Aplikasi Mobile biasa disebut sebagai mobile apps. Aplikasi Mobile telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Pada aplikasi mobile telah memainkan peran penting dalam mempermudah akses informasi, hiburan, dan interaksi sosial. Dengan desain yang ramah pengguna dan kemampuan untuk diunduh dengan mudah, aplikasi mobile memberikan kenyamanan yang tak tertandingi. Terutama dalam memenuhi kebutuhan pengguna di berbagai perangkat mobile seperti ponsel cerdas, tablet, dan jam tangan pintar. Aplikasi mobile terdiri dari dua komponen utama, yaitu pengalaman pengguna (UX) dan desain antarmuka pengguna (UI). UX merujuk pada perasaan setelah menggunakan layanan atau produk dalam aplikasi. Sedangkan desain antarmuka (UI) adalah tampilan visual yang memfasilitasi interaksi antara pengguna dan aplikasi mobile.
M-Paspor diperkenalkan oleh Direktur Jenderal Imigrasi Republik Indonesia pada tahun 2022. M-Paspor adalah sebuah terobosan dalam mempermudah pengurusan paspor dengan menghilangkan keharusan untuk mengantri di kantor imigrasi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengajukan permohonan paspor secara online melalui ponsel. Proses ini mengubah cara tradisional menjadi lebih cepat dan lebih efisien. Meskipun memiliki potensi besar untuk menyederhanakan proses administratif. Aplikasi ini masih menghadapi beberapa tantangan, seperti masalah login, antarmuka yang belum optimal, dan beberapa aspek kegunaan yang perlu diperbaiki guna meningkatkan kepuasan pengguna.
Design Thinking
Design thinking merupakan salah satu metode yang dapat mengevaluasi pengalaman pengguna serta merancang antarmuka pengguna. Metode design thinking sangat inovatif karena berpusat pada pengguna dan didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh pengguna. Pendekatan ini mempromosikan pemecahan masalah yang kreatif dengan fokus pada pengguna. Di mana para perancang mencari solusi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dengan memasukkan perspektif pengguna dalam setiap tahap proses desain. Design thinking mendorong terciptanya solusi yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Pendekatan ini sering dianggap sebagai “berpikir di luar kotak,” karena menggali cara-cara baru yang tidak terikat pada metode konvensional. Dengan menerapkan design thinking, organisasi dapat memperoleh keunggulan kompetitif melalui inovasi yang berorientasi pada pengguna.
Dalam penelitian ini, pengalaman pengguna akan digunakan dalam Design Thinking untuk memperbaiki aplikasi M-Paspor. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fungsionalitas dan kepuasan pengguna. Penelitian ini akan menguraikan metode penelitian dan detail pendekatan yang diusulkan, diikuti dengan deskripsi hasil penelitian dan diskusi, serta kesimpulan yang diambil dari penelitian tersebut.
Design thinking sendiri terdiri dari lima tahapan yaitu empathise, define, ideate, prototype, dan test. Emptahise (berempati) dengan pengguna. Design thinking tidak dapat dimulai tanpa pemahaman yang lebih dalam tentang orang-orang yang menggunakan produk atau layanan tersebut. Untuk mendapatkan empati terhadap orang-orang, perancang desain sering mengamatinya di lingkungan alaminya secara pasif atau melakukan wawancara dengan orang-orang tersebut. Define yaitu mendefinisikan permasalahan yang dihadapi oleh pengguna.
Hasil Wawancara dan Pengujian Usability
Dari hasil wawancara dan pengujian usability yang telah dilakukan, akan dikumpulkan beberapa permasalahan user experience atau pengalaman pengguna yang dihadapi oleh responden selama menggunakan aplikasi M-Paspor. Ideate yang bertujuan untuk menghasilkan ide-ide sebagai solusi dalam menjawab permasalahan yang dihadapi oleh pengguna. Beberapa ide yang nantinya akan diimplementasikan pada tahap selanjutnya. Prototipe adalah menyusun model eksperimental sederhana dari produk yang diusulkan sehingga dapat memeriksa seberapa cocok model itu dengan apa yang diinginkan pengguna melalui feedback yang diberikan. Test adalah pengujian prototipe yang sudah dibuat dan solusi yang diberikan. Kemudian melakukan analisis dan evaluasi jika pengujian yang telah dilakukan dirasa masih memiliki masalah atau kendala lain
Ditemukan beberapa permasalahan pada UX aplikasi M Paspor dan memilih beberapa permasalahan yang penting diantaranya adalah respon kesulitan memilih kantor imigrasi untuk lokasi pengambilan paspor karena ulur dan antarmuka yang membuat bingung, proses loading yang terlalu lama, tidak informatif dan membuat bosan.
Pengalaman Pengguna (UX)
Pengalaman pengguna (UX) aplikasi M-Paspor telah berhasil diuji melalui lima skenario task pengujian usability, yaitu melakukan login, memilih kantor Imigrasi Tanjung Perak Surabaya, melihat riwayat, mengakses detail informasi umum persyaratan paspor, dan mengedit profil dengan mengisi alamat rumah. Pengujian dilakukan terhadap 15 responden dengan kriteria pria atau wanita, berusia 20 “ 25 tahun, dan pernah mencoba menggunakan aplikasi M-Paspor. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata aspek efektivitas sebesar 100%, rata-rata aspek efisiensi berkisar antara 0.133 tujuan/dtk hingga 0.197 tujuan/dtk, rata-rata aspek kepuasan pengguna sebesar 5.1 (dalam skala 1 hingga 7).
Terdapat tujuh gagasan utama untuk meningkatkan desain antarmuka pengguna aplikasi M-Paspor. Tujuh gagasan itu adalah meningkatkan tampilan pemilihan kantor imigrasi, konsistensi penggunaan margin, ukuran font, kalimat, dan tata bahasa yang baik dan benar, menyediakan ikon untuk tombol yang diperlukan, menambahkan fitur pencarian dalam fitur Informasi, FAQ, dan Pusat Bantuan, menambahkan fitur login dengan akun Google, membuat banner di halaman Beranda secara informatif dan dapat diklik, serta menambahkan dialog konfirmasi.
Penulis: Indah Werdiningsih
Baca Juga: Profil Pasien Jerawat Ringan di RS Tersier Surabaya





