n

51

51 Official Website

Rohingya, Korban Terorisme Negara

rohingya
Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, MA., Ph.D., saat ditemui di ruang kerja. (Foto: Defrina Sukma S)

UNAIR NEWS Etnis Rohingya merupakan korban dari terorisme negara. Itulah pernyataan tegas pakar hubungan internasional Baiq Lekar Sinayang Wahyu Wardhani, MA., Ph.D., saat ditemui UNAIR News, Jumat (8/9).

Baiq yang merupakan dosen Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 51 tersebut mengatakan terorisme umumnya dilakukan oleh kelompok kepentingan. Namun, pada Rohingya, negara yang punya sejarah pemerintahan oleh junta militer itu telah melakukan aksi teror kepada etnis Indo-Arya di Rakhine.

Saya menganggap pemerintah setempat (Myanmar, -red) telah melakukan tindakan terorisme. Hal ini dilihat dari kriteria-kriteria sebagai bentuk tindakan terorisme seperti melakukan kekerasan, pemaksaan, dan hal ini dilakukan secara sistematis, ungkapnya.

Baiq menyayangkan, negara yang seharusnya mempunyai tugas untuk melindungi rakyatnya malah berlaku sebaliknya. Bahkan, menurut Baiq, tindakan terorisme pemerintah Myanmar dilakukan secara halus dan terang-terangan.

Mereka tidak memiliki fasilitas untuk mengakses pendidikan dan kesehatan karena tidak memeliki tanda penduduk. Ini adalah bentuk terorisme dengan cara yang paling halus. Kalau cara yang kasar ya dengan mengusir mereka dari Myanmar, imbuhnya.

Menurutnya, pemerintah Myanmar saat ini melancarkan isu baru terkait pengusiran Rohingya. Isu pengusiran yang dilakukan pemerintah adalah upaya mengusir kelompok separatisme yang membahayakan kedaulatan negara.

Sikap separatis itu tidak pernah dilakukan oleh etnis Rohingya kepada negara. Jika ada, kapan mereka melakukan tindakan separatis itu? Padahal pengusiran terhadap etnis Rohingya sudah dilakukan sejak lama dan klaim kalau mengusir separatis baru mencuat sekarang. Ini tidak masuk akal, papar Baiq.

Isu lainnya yang muncul adalah upaya etnis Rohingya bakal membuat negara sendiri. Namun, doktor lulusan Universitas Monash ini tak sependapat. Rekam jejak penindasan negara terhadap etnis ini sudah dilakukan sejak awal Myanmar merdeka.

Baiq menambahkan, jika kasus ini terus berlanjut bukan tidak mungkin akan memunculkan jaringan teroris baru di kawasan Rakhine yang menjadi tempat mukim etnis Rohingya bersama dengan berbagai etnis setempat.

Dalam situasi kacau dan tidak teratur ini memang menjadi tempat paling subur untuk muncul terorisme baru. Wong negaranya saja melakukan itu kok kepada rakyatnya. Maka sangat mungkin akan ada jejaring baru, pungkas Baiq.

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Defrina Sukma S

AKSES CEPAT