51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Respons Ayam KUB terhadap Penambahan Enzim pada Ransum yang Rendah NSP

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) merupakan galur ayam lokal hasil seleksi yang dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai upaya peningkatan mutu ayam kampung. Saat ini, ayam KUB telah diperkenalkan dan dikembangkan oleh peternak di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Popularitas ayam ini terus meningkat seiring tingginya permintaan pasar, terutama karena kualitas dagingnya yang menyerupai ayam kampung asli, namun dengan produktivitas yang lebih tinggi. Tidak hanya unggul sebagai penghasil daging, ayam KUB juga menunjukkan performa produksi telur yang cukup baik, dengan hen-day production yang dapat mencapai 66%. Keunggulan tersebut menjadikan ayam KUB sebagai salah satu komoditas unggulan dalam pengembangan peternakan ayam lokal. Namun demikian, keberlanjutan usaha ternak ayam KUB masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait biaya pakan yang mencapai sekitar 60“70% dari total biaya produksi. Tingginya biaya pakan mendorong perlunya inovasi untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan menekan biaya produksi. Berbeda dengan ayam ras pedaging komersial, ayam lokal seperti KUB memiliki karakteristik fisiologis yang khas, antara lain pertumbuhan yang relatif lebih lambat, proporsi saluran pencernaan yang lebih besar, serta potensi produksi enzim pencernaan endogen yang lebih rendah. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa respons ayam KUB terhadap strategi nutrisi, termasuk suplementasi enzim pakan, dapat berbeda dibandingkan ayam broiler.

Efisiensi pemanfaatan pakan merupakan faktor kunci dalam menentukan produktivitas dan keuntungan usaha peternakan unggas. Salah satu kendala utama dalam pakan unggas adalah kandungan serat yang relatif tinggi pada berbagai bahan pakan nabati, yang dapat membatasi ketersediaan nutrien dan menurunkan efisiensi pakan, terutama pada ternak monogastrik seperti ayam. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan dan produksi, tetapi juga meningkatkan biaya akibat rendahnya kecernaan nutrien. Salah satu pendekatan yang banyak dikembangkan untuk mengatasi masalah tersebut adalah suplementasi enzim pakan. Enzim eksogen, seperti xilanase dan selulase, berperan dalam memecah non-starch polysaccharides (NSP) yang sulit dicerna oleh unggas. NSP merupakan komponen utama dinding sel tanaman yang tidak dapat didegradasi secara optimal oleh sistem pencernaan ayam. Dengan bantuan enzim, struktur serat dapat diurai, viskositas digesta menurun, dan pelepasan nutrien menjadi lebih optimal, sehingga meningkatkan kecernaan dan performa ternak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa suplementasi xilanase dan selulase memberikan hasil yang menjanjikan, terutama pada ransum berbasis biji-bijian dengan kandungan NSP tinggi, seperti gandum atau barley. Namun, respons terhadap enzim sangat dipengaruhi oleh jenis dan komposisi pakan. Ransum berbasis jagung dan bungkil kedelai umumnya memiliki kandungan NSP yang lebih rendah, sehingga efek penambahan enzim sering kali kurang nyata, kecuali jika ditambahkan sumber serat lain.

Dalam praktik peternakan rakyat di Indonesia, ransum berbasis jagung yang dikombinasikan dengan dedak padi masih banyak digunakan, termasuk pada pemeliharaan ayam KUB. Oleh karena itu, kajian ini menggunakan ransum rendah NSP untuk merepresentasikan kondisi lapangan dan memberikan informasi dasar mengenai sejauh mana suplementasi xilanase dan selulase mampu memberikan manfaat nyata pada ayam KUB. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi pijakan awal bagi pengembangan strategi pakan yang lebih efisien dan sesuai dengan karakteristik ayam lokal, serta membuka peluang penelitian lanjutan menggunakan formulasi pakan dengan kandungan serat yang lebih tinggi.

Penulis: Prof. Dr. Mirni Lamid, drh., M.P

Nama jurnal: Advances in Animal and Veterinary Sciences

Link jurnal:

AKSES CEPAT