51

51 Official Website

Sebuah Kasus Langka Sifilis Sekunder yang Menyerupai Eritema Multiforma pada Pasien HIV

Sifilis sekunder sering dikenal sebagai The Great Imitator karena penyakit ini dapat menyerupai berbagai macam penyakit kulit, baik secara klinis maupun histopatologis, termasuk eritema multiforme. Prevalensi sifilis di dunia masih cukup tinggi, terutama pada kelompok populasi kunci, seperti lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL). Populasi kunci juga menjadi kofaktor penting dalam transmisi infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Koinfeksi HIV sering menyebabkan manifestasi klinis sifilis menjadi tidak khas yang menyebabkan tertundanya diagnosis dan terapi. Eritema multiforme merupakan penyakit pada kulit atau mukosa yang ditandai dengan adanya lesi target, seringkali dipicu oleh infeksi (90% kasus) dan obat-obatan (10% kasus). Infeksi yang sering yaitu infeksi virus herpes simplek (HSV-1 dan HSV-2), namun dapat juga terkait infeksi yang lain.

Kami melaporkan sebuah kasus seorang LSL berusia 34 tahun dengan sifilis koinfeksi HIV yang menyerupai eritema multiforme secara klinis maupun histopatologis. Keluhan awal berupa bercak merah menyerupai lesi target yang terasa sedikit gatal pada tungkai bawah yang kemudian menyebar ke tangan, dada, dan punggung sejak 6 minggu sebelum pasien berobat ke rumah sakit. Pasien baru melakukan vaksinasi virus korona sekitar 1 minggu sebelum keluhan tersebut muncul, sehingga dugaan awal mengarah kepada eritema multiforme yang disebabkan karena vaksinasi virus korona. Hasil pemeriksaan histopatologi pada bercak sesuai dengan eritema multiforme, namun pasien tidak membaik dengan terapi yang diberikan dan bercak merah meluas pada telapak tangan dan telapak kaki, sehingga dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan serologis HSV (IgM dan IgG HSV-1 dan HSV-2) nonreaktif, serologis sifilis reaktif (VDRL 1:128, TPHA 1:40960), dan serologis HIV reaktif (CD4+ 461 sel/µL). Pemeriksaan darah tepi pasien menunjukkan trombosit yang rendah (46.000/µL). Pemeriksaan dark field microscope yang diambil dari bercak pada telapak tangan menunjukkan hasil negatif. Pemeriksaan PCR dan imunohistokimia tidak dilakukan karena ketidaktersediaan reagen di rumah sakit. Pasien selanjutnya didiagnosis sebagai sifilis sekunder disertai dengan infeksi HIV dan diberikan terapi injeksi Benzathine Penicillin 1,2 juta IU dan antiretrovirus (ARV).

Pasien mengalami perbaikan yang signifikan setelah terapi. Bercak merah pada tubuh pasien sebagian besar menghilang dan sebagian berubah menjadi kehitaman. Evaluasi laboratorium untuk serologis sifilis 1 bulan setelah terapi menunjukkan penurunan lebih dari 4 kali lipat, yaitu VDRL turun menjadi 1:4 dan TPHA turun menjadi 1:640. Evaluasi 6 bulan setelah terapi menunjukkan penurunan kembali menjadi VDRL 1:1 dan TPHA 1:320.

Kasus ini menunjukkan tampilan klinis sifilis sekunder yang sangat bervariasi. Tampilan sifilis sekunder yang menyerupai eritema multiforme cukup jarang ditemukan. Adanya koinfeksi HIV dapat menyebabkan tampilan klinis sifilis menjadi tidak khas. Klinisi perlu mewaspadai apabila menemukan kasus pasien dengan bercak merah yang menyerupai lesi target, sifilis sekunder perlu dipikirkan sebagai salah satu diagnosis bandingnya, terutama pada pasien dengan faktor risiko. Pemberian terapi injeksi benzathine penicillin 2,4 juta IU cukup untuk mencapai kesembuhan serologis pada sifilis sekunder, ditandai dengan penurunan titer serologis lebih atau sama dengan 4 kali lipat pada evaluasi 6 bulan setelah terapi. Diagnosis yang tepat dapat mengarahkan kepada manajemen terapi yang sesuai untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Penulis : dr. Linda Astari,Sp.DVE,Subsp.DT

Informasi lengkap dari artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

Unusual presentation of secondary syphilis mimicking erythema multiforme in HIV positive patient: a case report

Amira Suryani Rahmatika, Dwi Murtiastutik, Afif Nurul Hidayati, Astindari, Maylita Sari, Septiana Widyantari, Linda Astari

AKSES CEPAT