Angka penduduk dengan Diabetes Mellitus type 2 (DM) terus meningkat di seluruh dunia dan tidak terkecuali di Indonesia. Seorang dengan DM mempunyai risiko mengalami komplikasi seperti penyakit jantung, paru, stroke, kebutaan, gagal ginjal, gangguan saraf yang berakibat penurunan kualitas hidup dan terjadi kematian lebih dini. Semakin lama seseorang menderita DM, semakin besar kemungkinan untuk terjadi nya komplikasi tersebut.
DM tidak dapat disembuhkan. Tenaga medis yang melakukan tata laksana DM focus pada keberhasilan capaian gula darah puasa (鈮 130 mg/dL dan kadar HbA1C (<7%) disamping BMI diupayakan normal. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, adalah hal yang tidak mudah. Pasien wajib berperan aktif dalam mewujudkannya. Kontrol teratur ke layanan Kesehatan dan minum obat secara teratur belum cukup untuk dapat menurunkan kadar gula darah yang tinggi. Pasien wajib mentaati gaya hidup sehat seperti mengatur jadwal, jenis makanan dan besar kalori yang dikonsumsi setiap hari serta wajib mempertahankan pola hidup yang bergerak aktif (olahraga minimal 30 menit / hari dan dilakukan rutin minimal 5x dalam seminggu). Hal tersebut merupakan tantangan yang cukup besar, mengingat bahwa dalam kehidupan modern sekarang, masyarakat sangat difasilitasi dengan berbagai kemudahan sehingga menjadi kurang bergerak (malas bergerak / 渕ager / physically inactive). Menjamurnya berbagai restoran dan caf茅 yang menyuguhkan makanan serta minuman tinggi kalori ikut memicu kesulitan keberhasilan terapi seperti yang diharapkan.
Sebagai fasilitas layanan Kesehatan Tingkat I, Puskesmas sangat berperan penting dalam penatalaksanaan DM, karena Sebagian besar (>70%) masyarakat akan berobat ke faskes Tk 1. Sehingga keberhasilan terapi DM di puskesmas menjadi salah satu tolok ukur prediksi keberhasilan tatalaksana DM di masyarakat.
Penelitian ini mengambil responden yaitu semua pasien DM yang rajin control ke puskesmas A di Surabaya. Setelah dijelaskan tentang maksud dan tujuan penelitian serta prosedur yang akan dijalankan, pasien yang rutin control tersebut diminta menandatangani informed-consent sebagai bentuk persetujuan bahwa pasien tersebut setuju menjadi partisipan dalam penelitian ini. Partisipan diwawancara dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui kebiasaan makan, minum, olahraga dan rutinitas lain. Indeks masa tubuh, pemeriksaan fisik serta laboratorium juga dilakukan untuk mengetahui capaian keberhasilan terapi serta potensi komplikasi akibat DM.
Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa diantara pasien yang rutin control ke puskesmas adalah berusia rata-rata 60,9 (卤 8,3) tahun. Dari pasien DM yang control rutin tersebut (81 pasien) 53,1 % tidak mempunyai Riwayat orangtua nya DM. 70,4% mereka mengaku masih mengkonsumsi minuman manis dan indeks masa tubuh mereka mayoritas normal (tetapi 30,9% tergolong gemuk / obese). Hampir 50% partisipan tidak pernah berolahraga.
Hasil laboratorium menunjukkan bahwa kadar gula darah puasa pasien yang berhasil mencapai kadar yang diinginkan (鈮 130 mg/dL) adalah 30,9% dan yang berhasil mencapai kadar HBA1C < 7% adalah 23,8% dari seluruh pasien yang melakukan control rutin. Kadar albumin creatinine ratio (ACR) yang mulai meningkat sudah terjadi pada 70.9% pasien, dan 22,8% pasien kadar kreatininnya sudah melebihi ambang normal, dimana hal tersebut memerlukan tindakan perubahan gaya hidup segera untuk menghindarkan risiko terjadi gagal ginjal.
Mengingat keberhasilan terapi yang masih rendah, dan kemungkinan terjadi peningkatan risiko gagal ginjal serta risiko lainnya, diharapkan tenaga medis lebih intens untuk mengajak pasien lebih aktif dalam mengubah gaya hidup seperti membatasi makanan dan minuman tinggi kalori (termasuk minuman manis), tetap aktif bergerak (physically active) serta rutin berolahraga.
Himbauan bagi Masyarakat luas
Menghindari makanan dan minuman yang berkalori tinggi, menghitung kalori yang dikonsumsi setiap hari (dapat menggunakan beberapa aplikasi misalnya fatsecret atau dapat berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter yang terdekat, serta selalu bergerak aktif dan berolahraga teratur (lima kali dalam seminggu) agar terhindar dari DM.
Penulis: Linda Dewanti, dr., MKes., MHSc., Ph.D.
Link:
Baca juga: Diabetes dan Hipertensi pada Pasien Gigi





