51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Risiko Geopolitik Tekan Pembiayaan Bank

Ilustrasi Bank (foto: future skill)

Risiko geopolitik kini menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi stabilitas ekonomi global. Konflik antarnegara, perang, atau aksi terorisme tidak hanya menimbulkan ancaman keamanan, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian dan sektor keuangan. Ketegangan politik global terbukti dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi, menekan investasi, dan menghambat aktivitas perdagangan. Dalam konteks ini, sektor perbankan menjadi salah satu yang paling sensitif terhadap gejolak geopolitik karena fungsinya yang erat kaitannya dengan pembiayaan sektor riil.

Kajian mengenai hubungan antara risiko geopolitik dan kinerja perbankan masih terbatas, terutama di kawasan Gulf Cooperation Council (GCC). Kawasan ini kerap menghadapi dinamika politik dan keamanan, seperti Perang Teluk, blokade Qatar, dan konflik di Yaman. Selain itu, negara-negara GCC juga bergantung pada ekspor minyak, yang menjadikan sektor keuangan mereka rentan terhadap ketidakpastian global.

Analisis yang dilakukan terhadap 64 bank di kawasan GCC pada periode 1990“2023 menunjukkan bahwa peningkatan risiko geopolitik menurunkan pertumbuhan kredit bank. Dampak ini tidak hanya muncul sesaat, tetapi dapat bertahan hingga tiga tahun setelah gejolak terjadi. Ketika ketidakpastian politik meningkat, bank cenderung lebih berhati-hati, memperketat pinjaman, dan menyimpan lebih banyak likuiditas sebagai langkah antisipatif.

Temuan ini juga memperlihatkan perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional. Bank syariah lebih tangguh terhadap risiko geopolitik global karena prinsip keuangannya yang berbasis sektor riil dan pembagian risiko. Namun, ketika konflik terjadi di kawasan sendiri, kinerja bank syariah justru menurun. Sebaliknya, bank konvensional lebih rentan terhadap guncangan global tanpa perbedaan mencolok dari sisi ukuran, modal, atau likuiditas.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa stabilitas sektor keuangan sangat bergantung pada kondisi politik dan keamanan. Bank-bank kecil dengan likuiditas rendah menjadi pihak paling rentan ketika ketegangan meningkat. Karena itu, penguatan perbankan syariah, peningkatan rasio likuiditas, serta kerja sama regional dalam menjaga stabilitas kawasan menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan.

Selain itu, kebijakan makroprudensial dan pengawasan yang lebih ketat perlu diterapkan sejak dini untuk mengantisipasi dampak negatif dari ketegangan geopolitik. Upaya memperluas perbankan syariah yang berorientasi pada sektor riil juga dapat menjadi strategi jangka panjang dalam menjaga ketahanan ekonomi kawasan.

Penulis: Penulis: Bayu Arie Fianto, Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT