51动漫

51动漫 Official Website

Satukan Budaya dan Regulasi, Dukung Difabel Berdikari

Alfian Andhika Yudistira saat bertugas sebagai seorang ASN (Foto: Istimewa)
Alfian Andhika Yudistira saat bertugas sebagai seorang ASN (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Alfian Andhika Yudistira namanya. Mahasiswa S2 Magister Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) 51动漫 (UNAIR) itu merupakan seorang difabel tunanetra. Alfian, sapaan akrabnya, turut menempuh pendidikan S1 di FISIP UNAIR, tepatnya di jurusan Antropologi.

Alfian lulus S1 di jurusan Antropologi pada tahun 2020 dan melanjutkan S2 di jurusan Kebijakan Publik pada tahun 2021. Selain menempuh kuliah S2, Alfian juga bekerja sebagai Analis Sosial Budaya Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.

Alfian berbagi pengalamannya terjun ke daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) di Indonesia. Ia pernah mengunjungi Pulau Rote, Kupang, Mentawai, dan Manggarai Timur.

淜alau di Pulau Rote itu fokus tim kami adalah meningkatkan kapasitas masyarakat dalam usaha perikanan. Kami berdiskusi dengan lembaga daerah setempat untuk budidaya perikanan yang dapat meningkatkan perekonomian daerah, cara mengolah ikan jadi makanan yang menarik untuk meningkatkan mutu UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Red) di Pulau Rote, tuturnya.

Alfian Pada Acara Sosialisasi Aplikasi C-Access PT KAI (Foto: Istimewa)

Sementara di Kupang, sambungnya, masyarakatnya bergantung pada hasil olahan daun kelor dan anyaman. Alfian dan timnya mendatangkan pelatih khusus untuk memberikan pelatihan menganyam kepada masyarakat Daerah Kupang.

淒i Manggarai Timur kami fokus ke peningkatan kapasitas guru dan di Mentawai untuk olahan pisang serta keladi. Kami bahkan mengirimkan alat untuk mengeringkan minyak dari olahan keripik pisang agar lebih cepat kering, sehingga masyarakat Mentawai tidak perlu mengeringkan keripik secara manual lagi, ucap Alfian.

Alfian juga membicarakan mengenai aksesibilitas di daerah-daerah 3T tempatnya dinas. Menurutnya, sulit untuk menuntut aksesibilitas di daerah-daerah semacam itu karena hal-hal dasar saja masih belum terpenuhi.

淜e Pulau Rote saja perlu naik kapal laut dan ombaknya ganas, sedangkan ke Mentawai harus naik pesawat yang isinya hanya 12 orang. Kalau menuntut aksesibilitas bagi teman-teman difabel ya agak sulit, makanya kita harus mandiri, paparnya.

Alfian mengaku merasa senang dengan pekerjaannya, kendati banyak tantangan yang perlu ia hadapi seperti aksesibilitas yang belum memadai. Pekerjaannya yang selinier dengan jurusannya saat kuliah dulu jugalah yang membuatnya betah menekuninya sehari-hari. Ia mengaplikasikan pemahamannya terhadap sosial budaya masyarakat dari Jurusan Antropologi saat terjun langsung untuk dinas di daerah 3T.

淎ntropologi hanya untuk teori-teorinya saja, sedangkan berkoordinasi dengan berbagai lembaga daerah itu butuh skill ilmu komunikasi. Jadi menggabungkan antara antropologi dan ilmu komunikasi untuk pekerjaan sebagai Analis Sosial Budaya, ungkapnya.

Pekerjaannya jugalah yang membuatnya memutuskan untuk mengambil jurusan magister kebijakan publik. Ia merasa banyak kebutuhan teman-teman difabel yang belum terakomodasi karena terbentur regulasi. Misalnya, menurut undang-undang difabel, pemerintah dan perusahaan wajib memberikan kuota, sebesar 2% bagi calon pekerja yang merupakan difabel.

Akan tetapi, tidak ada difabel yang mendaftar karena rata-rata pendidikan mereka pun masih kurang memadai dan kurang sesuai dengan spesifikasi perusahaan. 淒ari kasus tersebut, analisis sosial budayanya juga diperlukan, kemudian kita harus menyiasati regulasi atau kebijakannya. Jadi, setelah S1 saya belajar sosial budayanya, di S2 ini saya mau mempelajari regulasinya, tuturnya.

Aksesibilitas bagi para difabel merupakan isu yang kerap digaungkan. Bahkan, banyak kampus yang melabeli diri sebagai kampus ramah difabel. Namun, seringkali aksesibilitas fisik ini tidak dibarengi dengan aksesibilitas non fisik, utamanya pada pemberdayaan sumber daya manusianya untuk lebih memahami isu-isu inklusivitas.

