Kota Kupang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), daerah tersebut memiliki prospek yang cemerlang untuk perkembangan ternak babi dengan tujuan utama untuk pembibitan dan penggemukan. Beberapa model perkandangan semi tradisional dan masih ada yang tradisional dengan lokasi dekat tempat tinggal pemiliknya, akan memungkinkan terjadi penularan penyakit parasit yang berpotensi zoonosis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2021) menunjukkan populasi ternak babi di NTT telah tersebar di 22 kabupaten/kota sebanyak 2.598.370 ekor. Populasi tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan jika dibanding pada tahun sebelumnya yaitu hanya mencapai 1.845.408 ekor (2016). Populasi ternak babi di Kota Kupang sebanyak 34.977 ekor, yang tersebar di enam kecamatan. Jumlah populasi babi yang besar serta pemotongan babi yang tinggi di Kota Kupang berpotensi terhadap timbulnya kasus penyakit parasit. Kasus penyakit pada babi akan berpotensi menyebar di wilayah peternakan dan sekitarnya karena masih ada peternakan babi yang berskala rumah tangga. Penyebaran penyakit dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain rendahnya penerapan manajemen peternakan dengan baik seperti perkandangan yang masih dibangun seadanya dengan lokasi dekat tempat tinggal, rendahnya sanitasi lingkungan disekitar kandang, rendahnya kesadaran peternak akan pencegahan penyakit pada babi khususnya yang disebabkan penyakit parasite.
Genus Entamoeba merupakan protozoa intestinal yang dapat menginfeksi kelas veterbrata termasuk manusia dan babi. Beberapa spesies yang bisa menginfeksi babi adalah E. suis, E. polecki, E. histolytica, E. coli dan spesies yang berpotensi zoonosis adalah E. polecki ST1, E. polecki ST3, E. histolytica dan E. coli. Identifikasi Entamoeba spp. di Indonesia masih banyak dilakukan secara morfologis dibawah mikroskop. Keadaan ini berpotensi menimbulkan kesalahan dalam diagnosa karena pengamatan secara morfologi tidak dapat membedakan antar spesies Entamoeba. Teknik molekuler merupakan teknik diagnosis yang memiliki tingkat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi.
Hasil pemeriksaan mikroskopis dari feses babi yang berasal dari Kota Kupang Nusa Tenggara Timur sebanyak 100 sampel yang berasal dari 8 daerah peternakan babi (Baumata, Nesi Paraf, Penfui, Fatukoa, Binilaka, Camplong, Tofa dan BTN), menunjukkan positif Entamoeba spp. sebesar 98% (98/100). Berdasarkan pemeriksaan PCR dengan menggunakan primer spesifik spesies menunjukkan hasil positif E. suis 98% (98/100). Selain itu juga terdeteksi E. polecki universal 44% (44/100) yang berasal dari Nesi paraf 8%, Penfui 4%, Fatukoa 10%, Binilaka 10%, Camplong 3%, BTN 3% dan Tofa 6%. Spesies Entamoeba lain yang terdeteksi adalah E. coli 30% (30/100) merupakan spesies yang zoonosis. Berdasarkan analisis phylogenetic tree dari E. polecki universal terdeteksi E. polecki ST3 di daerah Binilaka sebesar 22% (10/44), subtipe tersebut berpotensi zoonosis. Berdasarkan hasil temuan tersebut perlu dilakukan pencegahan sedini mungkin melalui edukasi kepada masyarakat untuk melakukan kebersihan kandang, dan diusahakan kendang jauh dari rumah tangga agar menghindari penularan amoebiasis terutama yang berpotensi zoonosis.
Penulis: Prof. Dr. Nunuk Dyah Retno Lastuti, drh., M.S
Informasi lengkap dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Biodiversitas. Volume 24, Number 1, January 2023. Pages: 233-240. ISSN: 1412-033X, E-ISSN: 2085-4722. DOI: 10.13057/biodiv/d240128
Chrismanto D, Lastuti NDR, Suwanti LT, Hastutiek P, Suprihati E, Kurniawati DA, Winarso A. 2023. Species diversity of Entamoeba and gastrointestinal parasites as co-infection in pigs in Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia. Biodiversitas 24: 233-240.





