Diabetes mellitus merupakan kelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronik yang terjadi akibat gangguan kerja sekresi insulin. Hampir 90-95% penderita diabetes merupakan diabetes tipe II (DT2) yang umumnya diderita oleh orang dewasa (lebih dari 30 tahun) dan kelompok lanjut usia. Secara global, prevalensi DT2 terus meningkat pesat sejak tahun 1980 hingga 2014 sebesar 4.7 “ 8.5% dari penduduk dunia. Diabetes mengancam kesehatan manusia dan dapat menyebabkan kematian pada penduduk usia produktif. Pada tahap perjalanan alamiah penyakit diabetes, komplikasi mikrovaskular seringkali muncul pada kurun waktu yang tidak terlalu lama apabila tidak mendapatkan pengobatan secara tepat. Komplikasi yang timbul mayoritas diakibatkan oleh tidak terkontrolnya kadar gula darah penyandang diabetes. Nefropati dan retinopati diabetik merupakan dua jenis komplikasi mikrovaskular jangka panjang yang paling sering muncul pada penderita pasien DT2.
Nefropati diabetik merupakan gagal ginjal progresif yang ditandai dengan rusaknya system penyaringan dalam ginjal akibat adanya abnormalitas kandungan protein dalam urin (proteinuria) dan tekanan darah tinggi (hipertensi). Retinopati diabetik adalah gangguan penglihatan pada penderita DT2 yang apabila tidak tertangani dengan baik dapat mengakibatkan kebutaan permanen. Hal ini disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah di bagian retina mata. Di China, insidens nefropati diabetik pada pasien DT2 berkisar antara 20-40%. Sedangkan secara global, insidens retinopati diabetik mencapai 30%. Jika dibandingkan antara prevalensi nefropati dan retinopati, nefropati secara signifikan berpengaruh terhadap retinopati pada pasien DT2. Beberapa penelitian menyatakan bahwa retinopati merupakan salah satu faktor penting terjadinya nefropati pada pasien DT2. Komplikasi pada ginjal dan mata merupakan jenis komplikasi diabetes yang saling berhubungan.
Kajian penelitian epidemiologi secara sistematis menyebutkan beberapa faktor risiko terjadinya komplikasi mikrovaskular pada penyandang DT2 antara lain umur, jenis kelamin, obesitas, tekanan darah sistolik, durasi diabetes, kadar gula darah, perilaku merokok, kadar total kolesterol darah (dislipidemia), terapi insulin, dan penggunaan obat oral diabetes. Selain itu, adanya penyakit penyerta (komorbid) dan juga komplikasi makrovaskular seperti halnya hipertensi, gagal jantung kongestive, stroke dan penyakit jantung koroner (PJK) juga sangat mempengaruhi kelangsungan hidup penyandang DT2.
Diagnosis awal dan intervensi pengobatan pada komplikasi mikrovaskular penyandang DT2 merupakan hal yang sangat penting untuk mereduksi beban berat penyakit yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, mengidentifikasi faktor risiko dari perkembangan penyakit kronis ini diharapkan dapat membantu penentuan prioritas pelayanan kesehatan masyarakat pada kelompok yang memiliki risiko tinggi terjadinya komplikasi mikrovaskular. Dalam hal ini, diperlukan perhitungan angka prediksi komplikasi mikrovaskular secara spesifik untuk retinopati dan nefropati diabetik pada penyandang DT2. Beberapa model prediksi dini probabilitas komplikasi telah dikembangkan baik secara konvensional (regresi) maupun dengan pendekatan data sample besar dengan machine learning. Beberapa aplikasi hitung terbukti akurat sudah tersedia dalam bentuk kalkulator hitung yang siap digunakan dalam praktik secara klinis. Pedoman praktik klinis telah mendorong adanya penggunaan aplikasi risiko stratifikasi untuk mendefinisikan kelompok penderita DT2 dengan risiko tinggi versus rendah. Aplikasi hitung baik secara webpage maupun aplikasi pada ponsel pintar seperti Android system dapat diunduh dan diaplikasikan secara luas di beberapa platform aplikasi secara terbuka. Namun demikian, belum ada aplikasi hitung secara spesifik yang terbukti akurat dan presisi untuk dapat diaplikasikan di Indonesia. Kajian empiris dan penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk menentukan keakuratan prediksi hitung komplikasi mikrovaskular bagi penderita DT2 di tanah air. Hal ini diakibatkan oleh terbatasnya akses data riil pasien secara individu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas yang dapat digunakan untuk pengembangan prediksi, uji coba dan validasi prediksi hitung.
Komplikasi diabetes mikrovaskular bisa dihindari dengan pencegahan dan penanganan pasien DT2 secara optimal. Pola hidup sehat seperti pengaturan pola makan (terapi diet), aktivitas fisik (olahraga) secara rutin, pengobatan diabetes rutin (oral), dan tetap mengontrol gula darah supaya terjaga dalam batas normal. Perhitungan strata risiko dapat digunakan sebagai salah satu media skrining awal komplikasi mikrovaskular untuk meningkatkan dan mengoptimalkan efisiensi pengobatan pasien DT2. Penderita DT2 juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan mata (funduskopi) secara teratur dan tepat waktu untuk mendeteksi lesi retinopati yang bisa mengancam penglihatannya.
Penulis: Sigit Ari Saputro, S.K.M., M.Kes.Ph.D., (D.Sc.H)
Link Jurnal:





