Cedera tulang rawan lutut merupakan masalah yang sering terjadi dan menjadi tantangan besar dalam dunia ortopedi. Tulang rawan tidak memiliki pembuluh darah, sehingga kemampuan penyembuhannya sangat terbatas. Akibatnya, kerusakan kecil sekalipun dapat berkembang menjadi nyeri kronis hingga osteoartritis. Pendekatan konvensional”mulai dari terapi konservatif hingga tindakan pembedahan”sering kali belum mampu memulihkan struktur tulang rawan secara optimal.
Salah satu pendekatan terbaru yang banyak diteliti adalah menggabungkan scaffold dengan adipose-derived mesenchymal stem cells (ADMSCs). Sel punca yang berasal dari jaringan lemak ini memiliki banyak keunggulan: jumlahnya melimpah, mudah diambil, serta mampu berkembang menjadi berbagai tipe sel, termasuk kondroblas pembentuk tulang rawan.
Penelitian ini meninjau berbagai studi yang mengombinasikan ADMSCs dengan scaffold, yaitu kerangka biomaterial yang berfungsi sebagai tempat melekatnya sel dan membantu membentuk jaringan baru. Pada halaman 9593“9594 artikel, dijelaskan bahwa scaffold menyediakan struktur berpori, kekakuan mekanik, serta sinyal biokimia yang membantu diferensiasi sel. ADMSCs kemudian merespons lingkungan ini dengan proliferasi, sekresi matriks ekstraseluler, dan pembentukan jaringan tulang rawan baru.
Beberapa jenis scaffold yang diteliti meliputi bahan alami hingga sintetis, seperti hydrogel chitosan“gelatin, PLGA/chitosan, tricalcium phosphate (TCP), hingga polycaprolactone (PCL) yang dapat dicetak menggunakan teknologi 3D-bioplotting. Tabel 1 pada halaman 9596 menunjukkan berbagai model penelitian mulai dari manusia, kelinci, babi mini, hingga anjing. Hampir semua studi melaporkan peningkatan regenerasi tulang rawan ketika ADMSCs dipadukan dengan scaffold dibandingkan tanpa sel punca.
Contohnya, studi oleh Zhang et al. menunjukkan bahwa bilayer scaffold berbasis PLGA/chitosan mampu membuat ADMSCs membentuk sferoid dan meningkatkan pembentukan tulang rawan hialin. Sementara itu, studi Nordberg et al. pada model babi mini memperlihatkan bahwa scaffold 3D berlapis yang ditanam dengan ADMSCs menghasilkan pengisian jaringan yang lebih baik dibandingkan scaffold tanpa sel. Hasil ini tampak jelas pada rangkaian laporan struktur jaringan di halaman 9594“9595.
Selain kemampuan diferensiasi, ADMSCs juga memiliki peran imunomodulator. Pada halaman 9599“9600 ditunjukkan bahwa sel ini mampu meredakan peradangan dengan menghambat aktivitas sel imun dan menghasilkan berbagai sitokin antiinflamasi. Efek ini sangat penting, karena lingkungan sendi yang meradang biasanya menghambat pembentukan tulang rawan baru.
Scaffold modern kini bahkan dapat dipadukan dengan faktor pertumbuhan seperti TGF-β, BMP-2, dan IGF-1, yang dilepaskan secara bertahap untuk meningkatkan pembentukan tulang rawan. Artikel pada halaman 9601 menjelaskan bahwa metode ini membantu meniru kondisi biologis alami sehingga regenerasi lebih optimal.
Meskipun hasil awal menjanjikan, tantangan tetap ada. Integrasi jaringan baru, kekuatan mekanik scaffold, degradasi biomaterial, hingga variasi respon sel masih membutuhkan penelitian lanjutan. Masa depan terapi ini kemungkinan akan melibatkan scaffold multifase yang semakin mirip jaringan manusia, serta rekayasa sel yang ditingkatkan melalui preconditioning atau modifikasi genetik.
Secara keseluruhan, kombinasi scaffold + ADMSCs merupakan salah satu pendekatan paling menjanjikan untuk regenerasi tulang rawan lutut. Dengan kemampuan membentuk jaringan baru, mengurangi inflamasi, dan memberikan hasil yang lebih baik dibanding terapi konvensional, teknologi ini membuka peluang besar untuk perawatan pasien cedera sendi di masa depan.
Penulis: Aliefio Japamadisaw, Kukuh Dwiputra Hernugrahanto, Dwikora Novembri Utomo
Informasi detail artikel:





