UNAIR NEWS Seminar SAGAVET 2025 FKH 51动漫 sukses digelar di Diamond Ballroom, Hotel Swis Belinn, Surabaya, dengan mengusung tema 淯pdate Perkembangan Dunia Peternakan dan Kesehatan Hewan di Tengah Kebijakan Global dan Nasional. Acara ini menghadirkan pakar dari berbagai bidang peternakan dan kesehatan hewan, serta akademisi dan praktisi dari seluruh Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (27/09/2025) sejak pukul 07.30 hingga 16.00 WIB ini dikemas dalam presentasi ilmiah, diskusi panel, hingga sesi interaktif dengan kuis dan doorprize.
Teknologi Diagnostik Mata Hewan
Dalam salah satu sesi, Drh Lina Susanti MS PhD menyoroti perkembangan teknologi diagnostik di bidang oftalmologi hewan. Ia menjelaskan peran tapetum lucidum, lapisan di belakang retina yang memantulkan cahaya untuk memperkuat penglihatan malam hewan. Menurut Lina, refleksi cahaya pada tapetum sering kali tampak sangat cerah sehingga menyulitkan dokter dalam membedakan detail retina saat pemeriksaan menggunakan ophthalmoscope.
Lebih lanjut, Lina memperkenalkan teknologi Electroretinography (ERG) yang kini mulai masuk ke Indonesia. Alat ini mampu mengukur aktivitas listrik sel-sel retina sehingga dapat menilai fungsi retina lebih akurat daripada dengan sekadar pemeriksaan visual. 淏eberapa penyakit retina tidak selalu tampak secara anatomi, tetapi fungsinya sudah menurun drastis. ERG bisa membantu mendeteksi kondisi tersebut, jelasnya.
Tantangan Diagnosis Kasus SARDS
Salah satu penyakit yang banyak menjadi sorotan adalah Sudden Acquired Retinal Degeneration Syndrome (SARDS). Kondisi ini membuat hewan tampak normal pada awalnya, bahkan masih bisa berjalan seperti biasa, tetapi dalam waktu singkat mendadak kehilangan penglihatan hingga menabrak benda di sekitarnya. Tantangan utama SARDS adalah pemeriksaan ophthalmoscopy sering kali menunjukkan retina tampak normal, sehingga diagnosis dapat terlewat. Dengan ERG, dokter dapat membedakan SARDS dari penyakit lain yang menyerang saraf mata, seperti glaukoma dan optic neuritis.
Lina juga memaparkan beberapa kasus bilateral SARDS yang pernah ia tangani. Dari sejumlah pasien, hasil ERG menunjukkan variasi gelombang retina meskipun secara oftalmoskopi terlihat normal. Melalui perbandingan histologi, ia memperlihatkan perbedaan jelas antara retina normal dengan retina pasien SARDS, di mana sel-selnya tampak rusak, menipis, dan tidak lagi teratur.
Hingga kini, SARDS belum memiliki terapi yang efektif. Beberapa percobaan menggunakan obat, termasuk steroid, hanya memberi harapan terbatas. 淜alau diagnosis sudah terlambat, misalnya lebih dari satu bulan, kerusakan retina biasanya permanen dan sulit diselamatkan, tegas Lina.
Penulis : Saffana Raisa Rahmania
Editor : Ragil Kukuh Imanto





