Perawatan implan gigi kini menjadi solusi penting bagi banyak pasien yang kehilangan gigi, terutama pada bagian gigi geraham. Namun, pemasangan implan gigi bukanlah tindakan sederhana. Dokter gigi harus memastikan implan ditempatkan pada area tulang rahang yang baik, serta tidak mengenai saluran saraf mandibula (mandibular canal) yang berperan mengatur sensasi area bibir dan dagu. Kesalahan kecil dapat menimbulkan mati rasa hingga komplikasi serius. Selama ini, dokter gigi menggunakan citra Cone-Beam Computed Tomography (CBCT) untuk mengamati struktur tulang alveolar dan posisi saluran saraf tersebut. Proses ini dilakukan secara manual, membutuhkan waktu cukup lama, dan sangat bergantung pada ketelitian dan keahlian dokter.
Sebuah terobosan baru hadir melalui teknologi kecerdasan buatan bernama DIR-YOLO (Dental Implant Recommendation-YOLO), hasil kolaborasi peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember dan 51¶¯Âþ. Sistem ini dikembangkan dari arsitektur YOLOv8, teknologi visi komputer yang dikenal dalam tugas deteksi dan segmentasi gambar. DIR-YOLO mampu secara otomatis menandai area tulang alveolar dan saluran saraf mandibula pada citra CBCT, menentukan zona aman pemasangan implan, dan bahkan memberikan rekomendasi ukuran implan (diameter dan tinggi) yang sesuai untuk setiap pasien. Dengan demikian, sistem ini dapat mendukung dokter dalam pengambilan keputusan klinis yang lebih cepat dan presisi.
Dalam penelitian yang melibatkan 607 citra CBCT dari 30 pasien, DIR-YOLO menunjukkan performa segmentasi yang sangat baik. Model ini mencapai mean Dice Similarity Coefficient (mDSC) sebesar 92,12% dan rata-rata Hausdorff Distance 0,96 mm, yang menunjukkan kemampuan tinggi dalam membedakan dan mengikuti batas anatomis tulang dan saluran saraf dengan kesalahan kurang dari 1 mm. Selain itu, kecocokan rekomendasi dimensi implan yang diberikan sistem dengan dua dokter ahli menunjukkan tingkat kesesuaian sangat kuat dengan nilai Weighted Cohen™s Kappa mencapai 0,83“0,93, membuktikan sistem ini mampu menghasilkan rekomendasi mendekati keputusan klinis dokter.
Teknologi ini menawarkan manfaat besar. Proses evaluasi implan dapat berlangsung lebih cepat, risiko cedera saraf dapat diminimalkan, dan akurasi perencanaan meningkat. Jika diintegrasikan ke dalam perangkat lunak radiologi klinik maupun rumah sakit, DIR-YOLO berpotensi mempercepat layanan kedokteran gigi dan meningkatkan standar baru dalam perencanaan implan.
Walaupun hasilnya menjanjikan, penelitian ini memiliki beberapa batasan, misalnya belum mendukung kasus kehilangan beberapa gigi berderet dan visualisasi implan masih berbentuk kuboid, belum menyerupai bentuk silinder implan sesungguhnya. Peneliti berencana mengembangkan sistem ke tahap lebih lanjut, termasuk analisis kualitas tulang dan visualisasi 3D yang lebih realistis.
DIR-YOLO menandai langkah maju pemanfaatan kecerdasan buatan dalam kedokteran gigi di Indonesia. Dengan kemampuan menganalisis anatomi rahang secara otomatis dan memberikan rekomendasi implan yang akurat, teknologi ini berpotensi menjadi asisten digital yang memperkuat praktik klinis dan meningkatkan keselamatan pasien.
Penulis : Eha Renwi Astuti
Informasi detail dapat diakses pada tautan berikut :





