51动漫

51动漫 Official Website

Psikologi Positif dan Negatif

IL by Thinktax

Perdebatan mengenai kesejahteraan manusia berkembang dengan pesat namun masih belum ditemukan definisi pasti (Dodge er al., 2012). Korelasi antara personality, life experience, wellbeing dan ill-being menjadi alasan utama terciptanya the theory of subjective wellbeing (SWB) yang dibangun berdasarkan pendekatan dynamic equilibrium (DE) (Headey & Wearing, 1989). Pendekatan tersebut didefinisikan sebagai kesejahterahteraan manusia yang berkaitan dengan satu sama lain (Herzlich, 1973). Subjective wellbeing mencakup reaksi emosional dan kognitif dalam menggambarkan kualitas hidup manusia. Hal tersebut mengusulkan tiga komponen kesejahteraan yang terpisah namun masih terdapat hubungan, yakni: (1) regular positive affect; (2) infrequent negative affect; and (3) cognitive assessments such as life satisfaction (Diener et al., 1999).

Psychological well-being dikenal sebagai consciouness, yakni kesadaran dalam suatu situasi dan penuh akan perhatian. Adanya rasa percaya diri dan kebenaran dalam pikiran, emosi dan perilaku juga termasuk kedalam psychological well-being. Aspek tersebut menuntut individu untuk berlatih, menetapkan tujuan, dan melaksanakan tindakan untuk mencapainya. Self-assertiveness merupakan kebiasaan menghormati keputusan dan minat orang lain dengan ekspresi yang tepat untuk menjaga keselarasan antara keyakinan dan tindakan seseorang. Harga diri bergantung pada perilaku yang diciptakan secara internal. Harga diri yang rendah menyebabkan individu menjadi lebih defensive, anxiety, depression, and relationship troubles. Oleh karena itu kebahagiaan, kesejahteraan, kebebasan manusia dan peristiwa merupakan hal yang saling berhubungan.

Free will merupakan salah satu cara menjadi manusia yang afektif Maslow (1981) dan Rogers (1989). Pernyataan tersebut didukung dengan menghadirkan masyarakat pada kehidupan manusia (Sappington, 1990).  Human freedom atau determinisme mengacu pada kemampuan individu mengatur dan memahami pola perilaku manusia. Determinisme menjelaskan filosofi di balik pembelajaran manusia yang tidak terlihat melalui faktor genetik, alam, dan lingkungan. Faktor-faktor ini memiliki aplikasi alami untuk semua perilaku manusia; sekali didirikan, mereka sangat sulit atau tidak mungkin untuk dimodifikasi. Misalnya, psikologi positif atau negatif manusia membantu memahami bagaimana seseorang bereaksi terhadap situasi yang unik. Ini n aspek psikologi manusia dikenal sebagai kapasitas bawaan, atau kemampuan yang ditampilkan seseorang untuk merespons rangsangan.

Ilmu Psikologi dan Perilaku Integratif psikologi berkembang di sekitar penemuan psikologi negatif segera setelah Perang Dunia II. Dengan melihat sekilas literatur afektivitas positif dan negatif, orang dapat memahami efeknya dengan lebih baik secara terpisah. Psikologi memiliki misi triangulasi untuk menemukan;  (1) menyembuhkan penyakit jiwa; (2) meningkatkan produktivitas dan pemenuhan hidup semua orang; dan (3) menemukan dan mengembangkan potensi luar biasa.

Penelitian ini berfokus pada penyebab dan penyelesaian penyakit manusia dan masalah fungsi yang buruk melalui psikologi negative. Bradburn (1969) menekankan pentingnya harga diri. Psikologi memiliki kemampuan teoritis untuk memberikan waktu dan sumber daya untuk pengalaman subjektif yang positif, atribut individu yang positif, dan institusi yang positif. Psikologi negatif dan positif dapat dilihat bersama dalam konteks kesejahteraan. Penelitian ini juga  meneliti bagaimana psikologi positif dan negative dapat dilihat secara bersamaan dalam konteks kesejahteraan, dengan menghubungkan free will dan determination dapat dikombinasikan dengan psikologi positif dan negative secara lebih fleksibel. Psikologi negatif dapat meningkatkan pemahaman kognitif struktur pemrosesan untuk mendukung keputusan yang lebih baik dan berkomunikasi dengan lebih efektif dalam penelitian perilaku individu.

Peneliti menggunakan Integrative research methods, yang merupakan jenis penelitian yang menggunakan literatur saat ini untuk menghasilkan pemahaman baru. Metode tersebut bertujuan untuk membantu peneliti mendapatkan wawasan tentang keyakinan saat ini yang dinilai akurat dan memungkinkan untuk menetapkan proposisi yang baru. Pada penelitian ini, peneliti menggabungkan konteks psikologis positif dan negatif, yang memiliki nilai berbeda dalam literature reviews tetapi jarang digabungkan dalam studi atau taksonomi pada well-being learning.

Literatur ini membantu memahami pentingnya psikologi positif dan negatif dari sudut pandang kesejahteraan (well-being point view). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh positif maupun negatif memiliki pengaruh khusus pada memori, penilaian, motivasi, dan perilaku sosial. Hasil penelitian juga mendukung psychology hypotheses yang mengemukakan bahwa affective statesaid dapat mengembangkan cognitive strategies yang tepat untuk menghadapi environmental challenges. Pengaruh positif penelitian ini konsisten dengan assimilative, top down processing of familiar, benign environments with pro-social behavior. Sedangkan, pada pengaruh negative, memengaruhi promotes controlled dan analytical methods berdasarkan pengetahuan yang diambil secara eksternal. Efektivitas positif mendorong simplistic heuristic, yakni berdasarkan kesadaran dan asumsi yang sudah ada sebelumnya. Sedangkan, pada Reverse psychology berfokus pada situasi di mana analisis sensitivitas diperlukan, di mana converse psychology fails. Psikolog berharap para peneliti dapat mengambil manfaat dari fenomena ini dalam penelitian psikologi.

Penulis: Dian Ekowati, S.E., M.Si., M.AppCom (OrgChg)., Ph.D.

Jurnal: Negative vs. Positive Psychology: a Review of Science of Well-Being

AKSES CEPAT