Hal inilah yang juga dirasakan oleh Alfian. Menurutnya, aksesibilitas tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang saklek. Ia lebih mementingkan aksesibilitas dalam bentuk non fisik, misalnya peningkatan awareness. Awareness itu kepedulian kepada sekitar. Kalau membahas aksesibilitas fisik akan selalu ada kekurangan. Percuma juga membangun aksesibilitas fisik ketika awareness-nya tidak dibangun, papar Alfian.

淢isalnya, ada difabel yang mau naik lift dari lantai empat tapi liftnya mati. Orang-orang sekitarnya tidak punya awareness. Berarti kan tidak ada orang yang mau bantu teman difabel itu untuk turun lewat tangga, lanjutnya.

Alfian bersyukur dapat berkuliah di UNAIR, karena ia merasa aksesibilitas di UNAIR, baik secara fisik maupun nonfisik telah mengakomodasi kebutuhan bagi para difabel. Saat ini, banyak kampus yang melabeli diri mereka sebagai kampus ramah difabel, tetapi masih ada bullying dan stigma terhadap difabel.

淯NAIR tidak pernah mengusung label ramah difabel. UNAIR bahkan tidak punya seleksi masuk khusus difabel. Tapi, di sini tidak ada bullying dan dosen-dosen juga sudah paham dengan pendidikan inklusi, terangnya.

Seleksi masuk khusus difabel, menurut Alfian, justru merupakan bentuk dari mendiskreditkan kemampuan teman-teman difabel. UNAIR tidak seperti kampus-kampus lain yang berlomba-lomba memberikan afirmasi dalam hal kampus paling ramah difabel.

淜alau ada teman difabel yang menjawab bisa keterima kampus karena jalur khusus difabel, menurut saya itu sama saja dengan mendiskreditkan kemampuan kita. Memang ada hal yang sebenarnya dilematis untuk diterapkan di lingkungan, kata Alfian.

Alfian terkesan dengan lingkungan UNAIR yang memperbolehkan para difabel untuk mengikuti perkuliahan layaknya mahasiswa lain pada umumnya, termasuk mengikuti kuliah lapangan dan mengerjakan tugas-tugas dari dosen. Ini juga merupakan salah satu bentuk awareness yang ia inginkan.

淜alau dikasih tugas sama dosen ya sama saja dengan teman-teman lain, hanya beda di cara pengumpulannya. Misalnya, yang lain tulis tangan, sedangkan saya dikirim ke e-mail, imbuhnya.

Digitalisasi layanan perkuliahan bagi para difabel juga penting untuk diterapkan sebab para difabel akan sangat bergantung dengan kecanggihan teknologi yang ada dalam rangka menunjang kegiatan belajar mengajar. Alfian sendiri mengaku sebagai seorang tunanetra harus mempelajari teknologi dengan lebih giat, karena tanpa teknologi ia akan kesulitan mengerjakan tugas-tugas kuliah.

淪elama ini saya kalau ada tugas atau ujian harus deal-deal-an dulu sama departemen atau dosennya karena belum ada aturan pakemnya. Baru ada aturan soal difabel ini kan di ujian ELPT (English Language Proficiency Test, Red), ucap Alfian.

Alfian berharap ke depannya UNAIR memiliki aturan perkuliahan bagi mahasiswa difabel, misalnya peraturan yang mewajibkan dosen untuk memberikan materi kuliah kepada mahasiswa difabel. Ia juga berharap agar digitalisasi semakin marak diterapkan di UNAIR sehingga civitas academica UNAIR yang merupakan para difabel dapat mandiri dan berdikari dibantu teknologi tersebut.

淭eman-teman difabel kalau tidak mandiri ya susah. Kalau tidak ada yang menolong kan kita harus memaksakan diri sendiri. Kita juga harus punya konsistensi dan komitmen apa yang harus kita lakukan, apa yang mau kita lakukan, goal-nya apa. Teman-teman difabel harus mau membuka diri, bergaul, ngomong kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, jangan sungkan. Pemahaman teknologinya juga harus pintar, minimal harus mau belajar, jelas Alfian.

Menurutnya, kebijakan yang baik bagi para difabel adalah kebijakan yang membuat para difabel menjadi mandiri dan berdaya. Kebijakan yang diterapkan tidak boleh membuat teman-teman difabel menjadi ketergantungan yang akhirnya dapat diperdaya orang lain. Alfian turut menyampaikan harapan agar kedepannya semakin banyak dosen dan tenaga kependidikan di UNAIR yang merupakan para difabel.

淪emoga UNAIR semakin inklusif dan tidak berubah sudut pandangnya dalam memandang isu inklusivitas, tidak mempunyai kepentingan tertentu, semakin fokus pada peningkatan mutu pendidikan, sehingga teman-teman yang lulus dari UNAIR itu tidak hanya punya gelar, tetapi juga dapat menggelar sesuatu, pungkas Alfian.

Penulis: Dewi Yugi Arti

Editor: Feri Fenoria

AKSES CEPAT