanjut ada beberapa etnik yang memiliki prevalensi tertinggi.
淒ari 11% seluruh prevalensi H. Pylori di Indonesia, didominasi oleh etnik Papua (42%), Batak (40%), dan Bugis (36%). Ini menunjukkan bahwa resiko ketiga etnik tersebut terinfeksi H. pylori lebih tinggi dari etnik lain di Indonesia sehingga harus diwaspadai, ujarnya.
Hal itu, sambungnya, tak lepas dari adanya migrasi antar suku di seluruh dunia. Prof Miftah mengungkapkan bahwa Suku Batak merupakan migrasi dari Etnik Afrika Timur 20.000 tahun lalu. Sementara Suku Bugis adalah migrasi dari Etnik Maori dari Taiwan 10.000 tahun lalu dan Etnik Papua merupakan migrasi dari Suku Sahul.
Prof Miftah menyampaikan bahwa, dengan terbatasnya ahli endoskopi di Indonesia, menyebabkan pemeriksaan secara invasif sulit dilakukan. Sehingga, Prof Miftah menyebut bahwa salah satu alternatifnya adalah melalui pemeriksaan non invasif.
Namun, lanjutnya, yang menjadi masalah saat ini adalah pemeriksaan non invasif di Indonesia masih belum tervalidasi dan tingkat akurasinya masih rendah. 淒itambah lagi dengan permasalahan lain seperti resistensi bakteri yang sudah cukup parah karena telah melebihi batas resistensi yang sudah ditetapkan, terangnya.
Untuk itu, Prof Miftah mendorong agar pengembangan studi epidemiologi molekuler dan pendirian pusat endoskopi dan riset pencegahan kanker khususnya di daerah beresiko tinggi harus segera dilakukan. Mengingat, imbuhnya, fakta menunjukkan bahwa meski prevalensinya rendah H. pylori yang beredar di Indonesia saat ini merupakan H. pylori yang ganas dan seringkali menimbulkan dispepsia pada lambung.
淪elain itu, dalam temuan kami ada beberapa bakteri lain yang dapat berpotensi menimbulkan pra kanker yang tersebar di Indonesia, ungkapnya.
Oleh karena itu, imbuhnya, disisi harus mengembangkan pusat risetnya Indonesia juga harus memperbaiki sistem tracing melalui pemeriksaan non invasif supaya lebih akurat. 淯paya ini juga harusnya merupakan tanggung jawab moral kita sebagai peneliti, praktisi dan akademisi sehingga kita dapat mencegah H. pylori khususnya di daerah yang beresiko, pungkasnya. (*)
Penulis: Ivan Syahrial Abidin
Editor: Nuri Hermawan





