51动漫

51动漫 Official Website

Program Dana Desa dan Partisipasi Tenaga Kerja di Wilayah Perdesaan

Meskipun pembangunan ekonomi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat pada tiga dekade terakhir, permasalahan kemiskinan khususnya di wilayah perdesaan masih menjadi problematika yang dihadapi negara-negara berkembang. Sebagai contoh pada tahun 2019 tingkat kemiskinan di perdesaan (13%) di Indonesia hampir dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kemiskinan di perkotaan (7%). Pada periode yang sama, sekitar sepertiga dari populasi Indonesia bekerja di sektor pertanian, dengan perempuan mencapai 26,3% dari seluruh pekerja di sektor pertanian, atau sekitar 34,54 juta orang.

Secara teoretis dan empiris, kemiskinan di perdesaan sangat terkait dengan pekerjaan di sektor pertanian. Secara khusus, pendapatan dari kegiatan yang berhubungan dengan pertanian terus menjadi sumber pendapatan yang penting bagi rumah tangga pertanian di kuintil pendapatan terendah dibandingkan dengan rumah tangga pertanian dari kuintil pendapatan teratas (Lowder et al, 2017). Upaya untuk mengentaskan kemiskinan di daerah perdesaan menjadi semakin menantang karena sifat pekerjaan di perdesaan yang kasual dan informal, serta fakta bahwa kegiatan pertanian cenderung berorientasi hanya pada pemenuhan kebutuhan hidup (De La O Campos et al, 2018). Terkait dengan masalah tersebut, beberapa negara telah menerapkan program kesejahteraan sosial yang ditargetkan (targeted program) untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kesempatan kerja di perdesaan (FAO, 2018).

Program Dana Desa (DD), yang diperkenalkan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 2014, merupakan program tata kelola desa tingkat nasional yang ambisius, yang mengalihkan tanggung jawab administratif dan sumber daya keuangan kepada lebih dari 79.000 desa di Indonesia, sehingga desa-desa tersebut memiliki otonomi untuk berinvestasi pada infrastruktur desa, sumber daya manusia, dan program penciptaan lapangan kerja. DD memberdayakan kepemimpinan desa dan masyarakat untuk membuat keputusan tentang prioritas pembangunan mereka dan untuk berinvestasi dalam prioritas ini. Dengan dasar tujuan umum tersebut, tidak mustahil DD berpotensi menciptakan peluang pasar tenaga kerja alternatif, khususnya bagi perempuan perdesaan yang dapat memberikan dampak lanjutan terhadap kesejahteraan rumah tangga dan mengurangi kemiskinan di daerah perdesaan.

Untuk melihat dampak dari program tersebut, Rammohan & Tohari (2021) menganalisis apakah program DD berdampak pada kesempatan kerja di wilayah perdesaan di Indonesia. Penelitian ini memanfaatkan data survey yang memiliki cakupan nasional dari SUSENAS (tahun 2012, 2013, 2017, 2019) yang mewakili periode sebelum dan sesudah pelaksanaan DD. Desain penelitian ini berfokus pada perbandingan perubahan di desa-desa yang merupakan penerima program DD, dibandingkan dengan desa-desa serupa di perkotaan yang tidak menerima program tersebut. Metode estimasi Difference-in-Differences (DiD) digunakan untuk mengestimasi dampak program DD di antara desa-desa (desa penerima Dana Desa-kelompok Perlakuan) dengan desa-desa perkotaan (Kelurahan, kelompok Kontrol), sebelum dan sesudah pelaksanaan program.

Hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program DD dapat mengurangi kemiskinan di perdesaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa-desa penerima program. Secara khusus, pelaksanaan DD mengurangi kemiskinan di perdesaan sekitar 1,7 poin persentase dibandingkan dengan di desa-desa perkotaan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa pelaksanaan program ini meningkatkan pengeluaran konsumsi per kapita rumah tangga miskin di desa-desa penerima program sekitar 3,1 poin persentase dibandingkan dengan rumah tangga miskin di daerah perkotaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa rumah tangga pertanian di desa-desa perdesaan mendapat manfaat yang relatif lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga non-pertanian.

Selanjutnya, penelitian ini menyelidiki apakah pola partisipasi angkatan kerja dapat membantu menjelaskan bagaimana program DD dikaitkan dengan tingkat kemiskinan yang lebih rendah di daerah perdesaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan sekitar sepuluh poin persentase dalam jam kerja mingguan di desa-desa perdesaan dibandingkan dengan desa-desa perkotaan setelah pelaksanaan program DD. Yang lebih menarik, terdapat peningkatan jam kerja yang relatif lebih tinggi pada perempuan di daerah perdesaan dibandingkan dengan laki-laki. Secara khusus, ada juga pergeseran dari sektor pertanian ke sektor jasa.

Secara umum, penelitian Rammohan & Tohari (2021) memberikan bukti empiris bahwa program DD meningkatkan kesempatan kerja di wilayah perdesaan di Indonesia. Peningkatkan kesempatan kerja tersebut, lebih lanjut, dapat mengurangi kemiskinan serta meningkatkan pengeluaran konsumsi per kapita rumah tangga miskin di desa-desa penerima program. Peningkatan kesempatan kerja terjadi melalui peningkatan jam kerja mingguan; yang mana peningkatan jam kerja tersebut lebih tinggi terjadi pada perempuan. Selain itu, program DD juga menyebabkan perluasan kesempatan kerja di sektor jasa. 

Penulis: Achmad Tohari, S.E., M.Sc.

Jurnal: Rural poverty and labour force participation: Evidence from Indonesia’s Village fund program

AKSES CEPAT