51动漫

51动漫 Official Website

Profil Sitokin Pasien Covid-19 di Indonesia Sebelum Program Vaksinasi Dicanangkan

Pada akhir tahun 2019, virus corona baru mulai menyebabkan wabah virus pneumonia tidak biasa yang muncul di Wuhan, Tiongkok. Penyakit ini kemudian ditetapkan sebagai COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARSCoV-2. Menyusul penularan yang cepat di seluruh dunia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah SARS-CoV-2 sebagai pandemi yang menjadi perhatian internasional. Hingga 8 Februari 2023, sebanyak 754.816.715 kasus terkonfirmasi dan 6.830.232 kematian di seluruh dunia akibat COVID-19 dilaporkan oleh WHO. Indonesia termasuk di antara sepuluh negara dengan jumlah kematian kumulatif tertinggi, yaitu sebanyak 160.847 kematian dilaporkan. Sebagai upaya mitigasi pandemi, pemerintah Indonesia memulai program vaksinasi nasional pada tanggal 13 Januari 2021. Sebelumnya, seroprevalensi infeksi SARS-CoV-2 dilaporkan sekitar 11,4% di Jawa Timur, dan WHO melaporkan 818,386 kumulatif kasus COVID-19 atau 299,2 kasus/100.000 penduduk, dengan kematian kumulatif 23.947 atau 8,8 kematian/100.000 penduduk di Indonesia. Untuk itu, program pemberian vaksin telah dicanangkan secara global dalam rangka mencegah keparahan penyakit dan mengurangi kematian terkait COVID-19.

Bukti yang terkumpul menunjukkan adanya keterlibatan peradangan yang dimediasi sitokin pada COVID-19. Kondisi yang dinamakan badai sitokin berhubungan dengan tingkat keparahan dan kematian akibat COVID-19, terutama di antara individu yang belum menerima vaksinasi sebelumnya. Badai sitokin adalah produksi berlebihan dan pelepasan sitokin peradangan akut baik secara lokal maupun sistemik, dan dapat memicu sindrom gangguan pernapasan akut/ acute respiratory distress syndrome (ARDS) yang merupakan penyebab utama kematian pada pasien COVID-19. Beberapa sitokin yang diekspresikan atau meningkat secara berlebihan pada individu yang terinfeksi SARS-CoV-2 diantaranya interleukin (IL) 1 (IL-1), IL-1 beta (IL-1尾), IL-4, IL-6, IL-7, IL-8, IL -10, IL-15, IL-17, tumor-necrosis-factor (TNF) alpha (TNF-伪), C-C motif chemokine ligand (CCL) 2 (CCL-2), CCL-3, CCL-4, CCL-7, CCL-20, ligan chemokine (C-X-C motif) ligand (CXCL) 1 (CXCL-1), CXCL-3, CXCL-10, dan CXCL-13. Sebagian besar penelitian telah menggambarkan profil sitokin terutama pada pasien COVID-19 yang parah, kritis, dan meninggal yang sudah menerima vaksinasi. Namun, sekitar 80% orang yang terinfeksi dan menunjukkan gejala hanya mengalami penyakit ringan atau sedang, bahkan sebelum vaksinasi. Oleh karena itu, profil sitokin di antara individu yang terinfeksi SARS-CoV-2 tingkat ringan hingga sedang yang telah menerima vaksinasi sebelumnya juga perlu diteliti lebih lanjut.

Kami telah melakukan penelitian laboratoris pada 61 sampel darah yang berasal dari 24 pasien rawat inap dengan infeksi SARSCoV-2 ringan hingga sedang, 24 orang sembuh dari infeksi SARSCoV-2 tanpa gejala hingga sedang, dan 13 kontrol sehat yang tidak terpapar SARS-CoV-2. Sampel diambil pada masa sebelum program vaksinasi COVID-19 dicanangkan. Kadar sitokin serum, yang meliputi IL-6, IL-8, IL-10, TNF-伪, CCL-2, CCL-3, CCL-4, dan CXCL-13, diperiksa menggunakan Luminex multi-analyte profiling (xMAP) assay. Hasilnya, kami menemukan bahwa kadar IL-8, CCL-2, dan CCL-4 secara signifikan lebih tinggi pada pasien rawat inap dengan infeksi SARS-CoV-2 ringan hingga sedang dan pada individu yang pulih dibandingkan dengan kontrol yang sehat. Di sisi lain, tidak ada perbedaan yang signifikan pada beberapa tingkat sitokin lainnya, termasuk IL-6, IL-10, TNF-伪, CCL-3, dan CXCL-13, di antara semua kelompok.

