51动漫

51动漫 Official Website

Rumor dan Resistensi Terhadap Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: karangasemkab)
Ilustrasi vaksin COVID-19 (Foto: karangasemkab)

Rumor dan misinformasi mengenai vaksin COVID-19 banyak beredar di platform media sosial, mulai dari informasi menyesatkan, hoax, teori konspirasi, hingga cerita berlebihan yang bercampur dengan beredarnya mitos budaya mengenai vaksin. Penelitian ini mengkaji isi postingan platform media sosial seperti Twitter, YouTube, Tik Tok, dan WhatsApp, serta bersumber dari berita portal online Indonesia lainnya dan situs media arus utama. Penelitian ini mengidentifikasi secara kuantitatif beberapa rumor, informasi menyesatkan, teori konspirasi, misinformasi, resistensi, dan penolakan terhadap isu-isu terkait vaksin COVID-19 pada bulan Maret hingga April 2021. Kami kemudian menggabungkannya dengan analisis narasi resistensi vaksin COVID-19 di Indonesia dan mitos budaya yang membuat masyarakat ragu atau apatis dalam mengikuti program vaksin nasional dari pemerintah Indonesia.

Berdasarkan analisis isi penelitian ini, kami mengkategorikan beberapa tema seperti pengembangan vaksin, ketersediaan, akses, morbiditas, mortalitas, ekses berbahaya, keamanan, dan kemanjuran, baik yang terkandung dan disajikan dalam narasi pendek, grafik visual, meme, dan kartun. Kajian ini menunjukkan bahwa rumor, cerita dan mitos yang menyesatkan tersebut dapat mengakibatkan resistensi dan keragu-raguan masyarakat Indonesia terhadap vaksin, apalagi sejak bulan Mei pemerintah Indonesia telah berhenti mendistribusikan vaksin AstraZeneca dan isu kontroversial mengenai ketersediaan ‘Vaksin Nusantara’ (istilah sebagai ‘Vaksin Nusantara’). Situasi ini dapat mempengaruhi sikap masyarakat untuk tidak percaya kepada pemerintah dan mengalihkan perhatian dengan misinformasi terhadap program vaksinasi. Selain itu, kami melihat keyakinan budaya dan keyakinan agama telah memperumit keraguan dan penolakan masyarakat terhadap vaksin COVID-19.

Vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan penyebaran virus yang semakin masif. Namun, kurangnya informasi akurat dan sumber terpercaya menyebabkan munculnya kelompok yang resisten terhadap vaksin. Sebagai bentuk komunikasi, masyarakat resisten vaksin menyuarakan pendapatnya melalui konten visual. Berbagai konten visual yang telah dianalisis sebelumnya menunjukkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi resistensi masyarakat Indonesia terhadap vaksin COVID-19 antara lain faktor budaya, faktor agama (halal-haram), dan perilaku apatis terhadap pemerintah.

Melalui penelitian ini, kami memperoleh data kuantitatif mengenai sebaran isu tematik yang beredar dan disebarkan di media sosial dan portal online. Permasalahan utama terkait program vaksinasi Covid-19 adalah dampak vaksin dan akses pemerintah untuk mendapatkan suntikan. Dari data kuantitatif tersebut terlihat bahwa rumor yang beredar disebabkan oleh kurangnya informasi dan penjelasan mengenai Covid-19 serta kurang terbuka atau transparannya pemerintah dalam menyebarkan informasi dan pesan yang jelas mengenai vaksin dan bagaimana desain pemerintah. dan skenario mengenai program vaksinasi bagi seluruh warga negara. Terlalu banyak informasi yang disembunyikan akan membuat masyarakat kurang memahami dan mempersepsikan negatif terhadap program vaksinasi. Akibatnya, informasi hoaks, berita bohong, dan rumor yang beredar di masyarakat kemudian beredar dan diyakini sebagai informasi yang benar, yang pada akhirnya menjadi suguhan program vaksinasi. Hal ini terlihat ketika para pengikut media sosial cenderung termakan rumor dan teori 渒onspirasi sehingga membuat mereka menolak untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi.

Dengan demikian, rumor dan teori 渒onspirasi yang menentang vaksin dapat dilawan oleh pemerintah dengan menyebarkan dan mengkomunikasikan informasi yang benar mengenai vaksinasi dan isu-isu terkait. Studi ini menunjukkan bahwa ketika sebagian besar masyarakat kurang mendapat informasi dan pengetahuan tentang vaksin, maka isu-isu lain seperti politik, anti-rasisme, dan isu-isu agama telah mengganggu dan mengalihkan perhatian terhadap keberhasilan program vaksin di Indonesia, dan hal ini mungkin juga berdampak pada keberhasilan program vaksin di Indonesia. di negara-negara lain di Asia Tenggara, yang juga perlu dicermati. Karena salah satu gambar yang ditemukan dalam penelitian ini beredar di media sosial, pengikut di Indonesia berasal dari produser kartun Malaysia, maka gerakan anti vaksin juga harus dilawan di negara lain di luar Indonesia.

By: Prof Rachmah Ida

Direct link:

AKSES CEPAT