UNAIR NEWS Upaya pengelolaan sampah organik berkelanjutan terus dikembangkan oleh mahasiswa 51动漫 (UNAIR) melalui Program BIONA (Biopori Datinawong). Program unggulan bidang lingkungan ini berlangsung pada Jumat (24/1/2026) di TPS Anugrah Bersama, Desa Datinawong. Melalui penerapan teknologi biopori, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNAIR berupaya mengurangi penumpukan sampah organik sekaligus mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bernilai guna dan ramah lingkungan.
Biopori sebagai Jawaban Pengelolaan Sampah Organik
Sebelum Program BIONA berlangsung, pengelolaan sampah organik di Desa Datinawong masih berjalan dengan cara mencampurkan sampah organik dan anorganik di TPS, lalu memusnahkannya menggunakan insinerator. Metode tersebut belum memungkinkan pemanfaatan kembali sampah organik dan berpotensi menimbulkan pencemaran udara.
Melihat kondisi tersebut, tim KKN UNAIR memilih biopori sebagai solusi pengolahan sampah organik di area TPS. Teknologi ini tim nilai sederhana, murah, serta mudah masyarakat desa terapkan, sehingga berpeluang untuk dilanjutkan secara mandiri setelah kegiatan KKN berakhir.
淏iopori dipilih karena mampu mengurangi volume sampah organik sekaligus mengubahnya menjadi kompos yang bermanfaat. Serta, mudah diterapkan oleh masyarakat desa, ujar Bonifasius Christian, PIC Program Kerja BIONA KKN UNAIR Desa Datinawong.
Tantangan Lapangan dan Hasil Monitoring Awal
Dalam pelaksanaannya, tim KKN menghadapi berbagai macam tantangan. Keadaan tanah yang cukup padat serta keterbatasan waktu dan tenaga saat pengeboran lubang biopori. Selain itu, sampah di TPS yang belum terpilah menyebabkan proses pemilahan sampah organik memerlukan upaya tambahan.
Meski demikian, tim KKN berhasil membuat dua lubang biopori sebagai pilot project. Hasil monitoring pada Selasa (28/1/2026) menunjukkan proses pengomposan berjalan dengan baik. Indikator keberhasilannya adalah dengan tidak adanya bau menyengat serta lalat dan belatung di sekitar biopori.
Keberhasilan tersebut mendapat dukungan oleh penggunaan larutan EM4 dan tetes tebu. EM4 berfungsi sebagai aktivator mikroorganisme yang mempercepat proses penguraian sampah organik. Sementara tetes tebu menjadi sumber nutrisi bagi mikroba sehingga fermentasi berlangsung lebih stabil, meskipun biopori berada di sekitar area TPS.
淜eberhasilan awal biopori ditandai dengan tidak adanya bau dan tidak ditemukannya lalat maupun belatung. Meskipun lokasinya berada dekat dengan TPS, jelas Bonifasius Christian.
Peran Aktif Desa dan Keberlanjutan Program
Keberhasilan Program BIONA juga mendapat dukungan oleh keterlibatan aktif perangkat desa dan staf TPS Anugrah Bersama. Mereka terlibat langsung mulai dari proses pembuatan hingga pengelolaan biopori, sehingga program ini mendapatkan respons yang sangat positif dari masyarakat setempat.
Ke depan, pengelolaan biopori akan perangkat desa kelola dengan pendampingan staf TPS melalui perawatan rutin berupa penyiraman larutan EM4 dan tetes tebu setiap satu minggu sekali. Selain bermanfaat untuk tanaman warga dan fasilitas umum, hasil kompos juga berpotensi berkembang sebagai produk bernilai ekonomi. Melalui pengembangan Program BIONA, harapan kedadepannya Desa Datinawong mampu mewujudkan sistem pengelolaan sampah organik yang mandiri, berkelanjutan, serta mendukung pencapaian SDGs poin 11 dan 12.





