51动漫

51动漫 Official Website

Royal Jelly Dapat Meningkatkan Kesuburan Betina Karena Stress Bising

Foto by Merdeka

Stres adalah suatu kondisi dimana tubuh individu gagal mengontrol keseimbangan tubuh karena perubahan lingkungan yang mendadak. Paparan kebisingan yang kontinyu tidak hanya berdampak pada organ tubuh pendengaran, tetapi juga memiliki efek samping pada neurofisiologis dan psikologis. Paparan pada kebisingan yang terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan stress secara terus menerus pada poros hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA), menyebabkan gangguan reproduksi pada perkembangan folikel di ovarium (folikulogenesis), karena ada gangguan pada Sekresi FSH dan LH akan menyebabkan gangguan pada folikulogenesis.

Jumlah folikel yang berkembang di ovarium dipengaruhi oleh respon sel granulosa folikel terhadap hormon FSH. Folikel yang dipengaruhi oleh rangsangan FSH akan tumbuh ke tahap pematangan oosit. Penelitian yang dilakukan oleh Taixeria dkk., (2017) membuktikan bahwa royal jelly dapat menurunkan kadar kortikosteron pada tikus diinduksi stres dingin, karena royal jelly mengandung asam lemak 10-HDA yang dapat menghambat produksi kortikosteron yang dirangsang oleh ACTH. Selain itu, royal jelly mengandung protein yang dikenal sebagai Mayor Royal Jelly Proteins (MJRPs). Royal jelly saat ini banyak digunakan sebagai makanan suplemen, karena dipercaya dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat royal jelly juga dapat mencegah dampak negatif dari paparan stress bising pada jumlah folikel tikus.

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa royal jelly dapat mempengaruhi kesuburan dalam mempertahankan jumlah folikel pada proses folikulogenesis mencit yang mengalami stress karena paparan kebisingan. Penelitian ini menggunakan 25 ekor mencit betina berumur 2-3 bulan dengan berat badan dari 20g. Mencit diberi royal jelly secara oral selama 28 hari kemudian dilanjutkan dengan paparan bising sebesar  94dB. Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari (K-) bukan royal jelly maupun paparan kebisingan, kelompok (K+) tidak diberikan royal jelly tetapi diberikan paparan kebisingan, kelompok diberikan royal jelly 1,75 mg/hari dan paparan kebisingan, kelompok diberikan royal jelly 3,50 mg/hari dan paparan kebisingan, dan kelompok diberi royal jelly 5,25 mg/hari dan paparan kebisingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada folikel primer dan sekunder (p>0,05). Namun, ada perbedaan yang signifikan pada folikel tersier dan folikel de Graff antara kelompok kontrol normal tanpa paparan dan kelompok tanpa royal jelly dengan paparan royal jelly dengan dosis 1,75 mg/hari, kelompok dosis royal jelly adalah 3,50 mg/hari, namun tidak berbeda nyata dengan kelompok dosis royal jelly 5,25 mg/hari (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa dosis 5,25 mg/hari royal jelly dapat digunakan secara efektif dalam meningkatkan jumlah folikel tersier dan deGraff folikel.

Penulis: Epy Muhammad Luqman

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di

Nama jurnal: Himalayan Journal of Agriculture

Link jurnal: 

AKSES CEPAT