n

51动漫

51动漫 Official Website

“Sadar Diri” Pilihat Tepat untuk Mata Sehat

PIMNAS
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

UNAIR NEWS – Berangkat dari kebutuhan suatu metode yang efektif dan efisien untuk membantu opthalmologist dalam mendiagnosis retinopati diabetik, tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Teknologi (PKM-T) 51动漫, menghasilkan suatu sistem deteksi otomatis diabetik retinopati yang diberi nama Sadar Diri (Smart Automated Detection Software for Diabetic Retinopathy).

Ialah Bestia Kumala (Ketua Tim), dengan anggota Debrina Rizka, Nurrahmah Wida, Nalindra Berliani dan Nitasya Ayu Alamanda Putri, kelima mahasiswa yang berhasil lolos pada laga PIMNAS 31 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dengan judul proposal 漇adar Diri (Smart Automated Detection Software For Diabetic Retinopathy) Berbasis Jaringan Saraf Tiruan di UPT Rumah Sakit Mata Masyarakat Jawa Timur.

Saat melakukan latihan presentasi pada Selasa (28/8), Bestia Kumala menjabarkan mekanisme kerja inovasi yang telah ia temukan dan tim. Menurutnya, mekanisme kerja piranti itu sangat sederhana, sehingga dapat menghemat waktu.

“Yaitu gambar retina yang ditangkap kamera fundus akan dihubungkan ke Personal Computer (PC) yang telah terinstal program, kata mahasiswa yang akrab disapa Bestia itu.

Selanjutnya, tambahnya, perangkat lunak akan melakukan beberapa proses pengolahan citra dan proses klasifikasi citra normal atau citra retinopati diabetik. Selain itu, program itu juga dapat mengklasifikasikan tingkat keparahan yaitu Nonproliferative Diabetic Retinopathy (NPDR) dan Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR).

“Perangkat lunak ini juga memiliki desain interface yang user friendly sehingga mudah untuk dioperasikan,” imbuhnya.

Teknologi perangkat lunak itu, imbuhnya, dapat digunakan sebagai screening cepat dan deteksi awal karena hasil diagnosis dapat langsung terlihat di layar PC/komputer. Padahal, kata Bestia, kebutaan akibat diabetik retinopati merupakan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai karena kebutaan akan menurunkan kualitas hidup dan produktivitas penderita, yang akhirnya bsia menimbulkan beban sosial masyarakat.

滵engan penerapan teknologi hasil inovasi ini kami berharap dapat digunakan sebagai second opinion dalam diagnosa penyakit retinopati diabetic, sehingga meningkatan kualitas pelayanan kesehatan, ungkapnya. “Sadar Diri, pilihat tepat untuk mata sehat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Nuri Hermawan dan Bambang Bes

AKSES CEPAT