n

51动漫

51动漫 Official Website

Rumah Sakit di Vietnam Tawarkan Kerjasama Dengan FK UNAIR

Asra Al Fauzi, M.D., Ph.D, FICS, IFAANS (dua dari kiri) menerima cinderamata dalam kunjungan yang dilakukan oleh tim RS di Vietnam (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Beberapa waktu lalu, Asra Al Fauzi, M.D., Ph.D, FICS, IFAANS dan dr Achmad Fahmi Ba檃bud SpBS dari Surabaya Neuroscience Institute (SNeI) Fakultas Kedokteran 51动漫-RSUD Dr. Soetomo Surabaya berkunjung ke sejumlah rumah sakit di Vietnam. Dalam lawatannya, Asra dan Fahmi menyaksikan perkembangan pelayanan kedokteran di negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia itu.

Rumah Sakit Viet Duc dan Rumah Sakit Francais de Hanoi di Vietnam menjadi salah satu lokasi kunjungan tim SNel selama beberapa hari. Dalam agenda lawatan itu, Asra maupun Fahmi banyak melakukan diskusi medis bahkan perbincangan mengenai wacana kerjasama 榤utualisme dengan sejumlah rumah sakit di sana.

Rencana kerjasama antara kedua belah pihak ini juga terbentuk atas ide dari rumah sakit terkait. Minimnya tenaga dokter bedah saraf, serta tingginya tuntutan rumah sakit untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, mendorong sejumlah rumah sakit di Vietnam segera melakukan kerjasama dengan FK UNAIR. Tentu, hal ini berbeda dengan apa yang sudah ditempuh oleh FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo.

淏anyak sekali problem kesehatan di Vietnam. Kami tidak punya dokter dengan spesialisasi tertentu, ujar dr Dai Ha Deputi Departemen Bedah Saraf RS Viet Duc kala itu.

Beberapa spesialisasi yang cukup 榣angka di Vietnam adalah bidang bedah saraf endovaskuler dan neurofungsional. Mengingat minimnya tenaga dokter spesialis di sana, maka dua kasus ini lebih sering ditangani oleh dokter bedah saraf biasa, seperti kasus parkinson dan gangguan pergerakan lain.

淵ang jelas, Vietnam sangat tertarik belajar ke Indonesia. Kami ingin mengirim dokter untuk belajar neurofungsional ke Indonesia,櫃 tambahnya.

Mereka belum mampu menggunakan deep brain stimulation (DBS) atau alat khusus yang ditanam di otak untuk mengurangi movement disorder. Hal ini berbeda dengan Indonesia yang sudah menjadi pionir dalam menangani kasus parkinson di tingkat Asia Tenggara.

Kerjasama 楳utualisme

Asra berharap, langkah kerja sama FK UNAIR dengan Vietnam dapat menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, terlebih lagi bagi Indonesia di masa mendatang. Diantaranya bidang pendidikan dan penelitian.

淏eberapa rumah sakit di Vietnam berencana akan mengadakan fellowship program dengan FK UNAIR. Ini menunjukkan bahwa kita mampu membawa nama Indonesia di kancah internasional. Sudah saatnya kita go international, katanya Asra ditemui UNAIR NEWS Senin (20/3).

Selain bertukar pengetahuan, FK UNAIR juga berkesempatan mengirim 榙okternya ke sana dan hadir sebagai visiting professor di berbagai rumah sakit di Vietnam.

淒alam proses transfer knowledge, kalau tidak bisa datang langsung maka kita bisa manfaatkan teknologi telekonfereni. Dalam jangka panjang, Vietnam menjadi pangsa pasar kita, ujar Asra.

Bahkan Asra menambahkan, tidak menutup kemungkinan pasien dari Vietnam dapat ditangani di Surabaya. Melalui kerjasama ini, dokter dari Indonesia juga dapat berkesempatan bekerja di Vietnam.

淟橦opital Francais de Hanoi menawari para dokter di Indonesia untuk bekerja di Vietnam. Tidak ada syarat harus bisa berbahasa lokal, ungkapnya.

Selain itu, bidang penelitian di Vietnam juga akan menjadi 榖idikan kerja sama. Sebut saja penelitian di bidang stem cell atau sel punca yang selama ini sudah sering dilakukan di 51动漫-RSUD dr Soetomo. Di Surabaya, antrean pasien layanan stem cell sudah mencapai tiga bulan dengan jumlah pasien empat orang per hari.

FK UNAIR sudah banyak bergerak melayani pasien stem cell. Sementara rumah sakit di Hanoi baru sebatas melakukan penelitiannya saja.

淜ami sangat kagum. Anda (FK UNAIR, -red) telah melakukan banyak hal. Kami tunggu risetnya untuk dipublikasikan,櫃 ujar Presiden Asosiasi Neurologi Hanoi sekaligus Kepala Departemen Neurologi RS Bach Mai Prof Le Van Thinh Ph.D.

Sementara itu, Lucien Blanchard General Manager RS Francais de Hanoi mengungkapkan, pihaknya akan terus berusaha menambah fasilitas. Saat ini dibangun gedung baru dengan tujuh lantai. Beberapa lahan di sekitar rumah sakit sudah tertutup seng. Bahkan diperkirakan dalam dua tahun ke depan pasca selesainya pembangunan, rumah sakit tersebut otomatis membutuhkan banyak dokter. 淪aya akan sangat membuka diri kalau dokter Indonesia mau bekerja di sini, tegas Blanchard.

Pasca pertemuan tersebut, tim dokter dari Indonesia akan diundang untuk menghadiri konferensi dokter bedah se-ASEAN di Hanoi pada akhir tahun mendatang. Dari situlah, kerja sama dan kolaborasi dunia medis antara Vietnam dan Indonesia akan dilanjutkan. (*)

Penulis : Sefya Hayu

Editor : Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT