UNAIR NEWS – Program studi Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, menggelar webinar nasional bertajuk Other Indonesians: Nationalism in an Unnative Language pada Rabu (30/11/2022). Kegiatan tersebut mengundang seorang linguis sekaligus profesor Yale University, J Joseph Errington sebagai pembicara.
Dalam kegiatan tersebut, Joseph memaparkan materi terkait fakta-fakta bahasa Indonesia dalam bukunya yang berjudul Other Indonesians: Nationalism in an Unnative Language. Buku tersebut merupakan hasil penelitiannya selama berada di Indonesia. Menurutnya, bahasa Indonesia adalah suatu hal yang istimewa di dunia ini.
Ia mengatakan bahwa dirinya sangat setuju dengan pernyataan Goenawan Mohamad yang menyatakan, bahasa Indonesia tidak hanya mencakup satu bahasa saja, tetapi juga banyak bahasa daerah di dalamnya. Tersebab itu, ia memilih judul Other Indonesians untuk bukunya.
Joseph menyampaikan bahwa ada dua hal yang menjadi inti sari dalam bukunya. Pertama, nilai-nilai interaksional bahasa Indonesia yang hadir karena ketiadaan penutur asli dan perkembangan bahasa Indonesia sebagai pemersatu pluralitas bahasa.
淥rang yang tidak tahu Indonesia sangat mudah mengatakan kalau bahasa Indonesia memiliki kekurangan karena tidak memiliki penutur asli. Padahal, bahasa Indonesia sebagaimana Goenawan Mohamad bicarakan, seperti kebhinekaan yang mempersatukan. Istilahnya macam-macam, tapi sangat similar dan binocular. ujarnya.
Keautentikan dan Anonimitas
Ia mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi tolokukur bagaimana bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa nasional. Pertama, ideologi anonimitas di mana bahasa nasional berfungsi sebagai sarana komunikasi tidak dimiliki oleh siapapun secara khusus dan secara prinsip tersedia secara merata untuk semua orang. Kedua, ideologi keaslian di mana bahasa nasional menjadi pembeda yang sangat kuat dengan bahasa-bahasa lainnya secara sosial dan geografis.
淜easlian dan anonimitas itu terlegitimasi antara bahasa standar dan bahasa penutur asli. Misalnya, ketika seseorang sedang belajar bahasa lain, pasti ada logat yang tidak bisa lepas. Seperti saya yang sudah berusaha keras untuk belajar bahasa Indonesia, tetapi tetap logat saya Amerika karena saya bukan orang Indonesia, ungkapnya.
Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Gado-gado
Lebih lanjut, Joseph menjelaskan bahwa secara historis, bahasa Indonesia terus berkembang seiring dengan program pembangunan pusat-pusat kota di Indonesia. Tidak hanya itu, mobilitas penduduk dari desa ke kota juga menjadi faktor dalam perkembangan bahasa Indonesia.
淥rang-orang dari daerah berbeda datang ke pusat kota. Mereka ini adalah penutur asli bahasa daerah. Ketika di kota, mereka mengobrol dengan banyak orang dari berbagai latar belakang menggunakan bahasa Indonesia sehingga tercipta bahasa kota, seperti bahasa Jakarta, jelasnya.
Proses tersebutlah yang menyebabkan terjadinya vernakular modernitas perkotaan yang mampu menggabungkan bentuk bahasa daerah dengan bahasa Indonesia sehingga muncul bahasa Indonesia sehari-hari atau bahasa gado-gado yang banyak orang pakai saat ini. (*)
Penulis: Rafli Noer Khairam
Editor: Binti Q. Masruroh





