51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Resistensi Insektisida pada Nyamuk Vektor Demam Berdarah di Indonesia: Ancaman dan Solusi

Sumber: Health Kompas

Demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia, terutama ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Wabah sering terjadi saat musim hujan, ketika perkembangbiakan nyamuk meningkat. Selama puluhan tahun, pengendalian vektor andalannya adalah fogging (pengasapan) menggunakan insektisida kimia seperti organofosfat (misalnya malathion) dan piretroid (misalnya sipermetrin). Namun, studi sistematis terbaru (2025) mengungkapkan bahwa resistensi insektisida telah meluas di populasi nyamuk Indonesia, mengurangi efektivitas upaya pengendalian dan meningkatkan risiko penularan DBD.

Penelitian yang menganalisis 54 studi (2010“2023) menunjukkan bahwa resistensi terhadap malathion (0,8% dan 5%) sudah sangat luas. Hanya sedikit daerah seperti Kudus (Jawa Tengah), Gorontalo, dan sebagian Sulawesi Tenggara yang masih menunjukkan populasi nyamuk rentan. Demikian pula, temefos (larvasida organofosfat) menghadapi masalah serupa: 70% kabupaten/kota di Sumatera dan Jawa memiliki populasi nyamuk resisten. Beberapa daerah seperti Banda Aceh, Balikpapan, dan Jayapura masih rentan, tetapi trennya mengkhawatirkan. Pada insektisida piretroid, resistensi sipermetrin (0,05%) ditemukan hampir di seluruh Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi, sementara lambda-sihalotrin (0,03%) menunjukkan resistensi tinggi di sebagian besar wilayah kecuali Balikpapan. Deltametrin (0,025%) masih relatif efektif di 22 daerah seperti Padang dan Merauke, tetapi ini pengecualian.

Penyebab utama resistensi ini terletak pada mutasi genetik pada nyamuk. Studi mengidentifikasi dua mutasi kunci di gen Vgsc (Voltage-Gated Sodium Channel)V1016G dan F1534C. Mutasi ini mengubah struktur saluran sodium nyamuk, mengurangi ikatan insektisida piretroid sehingga efek racunnya berkurang. Frekuensi alel resisten V1016G mencapai 1,00 (100%) di Kuningan, Padang, Samarinda, Denpasar, dan Mataram, artinya hampir semua nyamuk di sana membawa gen resisten. Mutasi F1534C juga tersebar luas, meski frekuensinya bervariasi. Sementara itu, mutasi pada gen Ace-1 (target organofosfat) belum dilaporkan di Indonesia, menunjukkan resistensi terhadap kelompok ini mungkin disebabkan mekanisme lain seperti peningkatan detoksifikasi enzimatik.

Faktor pendorong resistensi meliputi penggunaan insektisida yang berlebihan dan tidak terkendali, baik untuk fogging, pertanian, maupun rumah tangga. Di tingkat rumah tangga, obat nyamuk bakar berbahan aktif piretroid (harga ~Rp 5.000/minggu) digunakan secara masif, meningkatkan tekanan seleksi pada nyamuk. Urbanisasi menciptakan lebih banyak tempat perkembangbiakan (seperti ban bekas dan bak terbuka), sementara faktor iklim (suhu, curah hujan) mempercepat siklus hidup nyamuk. Mobilitas penduduk juga menyebarkan nyamuk resisten ke daerah baru. Dampaknya jelas: efektivitas fogging menurun, populasi nyamuk sulit dikendalikan, dan kasus DBD terus meningkat (terlihat dari puncak kasus tahun 2020 dan 2023).

Untuk mengatasi krisis ini, pendekatan konvensional saja tidak cukup. Diperlukan strategi pengelolaan vektor terintegrasi (Integrated Vector Management/IVM) yang mencakup:

  1. Rotasi insektisida: Berganti-ganti jenis insektisida dengan mekanisme kerja berbeda untuk mencegah adaptasi nyamuk.
  2. Pemantauan resistensi rutin: Memetakan daerah resisten secara berkala menggunakan uji bioassay WHO dan analisis genkdr.
  3. Penguatan partisipasi masyarakat: Edukasi tentangPemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)dengan menguras, menutup, dan mendaur ulang wadah air, mengurangi ketergantungan pada insektisida.
  4. Eksplorasi metode non-kimia: Seperti pemeliharaan ikan pemakan jentik,Wolbachia, atautrappingberbasis teknologi.

Kolaborasi erat antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci. Tanpa intervensi terpadu, resistensi akan terus berkembang, mengancam upaya pengendalian DBD dan meningkatkan beban ekonomi serta kesehatan di Indonesia. Pemahaman mutasi genetik nyamuk lokal harus dimanfaatkan untuk merancang strategi spesifik daerah, sementara pengawasan lingkungan dan edukasi berkelanjutan menjadi pondasi utama pencegahan jangka panjang.

Penulis: Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh, M.Sc

Judul dan link artikel jurnal internasional terindeks scopus yang dituliskan menjadi opini.

Judul  : A systematic review of insecticide resistance in Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) and implications for dengue control in Indonesia

Link     :

Ridha MR, Yudhastuti R, Notobroto HB, Hidajat MC, Diyanah KC, Jassey B, and Rahmah GM A systematic review of insecticide resistance in Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) and implications for dengue control in Indonesia, Veterinary World, 18(3): 658-672. (2025). DOI: 10.14202/vetworld.2025.658-672 

AIP DOSEN_Jurnal internasional terindeks scopus_Prof. Dr. Ririrh Yudhastuti, drh, M.Sc

AKSES CEPAT