51动漫

51动漫 Official Website

Rekomendasi Evaluasi dan Perbaikan Desain Antarmuka Aplikasi Layanan Imigrasi

Sumber; Dosen Programming
Ilustrasi aplikasi (Sumber; Dosen Programming)

Aplikasi mobile telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, memudahkan akses informasi, hiburan, dan interaksi sosial. Dengan desain yang ramah pengguna dan mudah diunduh, aplikasi ini memberikan kenyamanan di berbagai perangkat seperti ponsel pintar, tablet, dan jam tangan pintar. Aplikasi mobile terdiri dari pengalaman pengguna (UX), yang berkaitan dengan kesan saat menggunakannya, serta antarmuka pengguna (UI), yang berfungsi sebagai tampilan visual untuk interaksi.

M-Paspor, yang diperkenalkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi Republik Indonesia pada tahun 2022, merupakan sebuah inovasi dalam mempermudah proses pengurusan paspor dengan menghilangkan kewajiban untuk mengantre di kantor imigrasi. Aplikasi ini memberikan kemudahan kepada pengguna untuk mengajukan permohonan paspor secara daring melalui perangkat ponsel, mengubah cara tradisional menjadi lebih cepat dan efisien. Meskipun aplikasi ini memiliki potensi yang besar untuk menyederhanakan proses administratif, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, seperti masalah akses login, antarmuka yang belum optimal, serta beberapa aspek kegunaan yang memerlukan perbaikan demi meningkatkan kepuasan pengguna.

Design thinking adalah metode inovatif yang berpusat pada pengguna untuk mengevaluasi pengalaman dan merancang antarmuka. Dengan memahami kebutuhan pengguna, pendekatan ini mendorong pemecahan masalah kreatif dan solusi inovatif. Melibatkan perspektif pengguna di setiap tahap desain, design thinking membantu menciptakan solusi yang relevan dan memberikan keunggulan kompetitif melalui inovasi.

Design thinking terdiri dari lima tahapan, yaitu empati, definisi, ideasi, prototipe, dan pengujian. Tahap empati merupakan langkah awal yang melibatkan pemahaman mendalam terhadap pengguna produk atau layanan. Untuk mencapai empati yang efektif, para perancang sering melakukan pengamatan terhadap pengguna dalam lingkungan alami mereka secara pasif atau melalui wawancara langsung dengan individu tersebut. Tahap berikutnya adalah definisi, di mana permasalahan yang dihadapi oleh pengguna diidentifikasi. Berdasarkan hasil wawancara dan pengujian kegunaan yang telah dilakukan, sejumlah permasalahan yang berkaitan dengan pengalaman pengguna selama menggunakan aplikasi M-Paspor akan dikumpulkan. Tahap ideasi bertujuan untuk menghasilkan berbagai gagasan yang dapat menjadi solusi dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh pengguna. Beberapa ide ini nantinya akan diimplementasikan pada tahap selanjutnya. Prototipe adalah proses penyusunan model eksperimental sederhana dari produk yang diusulkan, sehingga dapat dievaluasi seberapa baik kesesuaiannya dengan harapan pengguna melalui umpan balik yang diberikan. Tahap terakhir adalah pengujian, di mana prototipe yang telah dibuat diuji, dan solusi yang diajukan dievaluasi. Selanjutnya, dilakukan analisis dan evaluasi jika hasil pengujian menunjukkan adanya masalah atau kendala lain yang perlu diatasi.

Dalam penelitian ini, pengalaman pengguna akan diintegrasikan dalam pendekatan Design Thinking untuk meningkatkan aplikasi M-Paspor. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki fungsionalitas serta meningkatkan kepuasan pengguna. Penelitian ini akan memaparkan metode penelitian yang digunakan serta rincian pendekatan yang diusulkan, diikuti dengan deskripsi hasil penelitian dan diskusi yang relevan, serta kesimpulan yang ditarik dari temuan tersebut. Dalam kajian ini, diidentifikasi beberapa permasalahan terkait pengalaman pengguna (UX) pada aplikasi M-Paspor. Di antara permasalahan-permasalahan yang ditemukan, beberapa isu penting yang diangkat meliputi kesulitan pengguna dalam memilih lokasi kantor imigrasi untuk pengambilan paspor, yang disebabkan oleh waktu tunggu yang berkepanjangan dan antarmuka aplikasi yang membingungkan. Selain itu, terdapat pula masalah terkait proses loading yang terlalu lama, yang dapat dianggap tidak informatif dan membuat pengguna merasa bosan.

Pengalaman pengguna (User Experience/UX) aplikasi M-Paspor telah berhasil diuji melalui lima skenario pengujian kegunaan (usability testing), yang meliputi: proses login, pemilihan kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, peninjauan riwayat, akses terhadap detail informasi umum mengenai persyaratan paspor, serta pengeditan profil dengan mengisi alamat rumah. Pengujian ini dilakukan terhadap 15 responden yang memenuhi kriteria sebagai berikut: pria atau wanita, berusia antara 20 hingga 25 tahun, dan telah memiliki pengalaman menggunakan aplikasi M-Paspor. Hasil pengujian menunjukkan bahwa rata-rata aspek efektivitas mencapai 100%, sedangkan rata-rata aspek efisiensi berkisar antara 0,133 tujuan per detik hingga 0,197 tujuan per detik, dan rata-rata tingkat kepuasan pengguna mencapai 5,1 pada skala 1 hingga 7.

Terdapat tujuh gagasan utama yang diusulkan untuk meningkatkan antarmuka pengguna aplikasi M-Paspor, yaitu:

  1. Meningkatkan tampilan pemilihan kantor imigrasi.
  2. Menerapkan konsistensi dalam penggunaan margin, ukuran font, kalimat, serta tata bahasa yang baik dan benar.
  3. Menyediakan ikon untuk tombol-tombol yang diperlukan.
  4. Menambahkan fitur pencarian dalam bagian Informasi, FAQ, dan Pusat Bantuan.
  5. Mengintegrasikan fitur login menggunakan akun Google.
  6. Membuat banner pada halaman Beranda yang informatif dan dapat diklik.
  7. Menambahkan dialog konfirmasi dalam interaksi pengguna.

Usulan-usulan ini diharapkan dapat meningkatkan pengalaman pengguna dalam menggunakan aplikasi M-Paspor.

Penulis: Indah Werdiningsih, S.Si., M.Kom.

Link:

Baca juga: Evaluasi Kegunaan dan Desain Antarmuka Pengguna Aplikasi Mobile Vokasiku

AKSES CEPAT