Interleukin-8 telah diidentifikasi sebagai biomarker sensitif pada pasien COVID-19 ringan dan berat serta disarankan sebagai indikator yang lebih baik untuk status penyakit COVID-19 secara keseluruhan. Kadar IL-8 dalam serum pasien COVID-19 ringan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan pada individu yang tidak terinfeksi dan meningkat lebih lanjut pada pasien derajat berat. Namun, dibandingkan dengan serum IL-6, yang meningkat secara nyata pada kasus yang parah, serum IL-8 mudah dideteksi pada pasien yang telah pulih dari COVID-19 hingga delapan bulan setelah mengalami infeksi ringan hingga sedang, dibandingkan dengan kontrol yang sehat dan tidak terpapar. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, kami mengamati tingkat IL-8 yang lebih tinggi tidak hanya pada orang Indonesia yang terinfeksi SARS-CoV-2 ringan hingga sedang, tetapi juga pada mereka yang sembuh. Peningkatan ekspresi IL-8 telah ditandai pada banyak kondisi peradangan pernapasan kronis, termasuk cedera paru akut, penyakit paru obstruktif kronik, dan cedera sel epitel paru.

Selain IL-8, CCL-2 atau monocyte chemoattractant protein-1 (MCP-1) adalah salah satu sitokin yang terlibat dalam regulasi migrasi dan infiltrasi monosit atau makrofag ke jaringan yang terinfeksi, termasuk paru-paru pada individu yang sehat. Dalam durasi infeksi SARS-CoV-2 yang lebih lama, yaitu dari 14 hari hingga empat minggu, kadar CCL-2 dilaporkan tidak berbeda di antara infeksi SARS-CoV2 berat dan ringan. Selain CCL-2, CCL-4 juga merupakan kemoatraktan untuk beberapa sel imun, khususnya sel T. Serupa dengan CCL-2, CCL-4 juga dilaporkan meningkat pada pasien COVID-19, baik pada kasus infeksi SARS-CoV-2 yang ringan, berat, maupun fatal. Namun, ekspresi yang jauh lebih tinggi diamati pada kasus-kasus ringan dan menunjukkan adanya hubungan dengan pemulihan serta berkurangnya peradangan melalui aktivasi sel T sitotoksik. Sejalan dengan itu, kami juga menemukan bahwa individu yang pulih dari infeksi SARS-CoV-2 menunjukkan tingkat CCL-4 yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol yang sehat.

Meskipun merupakan salah satu negara dengan kematian kumulatif tertinggi akibat COVID-19, bukti mengenai profil sitokin di antara individu yang terinfeksi SARS-CoV-2 tingkat ringan hingga sedang yang belum menerima vaksinasi di Indonesia sangat terbatas, dan belum ada data terkait penelitian pada individu yang sudah pulih sebelum mendapatkan vaksinasi. di Indonesia. Hingga Februari 2024, Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan kurang dari 90% dan 80% masyarakat Indonesia masing-masing menerima vaksinasi COVID-19 dosis pertama dan kedua. Oleh karena itu, hasil penelitian ini mungkin bermanfaat bagi individu yang belum menerima vaksin COVID-19 di Indonesia. Walaupun kadar IL-6, IL-10, TNF-伪, CCL-3, dan CXCL-13 mungkin tidak menjadi kekhawatiran di kalangan orang Indonesia yang belum divaksinasi, peningkatan kadar IL-8, CCL-2, dan CCL-4 mungkin perlu menjadi pertimbangan tersendiri. Peningkatan kronis sitokin peradangan telah diketahui terlibat dalam patofisiologi gejala sisa pasca COVID-19 atau Long COVID, termasuk sesak napas lama akibat kerusakan dan gangguan fungsi paru, kelelahan, dan gangguan saraf otonom. Kami juga menyarankan untuk mewaspadai kondisi peradangan yang berkepanjangan pada individu yang pulih supaya memerlukan perhatian lebih lanjut karena kemungkinan konsekuensi patologisnya dalam jangka panjang.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si.

Untuk membaca lebih lengkap, silahkan bisa diakses di

AKSES CEPAT