Tujuan: Untuk menyajikan resolusi lengkap dari pergeseran hiperopia pada sindrom kontraksi kapsul anterior (ACCS), sebuah komplikasi yang jarang terjadi pada operasi katarak.
Ilustrasi Kasus: Laporan kasus ini menampilkan seorang wanita berusia 63 tahun yang menderita ACCS di mata kanannya dua tahun setelah operasi katarak tanpa komplikasi dan implantasi lensa intraokular. Pergeseran hiperopia sedang sebesar +3,00 D tercatat pada mata yang terkena pada presentasi awal. Pemeriksaan slit-lamp menunjukkan kekeruhan kapsul anterior dan kontraksi kapsul anterior dengan fibrosis di sekitar pembukaan capsulorrhexis. Riwayat kesehatan mata dan sistemik di masa lalu biasa-biasa saja, dan tidak ditemukan faktor risiko yang diketahui terkait dengan sindrom kontraksi. Kapsulotomi laser Nd:YAG dengan enam sayatan relaksasi dilakukan untuk melepaskan kontraksi kapsul anterior. Dua minggu setelah kapsulotomi, ketajaman penglihatan pasien meningkat hingga LogMAR 0,0 tanpa koreksi. Hyperopia telah teratasi sepenuhnya, dan terjadi penurunan kedalaman bilik mata depan dibandingkan dengan pengukuran pra-kapsulotomi.
Diskusi: ACCS merupakan komplikasi yang mungkin terjadi setelah capsulorrhexis yang dilakukan pada operasi katarak yang lancar, yang dapat terjadi pada pasien yang tidak memiliki faktor risiko mata atau sistemik yang diketahui. ACCS umumnya tidak menunjukkan gejala, dan pergeseran hiperopik merupakan manifestasi yang jarang terjadi pada ACCS. Pergeseran lensa intraokular (IOL) ke belakang menyebabkan hipermetropia akibat kontraksi kapsul anterior. Perawatan pilihan untuk ACCS adalah relaksasi sayatan menggunakan kapsulotomi laser Nd:YAG.
Kesimpulan: Pergeseran hiperopia pada ACCS merupakan komplikasi operasi katarak yang jarang terjadi. Namun, pengobatan segera terhadap pelepasan kontraksi dengan kapsulotomi laser Nd:YAG secara efektif mengembalikan fungsi penglihatan.
Penulis: Intifada, Wahyuni, I., Hermawan, D.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di





