51动漫

51动漫 Official Website

Proses Penyembuhan pada Salah Satu Gangguan Mulut, Oral Traumatic Ulcer (OTU)

Ilustrasi Penderita Ulkus Oral (Sumber: iStock)
Ilustrasi Penderita Ulkus Oral (Sumber: iStock)

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting bagi manusia. Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi masalah gigi dan mulut di Indonesia mencapai 45,3%. Salah satu keluhan penyakit mulut yang banyak ditemukan di dunia adalah lesi oral. Ulkus oral, gangguan mulut yang umum terjadi pada masyarakat, ditandai dengan hilangnya jaringan ikat pada lapisan dasar mulut disertai degradasi dan defisiensi epitel mulut yang berkelanjutan. Ulkus oral memiliki beragam penyebab, diantaranya trauma, infeksi, alergi, kondisi kulit, penyakit autoimun, tumor, dan yang lainnya.

Trauma atau cedera pada jaringan mukosa dapat menyebabkan pembentukan oral traumatic ulcer. Oral traumatic ulcer biasanya berupa lesi tunggal di mulut yang terutama disebabkan oleh trauma. Trauma ini dapat bersifat mekanis, seperti iritasi akibat gigi tiruan lepasan, atau kimiawi, dan seringkali mempengaruhi area yang rentan cedera seperti bibir, mukosa mulut, atau area di dekat klamer (penahan) gigi tiruan. Sumber trauma umum lainnya meliputi gigi retak, tonjolan mahkota gigi yang tajam, atau komponen peralatan gigi. Di Indonesia, insiden oral traumatic ulcer adalah 93,3% dibandingkan dengan lesi oral lainnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Owczarek-Drabi艅ska dkk. (2022), 4,2% populasi berusia 1 hari hingga 17 tahun di Polandia barat daya mengalami Oral traumatic ulcer. Hasil studi yang dilakukan di Shanghai, Tiongkok, terhadap populasi berusia 17 hingga 92 tahun menunjukkan bahwa 1,23% populasi mengalami oral traumatic ulcer. Sementara itu, di Indonesia, hasil studi yang dilakukan terhadap populasi berusia 5 hingga 55 tahun menunjukkan bahwa 6,7% populasi mengalami oral traumatic ulcer. Kondisi ini dapat diperburuk oleh lingkungan rongga mulut yang dinamis, sehingga diperlukan perawatan yang dapat mengurangi rasa sakit, peradangan, dan mempercepat penyembuhan.

Secara klinis, oral traumatic ulcer ditandai dengan kerusakan lapisan epitel yang mencapai jaringan pendukung dengan batas yang jelas sehingga membentuk cekungan. Oral traumatic ulcer biasanya terasa nyeri dan tampak sebagai lesi merah dengan tepi menonjol dan pseudomembran nekrotik berwarna putih kekuningan yang mudah dibersihkan. Ulcer ini umumnya berkembang di mukosa bukal, lidah, dan bibir bawah. Gejalanya dapat mengganggu aktivitas pasien sehari-hari, sehingga penanganan yang tepat sangat penting untuk penyembuhan yang efektif. Penatalaksanaan oral traumatic ulcer dapat dilakukan dengan mengeliminasi faktor-faktor penyebab, seperti sumber trauma, penggunaan obat topikal seperti semprotan anestesi lokal, dan kortikosteroid topikal.

Perbaikan jaringan yang rusak (penyembuhan luka) merupakan proses yang rumit dan dinamis yang dibantu oleh berbagai proses seluler. Hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling merupakan empat fase penyembuhan luka. Jaringan parut hipertrofik dan penyembuhan luka yang tertunda dapat disebabkan oleh gangguan dalam proses penyembuhan. Jaringan parut hipertrofik berwarna kemerahan, menonjol, nyeri, dan gatal. Secara umum, jaringan parut hipertrofik akibat luka pada kulit lebih umum terjadi dibandingkan luka pada mukosa mulut. Oleh karena itu luka pada mukosa mulut lebih cepat sembuh dibandingkan di kulit.

Sebelum memilih penatalaksanaan yang tepat, dilakukan identifikasi terkait etiologi utama terjadinya oral traumatic ulcer. Identifikasi ini dilakukan dengan tujuan mengeliminasi penyebab utama oral traumatic ulcer. Selanjutnya, penatalaksanaan oral traumatic ulcer dapat dilakukan. Jika dalam dua hingga tiga minggu oral traumatic ulcer tidak membaik, disarankan untuk dilakukan biopsi insisi agar dapat dilakukan diagnosis histopatologi untuk mengamati kondisi oral traumatic ulcer ke arah keganasan atau tidak. Selain itu, pemberian anestesi topikal dan pemberian emolien dapat menjadi pilihan untuk membantu meredakan nyeri yang dirasakan pasien. Selain itu, infeksi sekunder akibat bakteri yang masuk ke area luka yang mungkin terjadi dapat ditangani dengan pemberian antibakteri pada oral traumatic ulcer.

Penggunaan antiseptik dan antibiotik topikal merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi oral traumatic ulcer di rongga mulut, salah satunya adalah obat kumur. Umumnya, antibiotik memiliki aktivitas antibakteri dengan spektrum sempit dan dapat menyebabkan resistensi obat sehingga diperlukan pemilihan antibakteri dengan spektrum luas. Contoh sediaan yang memiliki efek antibiotik sekaligus antiseptik adalah klorheksidin. Klorheksidin mampu menghancurkan plak gigi dan memiliki sifat antibakteri selama dua belas jam. Namun, antibiotik ini juga dapat menyebabkan rasa terbakar di lidah, gangguan pengecapan, perubahan warna gigi, dan iritasi pada mukosa esofagus jika tertelan. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan obat kumur yang mengandung antibiotik atau antiseptik dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidakseimbangan mikrobiota rongga mulut.

Penulis: Dr. Anis Irmawati, drg., M.Kes.

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT