51动漫

51动漫 Official Website

Risiko Tuberkulosis Aktif pada Anak dengan Kontak Rumah Tangga Dewasa yang Terinfeksi TB

Risiko Tuberkulosis Aktif pada Anak dengan Kontak Rumah Tangga Dewasa yang Terinfeksi TB
Ilustrasi anak dengan TBC (Foto: Halodoc)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi penyakit menular yang mengkhawatirkan, terutama di negara Indonesia. Penyakit TB menyerang berbagai kelompok usia, dengan anak memiliki risiko lebih tinggi karena daya tahan tubuh mereka yang belum sepenuhnya berkembang. Jika seorang anak tinggal dengan anggota keluarga dewasa yang terinfeksi TB, risiko mereka untuk tertular penyakit ini akan meningkat secara signifikan. Studi ini mengulas beberapa faktor yang berperan dalam peningkatan risiko infeksi TB pada anak-anak yang memiliki kontak dekat dengan penderita TB di rumah.

Studi yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Surabaya, Jawa Timur, menganalisis data medis anak-anak yang pernah tinggal bersama orang dewasa yang menderita TB. Studi ini melibatkan 367 anak di bawah usia 18 tahun yang dirawat di rumah sakit antara tahun 2010 hingga 2018. Studi ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berperan penting dalam meningkatkan risiko TB pada anak-anak tersebut. Beberapa faktor yang dianalisis dalam penelitian ini adalah usia anak saat terdiagnosis TB, status gizi, status vaksinasi BCG, dan status HIV.

Hasil menunjukkan bahwa usia anak, terutama anak di bawah 5 tahun, merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya TB aktif. Anak-anak di bawah 5 tahun memiliki risiko sekitar 8 kali lebih tinggi untuk mengembangkan TB aktif dibandingkan dengan anak-anak yang lebih tua. Kemungkinan ini muncul karena anak kecil memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum kuat untuk melawan infeksi. Selain itu, status gizi juga ditemukan sebagai faktor penting. Anak-anak dengan malnutrisi berat cenderung lebih mudah terkena infeksi, termasuk TB, karena tubuh mereka tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan bakteri penyebab TB. Dalam penelitian ini, anak-anak yang mengalami malnutrisi berat memiliki risiko hampir 9 kali lipat lebih besar untuk terinfeksi TB aktif dibandingkan dengan anak-anak yang gizinya baik.

Selain itu, vaksinasi BCG, yang biasa diberikan untuk mencegah TB, juga memengaruhi risiko infeksi. Anak-anak yang tidak memiliki bekas luka vaksin BCG ditemukan memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena TB aktif. Bekas luka ini menandakan bahwa anak tersebut telah mendapatkan vaksin BCG, yang dianggap dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi TB. Dalam penelitian ini, anak-anak yang tidak memiliki bekas vaksin BCG memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar memiliki TB aktif dibandingkan anak yang memiliki bekas tersebut.

Faktor lain yang juga berperan adalah status HIV. Anak-anak yang positif HIV memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk terkena TB aktif karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga lebih rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk TB. Dalam penelitian ini, anak-anak dengan status HIV positif memiliki risiko sekitar 5 kali lebih tinggi untuk mengembangkan TB aktif dibandingkan dengan anak-anak tanpa HIV.

Studi ini memberikan wawasan yang penting untuk langkah pencegahan yang lebih efektif terhadap TB pada anak-anak, khususnya mereka yang tinggal bersama penderita TB. Mengetahui bahwa usia muda, malnutrisi berat, tidak adanya bekas vaksinasi BCG, dan status HIV positif adalah faktor risiko utama, para tenaga kesehatan diharapkan lebih waspada dan segera melakukan pemeriksaan TB pada anak-anak yang memiliki faktor-faktor risiko ini. Pemeriksaan dan intervensi dini sangat penting agar anak-anak yang berisiko dapat memperoleh perawatan yang sesuai dan mengurangi kemungkinan penyebaran TB di lingkungan rumah tangga.

Penulis: Retno Asih Setyoningrum, Rizky Arisanti Maharani, Rika Hapsari, Arda Pratama Putra Chafid

Link:

Baca juga: Kesiapan Pasien Tuberkulosis Menggunakan Layanan Telecare

AKSES CEPAT