51动漫

51动漫 Official Website

Respon Pasar Saham terhadap Covid-19

ILUSTRASI bisnis.com
Ilustrasi pasar saham (foto: bisnis)

Pada akhir tahun 2019, tepatnya 31 Desember, dunia secara resmi diberitahu tentang wabah Covid-19 yang berasal dari Wuhan, . Hingga April 2021, virus ini telah menyebar ke 223 negara, menimbulkan kekhawatiran global. Per 24 Juni 2021, lebih dari 180 juta orang telah terinfeksi secara global, dengan lebih dari 3,9 juta kematian. Wabah ini memicu kegelisahan dunia, mendorong banyak negara menerapkan lockdown ketat untuk menekan penyebaran virus. Selain itu, wabah Covid-19 membawa dampak signifikan pada pasar modal, ditandai oleh penurunan harga di pasar saham, perubahan jam perdagangan di Bursa Efek Indonesia, serta penerapan kebijakan penghentian sementara perdagangan untuk mengurangi kekhawatiran di tengah ketidakpastian kapan pandemi akan berakhir.

Indeks Saham Syariah Jakarta, yang terdiri dari 30 saham emiten berklasifikasi syariah dengan kapitalisasi tertinggi dan jumlah transaksi harian terbesar di pasar, mengalami penurunan tajam pada Maret 2020 saat kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia. Tren volatilitas ini terlihat sejak sebelum pasien Covid-19 dikonfirmasi hingga April 2020, ketika jumlah kasus baru terus bertambah di Indonesia. Peningkatan kasus Covid-19 berdampak pada aktivitas pasar modal Indonesia, yang ditandai dengan penurunan berkelanjutan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Indonesia adalah negara ketiga yang paling terdampak oleh wabah Covid-19 dibandingkan negara-negara lain di Asia, dengan jumlah kasus tercatat sebanyak 2,9 juta kasus (World Health Organization, 2020). Di sisi lain, berdasarkan data yang dirilis oleh John Hopkins University, Indonesia mendapat predikat sebagai salah satu negara dengan penanganan Covid-19 terbaik di dunia. Pasar saham Indonesia termasuk salah satu yang paling berpengaruh di dunia, menjadikannya kandidat menarik untuk mempelajari reaksi pasar. ISSI adalah tolok ukur untuk indeks harga saham syariah Indonesia, yang mengalami penurunan lebih dari 17,27% dari 2 Januari 2020 hingga 2 Maret 2020, melebihi penurunan FTSE Sharia India (FTSWIND) pada periode yang sama.

Uraian fakta di atas menguatkan bahwa diperlukannya penelitian yang bertujuan untuk mengkaji pengaruh Covid-19 di Indonesia terhadap nilai pengembalian abnormal, aktivitas volume perdagangan, dan efisiensi Jakarta Islamic Index (JII), pasar saham syariah Indonesia. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengumuman Covid-19 secara global, pengumuman new normal, dan pengumuman vaksinasi Covid-19 memberikan reaksi pengembalian abnormal yang signifikan terhadap indeks JII, namun tidak memberikan reaksi yang signifikan terhadap aktivitas volume perdagangan.

Sampel dan Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat sekunder, meliputi tanggal peristiwa, perusahaan yang terdaftar di JII (Jakarta Islamic Index), history harga saham harian, dan volume perdagangan saham perusahaan yang terdaftar di JII. Periode peristiwa ditentukan selama 13 hari untuk setiap peristiwa yang diteliti, dimulai enam hari sebelum peristiwa (t-6), pada tanggal peristiwa (t+0), dan enam hari setelah peristiwa (t+6). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menerapkan metode Event Study untuk menganalisis pengaruh peristiwa terhadap pergerakan harga saham di pasar modal. Analisis dilakukan sebelum, selama, dan setelah peristiwa Covid-19. Pengaruh peristiwa terhadap nilai perusahaan umumnya diukur melalui harga saham dan volume transaksi. 

Hasil Penelitian

Peristiwa 1 (31 Des): Pengumuman global pandemi Covid-19 oleh PBB menyebabkan pengembalian abnormal negatif signifikan pada t+1 dan t+6, menandakan respons cepat pasar terhadap informasi negatif. Peningkatan volume perdagangan sebesar 23,7% menunjukkan aktivitas beli investor yang memanfaatkan harga saham yang lebih rendah untuk investasi jangka panjang.

Peristiwa 2 (2 Mar): Setelah kasus Covid-19 pertama di Indonesia, tidak ditemukan pengembalian abnormal yang signifikan. Volume perdagangan rata-rata meningkat 15%, mencerminkan tindakan jual investor sebagai langkah pencegahan di tengah ketidakpastian pasar

Peristiwa 3 (7 Apr): PSBB pertama di Indonesia tidak dianggap signifikan oleh investor, terlihat dari tidak adanya pengembalian abnormal yang signifikan. Namun, pengembalian abnormal rata-rata menurun, menunjukkan persepsi negatif investor. Peningkatan volume perdagangan rata-rata sebesar 9,67% disebabkan oleh tindakan jual investor.

Peristiwa 4 (15 Mei): Pengumuman new normal menghasilkan pengembalian abnormal signifikan pada t+6, dengan pengembalian rata-rata menurun sebesar 7% setelah pengumuman. Aktivitas volume perdagangan tidak menunjukkan perubahan signifikan, mencerminkan pendekatan wait-and-see investor di tengah ketidakpastian.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pasar modal syariah Indonesia tergolong dalam kategori semi-kuat, di mana harga saham mencerminkan semua informasi publik yang tersedia. Nilai pengembalian abnormal yang signifikan tidak bertahan lama, dan investor cenderung mengadopsi strategi wait-and-see di tengah kondisi yang tidak pasti. Penelitian menunjukkan bahwa PSBB pertama, pengumuman New Normal, dan rencana vaksinasi Covid-19 berdampak pada semua sektor, sesuai dengan analisis indeks JII. Namun, pengumuman global Covid-19 tidak menghasilkan pengembalian abnormal signifikan dalam analisis sektoral, meskipun ada di indeks JII. Ini terjadi karena tidak semua perusahaan JII terlibat dalam analisis sektoral. Analisis volume perdagangan menunjukkan peningkatan signifikan di Sektor Industri, terutama perusahaan energi dan pertambangan, dengan penurunan sektor masing-masing 0,6% dan 1,6% pada 31 Desember 2019. Namun, dampaknya tidak signifikan bagi semua emiten di indeks JII.

Implikasi Penelitian

Implikasi dari penelitian ini adalah dapat memberikan wawasan bagi pemangku kepentingan dalam memahami dampak peristiwa Covid-19 terhadap pasar saham syariah di Indonesia. Dengan memperhatikan bahwa pengumuman global Covid-19 dan peristiwa penting lainnya memengaruhi pengembalian abnormal, pemangku kepentingan diharapkan dapat mengembangkan strategi investasi yang lebih efektif. Selain itu, perhatian terhadap sektor energi, industri, dan konsumsi primer dapat membantu investor dalam mengidentifikasi peluang investasi yang menjanjikan di tengah ketidakpastian pasar. Penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi pengambil kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah yang mendukung stabilitas pasar, seperti menciptakan iklim investasi yang kondusif dan merespons cepat terhadap informasi penting.

Penulis: Bayu Arie Fianto, Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: 

AKSES CEPAT