UNAIR NEWS – Tri dharma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, merupakan sebuah tanggung jawab yang perlu segenap sivitas akademika penuhi. 51 (UNAIR) mendukung pemenuhan tanggung jawab ini melalui beragam program, termasuk salah satunya Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN-BBK). Program ini mendorong mahasiswa menyalurkan ilmu pengetahuan untuk membantu persoalan kompleks di masyarakat.
Salah satu tim KKN-BBK 7 UNAIR memberikan kontribusi nyata dalam bidang pendidikan dengan menginisiasi program Aku Teman yang Baik di MI Ma’arif Sidomukti, Kabupaten Gresik. Langkah ini diambil menyusul data KPAI tahun 2024 yang mencatat lebih dari 573 kasus perundungan di sekolah, di mana mayoritas korbannya adalah anak usia sekolah dasar. Melalui observasi mendalam, tim menemukan bahwa penguatan karakter sejak dini menjadi kunci utama dalam meminimalisir potensi perilaku perundungan di lingkungan sekolah.
Mengenal Program Aku Teman yang Baik
Program edukasi ini merupakan upaya preventif untuk menanamkan nilai empati dan perilaku positif sejak dini guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman. Selain itu, kegiatan ini merupakan wujud nyata dukungan terhadap poin SDGs 4 Quality Education dan poin SDGs 16 Peace, Justice and Strong Institutions Melalui pemahaman bentuk bullying verbal maupun fisik, mahasiswa berharap dapat mewujudkan sekolah ramah anak sebagai bagian dari misi Kampus Berdampak.
Ketua pelaksana Carissa Kattuk menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menciptakan Kampus Berdampak bagi masyarakat luas. “Saya berharap dengan dilaksanakan program Aku Teman yang Baik, anak-anak di MI Ma’arif Sidomukti khususnya anak-anak kelas 3 dapat memahami apa itu bullying dan dampak negatif yang ditimbulkan oleh bullying. Namun saya juga berharap mereka tidak hanya memahami tapi menerapkan perilaku Teman yang Baik dalam lingkup sekolah” ungkapnya dalam sesi wawancara.
Selama kegiatan, siswa diajak berinteraksi melalui metode yang menyenangkan namun tetap edukatif. Antusiasme terlihat saat para siswa mulai memahami dampak buruk dari bercanda yang berlebihan. Salah satu guru pendamping mengapresiasi langkah ini, mengingat 9% kekerasan terhadap anak justru dipicu oleh bullying teman sebaya.
Harapan Keberlanjutan Program
Penerapan karakter positif sejak dini diharapkan tidak hanya berhenti pada level edukasi di dalam kelas. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi pondasi bagi terciptanya ekosistem pendidikan yang harmonis di Gresik. Dengan bimbingan mahasiswa 51, diharapkan siswa MI Ma’arif Sidomukti dapat menjadi pelopor dalam menghapus tindakan perundungan teman sebaya dan menjadikan sekolah sebagai tempat belajar yang menyenangkan bagi semua.
Penulis: Tim BBK 7 Sidomukti





