Saya pernah mendengar cerita tentang insiden kebakaran di Kebun Binatang di negara Thailand dimana beberapa binatang termasuk sekawanan gajah mati terbakar. Hasil penyelidikan pihak berwajib menemukan bukti yang mencengangkan yaitu ternyata kerangkeng besi tempat para gajah itu mati pintunya tidak dikunci. Gajah-gajah itu karena terbiasa hidup di kerangkeng yang terkunci, maka mereka tetap mempunyai anggapan bahwa kerangkengnya itu dikunci rapat-rapat sehingga mereka membiarkan dirinya terbakar api.
Cerita matinya gajah-gajah di Kebun Binatang Thailand itu dijadikan contoh dalam studi kasus ilmu manajemen dan ilmu psikologi yaitu seseorang atau masyarakat tidak bisa berfikir 渙ut-of-the box thinking, berfikir mencari solusi alternatif atas suatu masalah karena terkungkung oleh keterbatasan-keterbatasan yang dibuat sendiri seperti pada gajah-gajah tersebut dimana keterbatasannya itu adalah punya pikiran tidak bisa keluar kerangkeng karena menganggap kerangkengnya itu terkunci seperti biasanya.
Pada tanggal 1 April 2026 saya minta ijin direktur Rumah Sakit Pendidikan Unair (RSUA) Dr. Muhammad Ardian untuk share pengetahuan saya yang sedikit tentang strategi media RSUA dengan jajaran Direktur, Wakil Direktur, Manajer, bagian Humas dan Marketing. Saya berharap para jajaran RSUA itu untuk memiliki semangat tinggi menyebarkan berita bagus, berita positif, good-news tentang RSUA. Harapan saya itu berdasarkan asumsi saya yang sangat subyektif yaitu mereka itu seperti cerita gajah diatas memiliki keterbatasan dalam hal tidak berani untuk memiliki sikap 渉igh profile dalam menyebarkan good news itu. Misalkan 渢akut dinilai sombong atau 渏angan saya yang bicara, serahkan yang lain saja dsb.
Untuk menyebarkan berita-berita baik itu tentu RSUA harus mampu mengidentifikasi siapa audience-nya. Pikiran yang tradisional masih menganggap bahwa audience sebuah Rumah Sakit itu sebagian besar hanyalah pasien. Padahal kalau kita identifikasi, audience RSUA itu sangatlah luas antara lain Kementrian Kesehatan, Rektor Unair, pasien dan keluarga pasien, mahasiswa FK Unair dan Universitas lain, para alumni FK Unair, tamu-tamu RSUA baik dari dalam maupun luar negeri, Pemerintah Daerah dan Pusat (termasuk DPRD dan DPR), asosiasi-asosiasi kepakaran seperti Asosiasi dokter Obgyn, dokter bedah, dokter anak dsb baik yang ada didalam maupun luar negeri, IDI, FK-FK di Indonesia, industri media, Rumah Sakit mitra nya RSUA sepereti RS Pendidikan UI, UGM, Rumah Sakit binaan RSUA dst dst.
Selain itu RSUA harus mampu mengidentifikasi objek-objek dalam RSUA yang bisa menjadi subyek konten penyebaran berita-berita bagus, misalkan antara lain informasi tentang kepakaran para dokter dan Guru Besar dibidang kesehatan, kehidupan para dokter, perawat dan pegawai RSUA, alat-alat baru yang dimiliki RSUA, kebersihan kamar dan dapur RSUA, testimoni para pasien yang dirawat di RSUA, testimoni para dokter dan perawat yang magang di RSUA, rate of success atau tingkat keberhasilan dalam menangani penyakit yang 渃omplicated, rate of admission atau jumlah pasien RSUA setiap hari dan masih banyak lagi.
Selain itu perlu dimunculkan 淩SUA Response, yaitu respon para dokter, para guru besar terhadap isu-isu strategis dibidang kesehatan misalkan tentang gejala masuknya penyakit varian baru ke Indonesia, strategi menghadapi perubahan cuaca atau climate change, pentingnya mengetahui obat-obat tradisional Indonesia dsb dsb
Semua itu bisa dilakukan lewat perangkat media yang dimiliki RSUA antara lain Website, akun IG, Tiktok, Podcast, Temu Wicara dengan masyarakat; dan yang penting penampilan penyebaran good news from RSUA itu dilakukan cengan tampilan yang humanis, tidak kaku dan menarik. Kunjungan Direktur RSUA dan jajarannya ke Board of Director media seperti Kompas, Jawa Pos, Metro TV dst juga bisa menjadi media bagi RSUA.
Oh ya, sapaan setiap pagi direktur, wakil direktur RSUA kepada pasien dan karyawan RSUA juga bisa menjadi content penyebaran berita bagus dari RSUA kepada para audience.
Suatu saat saya berencana minta izin lagi direktur RSUA untuk share pengetahuan tentang 渟trategi komunikasi dan 渧alue added yang bisa ditawarkan kepada masyarakat dan berdiskusi dengan jajaran pimpinan RSUA.
Saya juga akan usul pada Bapak Ketua MWA Unair, Bapak Rektor dan Ketua Senat Akademik Unair agar kalau ada kunjungan dari Perguruan Tinggi lain (MWA dan jajaran Rektorat), dari tamu Luar Negeri dsb ke Unair direktur RSUA perlu dimasukkan sebagai salah satu undangan dalam pertemuan-pertemuan itu agar bisa memberikan penjelasan tentang pencapain-pencapai positif RSUA.
Terakhir, saya menyaksikan 渧ibe para jajaran pimpinan RSUA yang baru ini sangat bagus dan mereka memiliki komitmen tinggi untuk membangun RSUA. Hal ini merupakan sebuah modal yang sangat penting untuk meningkatkan moral dan solidaritas semua jajaran dalam pengabdian mereka di RSUA.
Bravo RSUA !!!





